Kesibukan Baru, Fokus Baru


Awal Februari yang panas sedikit membuat semangat saya agaknya sedikit mengalami peningkatan “suhu”. Bosan dengan ketidak-produktifan, saya mulai menyusun kegiatan yang sekiranya bisa dilakukan di kampung kecil ini, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan dengan kehidupan yang cukup sederhana.

Sebutlah namanya Panggul. Salah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daerah yang tidak seberapa mahsyur ini memiliki tempat wisata yang cukup diperhitungkan oleh para traveler pecinta eksotisme bahari. Dua tahun yang lalu, akses menuju dan dari kecamatan tersebut teramat susah akibat termakan usia dan sedang dalam proses renovasi. Untuk mencapainya, siapapun harus rela menempuh perjalanan sepanjang 53 Km dari pusat kabupaten Trenggalek dengan medan yang naik turun dan berkelok-kelok. Namun, menginjak akhir tahun 2014, pembangunan jalan (yang termasuk dalam kawasan jalur lintas selatan ini) sudah mendekati selesai. Dan itu artinya, akses jalan sudah lebih mudah (bahkan teramat mudah) karena jalan yang halus dan sudah semakin lebar. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan jalanan berkelok-kelok, hati-hati saja, barangkali akan sangat mudah mengalami mabuk darat.

Kecamatan kecil ini sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat saya masih seusia SMP. Dulu, pakaian mini sangat jarang terlihat di kampung halaman saya, namun seiring berjalannya waktu dan pergeseran gaya hidup, pakaian-pakaian mini sudah seperti kacang goring. Laris manis, banyak peminatnya, banyak pemakainya. Tidak hanya itu, “prestasi” kampung saya pun merambah dalam ranah degradasi moral. Pergaulan bebas sudah semakin biasa, anak laki-laki dan perempuan boncengan sudah banyak bersliweran, anak SD sudah tidak malu lagi untuk berpacaran, orang tua pun tak jarang membolehkan dan menganggap mereka yang tak pacaran itu tergolong ABG-ABG yang ketinggalan jaman. Luar biasa prestasinya kampung saya.

Melihat semua itu, saya dan teman saya mulai berpikir keras untuk sedikit memperbaikinya. Meskipun kami bingung dari mana awalnya dan entah sampai seberhasil apa usaha yang akan kami lakukan, kami tetap berpikir bahwa “Setidaknya do something lebih baik dari pada tidak melakukan apapun! Untuk apa kita kuliah jauh-jauh jika sepulangnya kita tidak berguna untuk orang lain?”. Dan akhirnya, saya beserta teman saya menggagas taman baca.

First step di bulan Februari ini kami mencoba mengontak beberapa teman seangkatan yang masih memiliki buku. Berhasil! Dalam waktu dua minggu kami bisa mengumpulkan sekitar 30-an buku. Alhamdulillah, salah satu guru SD kesayangan saya menyumbangkan buku yang cukup banyak hingga akhirnya buku yang terkumpul mencapai setidaknya 60-an. Usaha mengontak teman-teman ini masih kami lakukan sekalipun buku sudah sedikit terkumpul, dan berkat pertolongan Allah, semakin hari semakin banyak yang menghubungi kami untuk menyumbangkan bukunya.

Second step, kami mencoba melakukan silaturahmi pada perangkat desa setempat untuk mendapatkan ijin dan memperlebar jaringan taman baca.

Surprisingly, salah satu perangkat desa merekomendasikan kami untuk menemui langsung kepala desa. Hei, waktu itu kami masih belum proposal. Kita hanya punya konsep dalam kepala, namun tak punya banyak waktu untuk menuliskannya. Hehe, but thanks to Allah, semua jalan dipermudah.

Well, keesokan harinya kami menemui kepala desa kami. Kami disambut dengan antusias oleh beliau dan mendapat tempat khusus di balai desa beserta buku-bukunya. Subhanllah, lagi-lagi niat kami, doa kami semua dijawab Allah dengan begitu cepat.

906
Kawan, jika dari kalian ada yang berminat membuat taman baca, step di atas bisa dicoba. Sekalipun bukan rumus paten, namun boleh sedikit dicoba.

Dengan kesibukan saya di atas, saya semakin menikmati berada di kampung halaman saya. Berjuang (well, saya tidak tahu kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan sedikit usaha saya dan teman saya) di kampung halaman saya mulai menjadi satu hal yang seksi bagi saya. Menjadi lebih akrab dengan partner (yang sekarang menjadi sahabat bahkan saudara bagi saya) dan belajar bermasyarakat di sana. Ini sungguh menyenangkan. Dan dengan kesibukan yang semakin menggunung, saya menjadi orang yang semakin lupa memikirkan pernikahan. Terlebih di usia saya yang menurut kebanyakan orang sudah matang untuk berkeluarga.

Hidup itu pilihan. Di tengah kebanyakan teman saya menikmati pekerjaannya seusai kuliah, saya memilih untuk kembali ke kampung halaman. Bukan untuk menjadi orang yang sok pahlawan, namun saya sadar diri bahwa ilmu yang saya dapatkan selama 4 tahun kuliah akan senantiasa Allah pertanyakan. Untuk apa dan siapa ilmu itu saya dedikasikan, dan sejauh mana saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki kondisi kampung saya yang semakin lama semakin tidak karuan ini. Ketika saya memikirkan hal itu, saya semakin larut dengan kesibukan saya, semakin fokus dengan kesibukan saya tanpa berpikir panjang kapan saya akan bertemu dengan belahan hati saya. Right, Allah knows it better than me. Dan bagi saya itu sudah cukup. Mumpung saya belum berkeluarga, saya ingin “menghibahkan” diri saya pada masyarakat. Bagi saya, di saat itulah waktu yang paling tepat untuk itu.

Thanks to Antiq, sahabat dan saudara yang begitu sabar menemani menjalani hari-hari berat di kampung halaman. Semoga Allah berikan kebaikan sepanjang hidupmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s