Rumus Kecocokan dalam Dunia Taaruf


“Hmm.. saya bingung gimana bilangnya. Sepertinya saat saya bertemu tidak ada getaran yang saya rasakan. Semacam tidak ada feeling,” tulis seorang ikhwan melalui pesan singkat.

Well, mungkin ini bukan yang pertama kalinya saya menemukan kasus seperti ini dalam dunia pertaarufan. Barangkali sudah tiga hingga empat kali menemui kasus yang sama, namun dengan cara penyampaian yang berbeda. Ada yang langsung kabur, ada yang bilang “saya merasa tidak pantas dengan Anda’, dan semacam yang saya sebutkan di atas. Bahkan yang lebih parah adalah orang tua dijadikan kambing hitam. Semuanya gara-gara ketidakcocokan yang berakhir pada tidak lanjutnya proses taarufan atau terhambatnya proses perkenalan.


cats-love-bitmap-graphics-suitable-design-cards-books-other-decoration-31193371

Klise sekali, ya? Namun begitu kenyataannya jika seorang laki-laki (atau seorang perempuan) sudah tidak cocok secara fisik dengan lawan jenisnya. Tidak bisa dipaksakan atau tidak bisa dicocok-cocokkan. Jika dalam istilah perlebahan barangkali hormone pheromone (penarik lebah jantan) pada lebah betina kurang ditangkap oleh si lebah jantan, sehingga tidak ada chemistry tersendiri yang menyebabkan terwujudnya perkawinan pada dua lebah dengan jenis kelamin berbeda.

Rumus Kecocokan dalam Pertaarufan

Tidak ada rumus paten dalam hal cocok dan tidak cocoknya dua orang manusia yang sedang menjalani proses taaruf. Banyak yang cocok dengan sekali bertemu karena penampilan fisiknya yang (well, sedikit) lumayan. Mungkin lumayan untuk diajak kondangan. Hehehe.. atau barangkali ada yang cocok secara hobi dan latar belakang, atau ada juga yang cocok dari sisi keturunan dan kekayaan yang dimiliki. Abu Hurayrah ra. pernah menuturkan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda:

“ Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” [Muttafaq ‘alaih]

Rasulullah pun pernah sabdakan bahwa kecocokan orang hingga menjadi faktor keberlangsungan menikah ada empat hal: harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Ini indikasikan bahwa faktor-faktor di atas memanglah diperbolehkan untuk dijadikan pertimbangan ketika akan meminang seseorang. Namun begitu adilnya Islam hingga menjadikan agama sebagai penutup atas hadist di atas. Kecantikan, harta, dan keturunan barangkali menjadi sifat bawaan atau menjadi qada’ (takdir) bagi beberapa orang yang sayangnya tidak semua orang bisa menikmati kesemuanya atau tidak dianugrahi dengan kesemuanya. Sementara faktor agama adalah faktor paling ideal versi Allah dan RasulNya, yang mana tidak semua orang mau mengupayakannya, memperbaikinya, dan menyempurnakannya. Hanya orang-orang beriman saja yang akan senantiasa memperhatikan agamanya. Dengan kata lain, hanya beberapa orang saja yang senantiasa memperbarui tingkat ketaqwaannya pada Allah azza wa jalla. Inilah yang menjadikan faktor agama faktor special dibandingkan faktor lainnya.

Kecocokan memang bisa datang dari mana saja tanpa bisa diduga, namun memutuskan untuk nge-cut proses pertaarufan dengan alasan fisik dan karena faktor “at glance” saja, atau faktor sekilas yang tampak saja, merupakan bukan satu hal yang ma’ruf.

“Kalau tidak cocok dengan wajahnya gimana?”

Gampang saja, perhatikan faktor lainnya!

Kecenderungan pada lawan jenis bisa datang dari mana saja. Dari status facebook saja seseorang bisa jatuh cinta (padahal belum bertemu dengan orangnya), apalagi membangun chemistry –yang katanya belum ada saat ketemu-, pasti itu jauh lebih mudah. Bagaimana caranya?

Mudah saja. Bangun komunikasi yang baik dan sehat. Komunikasikan visi dan misi pernikahan, harapan terhadap istri/suami, keluarga dan lain sebagainya. Simpati akan muncul dari percakapan, kecocokan akan datang dari nyambungnya komunikasi, bukan sekedar dari penampakan sekilas atau bahkan dari datangnya getaran saat melihat calonnya.

Jika percakapan makin lama makin tak nyambung putuskan untuk lanjut atau cut. Saya pikir itu lebih ahsan daripada harus secara tidak sportif langsung menolak dan memutus proses perkenalan/pertaarufan di awal sebelum ada diskusi.

Semoga tulisan ini mudah dipahami, dan semoga saudara-saudara saya tidak terjebak pada kemunculan getaran saat memasuki proses taarufan. Ingatlah, kecocokan itu bukan harga mutlak yang kedatangannya mutlak dari munculnya getaran di dada. Getaran di dada itu bisa jadi karena adanya penyakit jantung atau karena kelaparan. Ehehehe…

Sekian, jazakumullah khoiron katsir

Surabaya, 26 Mei 2015

2 thoughts on “Rumus Kecocokan dalam Dunia Taaruf

  1. Ingatlah, kecocokan itu bukan harga mutlak yang kedatangannya mutlak dari munculnya getaran di dada. Getaran di dada itu bisa jadi karena adanya penyakit jantung atau karena kelaparan.

    Nice quote mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s