Saya Ibu Rumah Tangga


Beberapa bertanya pada saya soal pekerjaan, terlebih setelah menikah. Menyandang gelar sarjana ternyata bukanlah satu urusan sederhana di lingkungan masyarakat, di dalamnya menjadikan saya memiliki tanggung jawab moral untuk bermanfaat pada masyarakat, pun ternyata juga seolah-olah menuntut saya untuk bekerja dan menghasilkan pundi-pundi uang yang saat ini menjadi tolok ukur keberhasilan. Yeah, setidaknya keberhasilan atas pendidikan saya dan keberhasilan orang tua saya dalam menguliahkan saya. But, I proudly say that I am a housewife and I desire to be a –stay at home- mother. Saya tetap bangga menyebut diri saya sebagai ibu rumah tangga.

“Sarjana kok jadi Ibu rumah tangga?”, celetuk mereka. Beberapa ada yang mengatakan bahwa sayang jika sudah capek kuliah tinggi-tinggi jika setelahnya tidak diaplikasikan dalam dunia kerja.

Suami tak jauh berbeda. Teman-teman kerjanya tak jarang menanyakan perihal kesibukan saya setelah menikah. Rata-rata mereka menyayangkan pilihan saya (dan suami saya) yang memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga. Bahkan, ada sebagian yang beranggapan bahwa suami saya mengekang kegiatan saya. Hmm… anggapan ini terlalu ekstrim menurut saya. Mengekang itu sama halnya membatasi ruang gerak, sementara saya tidak merasa sekalipun suami membatasi ruang gerak saya. Sebaliknya suami melindungi saya dengan caranya, yaitu dengan banyak melakukan aktivitas penting di rumah, dan keluar rumah jika benar-benar dalam kepentingan mendesak. Dengan seperti itu, dia akan merasa tenang saat bekerja tanpa pikiran satu apapun, tanpa harus dihantui dengan perasaan khawatir yang berlebihan. Kewajiban suami menjaga istri tetap berjalan sekalipun ia sedang melaksanakan kewajibannya yang lain. Bukankah begitu? Dengan demikian, saya merasa terjaga, ia pun merasa tidak pernah meninggalkan kewajibannya dalam menjaga istrinya. That’s fair!

Hidup ini pilihan, kawan. Kita selalu memiliki alasan atas pilihan kita. Dan dari sini, melalui ini, saya secara pribadi ingin memberi penjelasan mengapa mengambil pilihan menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengapa saya harus mengampil opsi ini di antara opsi yang lain. Barangakali ini juga cukup mewakili jutaan wanita yang memilih sebagai ibu rumah tangga dan meninggalkan dunia kerjanya untuk mengabdikan dirinya pada keluarga. Because now I am a housewife, I am pretty happy being a stay at home – housewife. In turn, I can do so many things that were enabled done by carrier women. I learn to be a sociologist, psychologist, chef, interior decorator, financial planner, health provider, nutritionist, teacher, and so on.  And it’s not a simple thing.

housewife

Karena kita wanita, kita akan bangga melihat semua urusan keluarga berjalan dengan baik dan kita pun bangga dengan upaya yang kita persembahkan untuk keluarga kecil kita, sekecil apapun itu. Last but not least, “Moms, you are not alone. You made the best decision. Seeing your family live very well is the best achievement, right?” 

Semoga Allah masih memberi saya kesempatan untuk merampungkan catatan saya ini. Catatan sederhana tentang ibu rumah tangga yang kerap sekali dianggap masyarakat sebagai profesi yang biasa saja. InsyaAllah.

Surabaya, 26 November 2014

8 thoughts on “Saya Ibu Rumah Tangga

  1. Assalamualaikum. Mb Mey, masih ingat saya?😀
    Barakallah ya…🙂 Lama gak chatting eh sekarang mbaknya udah nikah… wish u all the best mbak🙂

  2. waahhh… bnr bgt mb, fitrohnya wanita, begitulah..
    subhanallah, mb mey dah nikah.. barakallah y mba.. ni inggar msh inget ga?🙂 yg dl sempet kos di karmen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s