Belajar tentang Keikhlasan


Keikhlasan terkadang teruji dari apa yang kita lisankan. Saat berniat benar, beramal secara benar, namun seringkali kita lisankan di hadapan orang lain, terselip keinginan terhadap pujian, sanjungan dan komentar baik. Apalagi sekarang ada media sosial yang dengan mudah menjadi sarana kita untuk menceritakan.

Sungguh, teramat mudah hati manusia terhadap riya’ dan tasmi’. Padahal amal tanpa keikhlasan hanya laksana buih yang tersapu ombak, bagai debu-debu halus yang diterbangkan angin. Sia-sia. Sementara keikhlasan adalah kunci diterimanya amal oleh Allah ta’ala. Harusnya kita belajar malu untuk menceritakan amalan kita, harusnya kita memulai menahan diri untuk tidak menuliskan apa yang sudah kita kerjakan.

ikhlas-sembunyi-amalan-baik-sebagaimana-amalan-buruk

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada suatu peperangan. Pada saat itu jumlah kami ada enam orang. Di antara kami hanya ada satu unta yang dinaiki secara bergantian, hingga telapak kaki kami menjadi tipis dan pecah-pecah; begitu pula dengan telapak kakiku, bahkan kuku-kuku kakiku pun terkelupas. Pada saat itu kami membalut kaki kami. Abu musa menceritakan hal ini, kemudian ia tidak menyukainya. Ia berkata, ‘Kami berbuat bukan untuk diceritakan’. Seolah-olah Abu Musa tidak suka sedikitpun amalnya disebar-luaskan” [HR. Bukhari]

Kita patut belajar dari seseorang di masa Rasulullah saw. yang begitu menjaga keikhlasannya, menahan diri dari menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.

Suatu hari Umar bin Al-Khattab lewat di depan seorang laki-laki yang sedang makan dengan tangan kirinya. Saat itu Umar berdiri menghadap para sahabat yang sedang makan. Kemudian Umar berkata pada laki-laki itu, “Wahai Hamba Allah, makanlah dengan tangan kananmu!”

“Tangan kananku sibuk”, jawab laki-laki itu. Kemudian Umar menghampiri dua hingga tiga kali, namun ia tetap sibuk makan dengan tangan kirinya dan berkata seperti tadi.

“Sibuk dengan apa?”, Umar kembali bertanya pada laki-laki tersebut.

“Tangan kananku terputus pada perang Mu’tah,” jelas laki-laki tersebut dengan singkat. Dia pada akhirnya mau mengaku pada Umar karena terus menerus didesak dengan pertanyaannya.

Mendengar jawaban dari laki-laki tersebut Umar terkejut, kemudian bertanya lagi, “Lalu siapa yang mencuci pakaianmu? Siapa yang meminyaki rambutmu? Siapa yang melayanimu?” Bersamaan dengan itu, Umar menyiapkan kebutuhannya. Umar memerintahkan agar ia diberi seorang budak, satu tunggangan beserta makanan dan nafkahnya.

Mereka yang pernah hidup di lingkungan yang mengenal baik Rasulullah saja bisa belajar menahan diri untuk menceritakan kebaikannya, padahal mereka dari sisi amal baik barangkali tidak terhitung jumlahnya, dari sisi pengorbanan tidak ternilai besarnya, dari sisi tenaga tak tagging-tanggung yang dikerahkannya. Lantas bagaiman kita yang begitu kecil ini, begitu jauh dari kata berkorban, begitu jauh dari kata sempurna dan hati-hati kemudian begitu berani menceritakan apa yang sudah kita kerjakan?

 

Apakah kita sudah bisa menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kita sudah teramat banyak hingga kita terlampau berani untuk menceritakannya?

Atau juga kita bisa menjamin bahwa hati kita tulus ikhlas dalam beramal untukNya?

Ataukah kita juga bisa menjamin bahwa segala yang kita lisankan, pun yang kita tuliskan itu bukan menjadi bagian dari riya’ dan tasmi’ kita?

Marilah berpikir sejenak, tak apa jika benar demikian, karena itu tandanya kita sadar terhadap kesalahan. Selama masih ada waktu untuk berbenah, maka semangat untuk berbenah. Semoga Allah mencatat niat baik kita untuk berubah, dan menempatkan amalan kita di dalam buku catatan terbaik kita yang akan kita terima dengan tangan kanan kita masing-masing.

Surabaya, 29 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s