Ibu Rumah Tangga; Unit Pertama Pembentuk Baik dan Buruknya Masyarakat –Sebuah Pengantar


Setelah wanita dinikahi oleh seseorang, mau tidak mau, terpaksa atau sukarela, menerima konsekuensi peralihan fungsi dari seorang single-yang biasa hidupnya tidak banyak diatur dan bebas mengatur diri sendiri- menjadi manager rumah tangga, yang tugas utamanya adalah mengatur segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Urusan rumah tangga tidak sekedar urusan dirinya sendiri, namun lebih jauh tentang bagaimana mengatur keuangan keluarga, suami, sanitasi rumah, kesehatan rumah dan lain sebagainya.

Apakah hal tersebut berlebihan? Iya, bisa jadi bagi sebagian besar orang fungsi itu berlebihan. Akan tetapi, fungsi pengaturan rumah tangga memang luas adanya. Seorang wanita yang sudah bersuami tidak sebatas memilik tiga fungsi M, yakni memasak, mempercantik diri, dan melahirkan (meminjam istilahnya orang Jawa, 3M itu kepanjangan dari Masak, Macak, Manak), tetapi lebih dari itu. Seorang kolumnis asal Los Angeles, Eric L. Wattree, menuturkan bahwa “A stay-at-home mother and housewife is a sociologist, a psychologist, a medic, a financial planner, a teacher, an interior decorator, a chef, a chauffeur, an escort, and a lover, all balled up into one sweet bundle”.[1]

 branch_5-wallpaper-1680x105

Seorang ibu rumah tangga tidak sekedar mengerjakan urusan-urusan dalam rumah tangga, namun menurutnya seorang ibu rumah tangga merupakan pakar dalam beberapa bidang, yakni ahli sosiologi, psikologi, pengobatan, perencana keuangan, pendidik, ahli design ruangan, juru masak, dll. Bahkan sekarang di Amerika sudah banyak aktivis feminis yang kembali menjalani fitrahnya, melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam membangun keluarga-yang merupakan pondasi pertama dalam suatu bangsa. Seperti dikutip dari Dailymail, persentase ibu rumah tangga meningkat antara tahun 2010-2011 dan angka terbanyak adalah wanita yang berusia 25 – 35 tahun[2].

Kelly Makino (33 tahun)[3] misalnya. Dia berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh karena dia menganggap bahwa wanita lebih baik dalam hal mengurus rumah dibandingkan dengan pria. Ibu dua anak ini menjelaskan pada majalah New York, “The feminist revolution started in the workplace, and now it’s happening at home!”  Revolusi seorang feminis berawal dari dunia kerjanya, dan revolusi seorang ibu rumah tangga terjadi di rumahnya.  

Ibu rumah tangga adalah pendidik utama dan pratama untuk generasi berikutnya. Baik dan buruknya kualitas generasi di masa depan sedikit banyak dipengaruhi oleh peran ibu rumah tangga ini. Dalam lingkup yang lebih luas, peran baiknya seorang ibu rumah tangga menjadi indikator bagi terbentuknya masyarakat yang baik, lebih jauh lagi akan menjadi cikal bakal terbentuknya negara yang baik pula.

Sebelum memiliki anak, seorang wanita yang sudah berumah tangga bertanggung jawab terhadap kesehatan ia dan keluarganya, keharmonisan rumah tangga, dan bagaimana memastikan bahwa lingkungan tempat ia akan membesarkan anaknya kelak merupakan lingkungan yang cukup kondusif. Setelah menjadi ibu, wanita bertambah tanggung jawabnya dalam menjaga buah hatinya, memastikan kondisi kesehatannya, mengenalkan Tuhan kepadanya, mengajarkan nilai-nilai agama pada mereka, pun membantu mereka menyelesaikan persoalannya. Kesemuanya ini bukan hal yang mudah dilakukan oleh seorang wanita.

Seorang ibu tidak bisa dipungkiri menjadi orang pertama yang akan mengajarkan banyak hal pada buah hatinya. Mereka menanamkan dasar-dasar kepribadian bagi anak-anak mereka, akhlak terpuji dan beberapa norma agama yang itu menjadi pondasi penting dalam pembentukan karakter anak di masa yang akan datang. Ibu ibarat madrasatun al ula (pendidikan awal) yang menancapkan keimanan bagi anak-anaknya, sementara ayah menjadi partner ibu dalam mengajarkan logika berpikir anak-anaknya. Ini sedikit tanggung jawab yang dipikul seorang wanita (ibu khususnya). Sehingga sangat kecil kemungkinan seorang wanita bisa fokus dalam beberapa hal sekaligus, yakni dalam keluarga dan pekerjaan. Ketika ia harus mengurus masalah pekerjaan, maka ia harus mengorbankan keluarga. Ketika ia mengurus keluarga, ia harus mengorbankan urusan pekerjaannya. Mungkin hal ini sulit diterima oleh sebagian kalangan, tapi haqqul yaqin, keduanya jika dijalankan hasilnya tidak akan optimal.  

Ustadz Felix Siauw pernah berpesan, “seorang perempuan itu tulang rusuk, bukan tulang punggung, maka jangan “paksa” mereka untuk bekerja karena itu bukan tugas mereka!”

Keluarga adalah permata. Mereka sumber kebahagiaan utama seseorang di saat semua orang di luar sana mencela. Mereka jua sumber semangat di saat semua orang mulai menghujat. Maka berbuat baik kepada keluarga adalah kunci utama, menunaikan kewajiban pada mereka adalah hal mulia, bukan hanya untuk mereka,  tetapi untuk kebahagiaan hari ini dan esoknya, untuk persembahan kita saat menghadap padaNya.

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409)

Maka tak heran jika di balik anak-anak yang hebat, ada ibu yang jauh lebih hebat dibaliknya, karena ibu lah faktor penentunya, ayah pemimpinnya.


[1] Eric L. Wattree adalah seorang penulis, pengarang puisi, musisi, dan seorang kolumnis di berbagai majalah.

[3] Seorang Masters of Social Work dari Universitas Pensilvania.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s