Kapan Nyusul? ; Sebuah Pertanyaan, Harapan, atau Semacam Penghinaan?


 “Kapan nyusul?” ini adalah pertanyaan lazim yang dilontarkan oleh orang-orang yang baru menikah terhadap teman-temannya yang belum menikah.

Apakah itu satu pertanyaan, harapan atau semacam penghinaan? Terkadang hal ini tidak bisa dibedakan. Saya katakan dengan serius bahwa bentuk pertanyaan tersebut bukanlah satu hal yang layak untuk diperbincangkan dan dipertanyakan, terlebih di acara nikahan. Sekali lagi tidak layak karena itu menyangkut privasi orang yang tidak seharusnya kita mengusiknya, pun mempertanyakannya. Jika kau berharap temanmu segera menyusul atau setidak-tidaknya berharap temanmu turut berbahagia dengan kebahagiaanmu, maka bentuk pertanyaan menohok itu tidak perlu dilisankan. Bentuk pertanyaan semacam itu hanya akan merusak perasaan haru temanmu sendiri bahkan lebih parah bisa menciptakan rasa sakit hati terhadap temanmu sendiri. Dan ini sangat tidak dianjurkan, terlebih untuk seorang muslim.

Kebaikan akhlak seorang muslim salah satunya ditentukan dengan kebaikan dari apapun yang ia lisankan dan perbuatan yang dilakukan, tidak berlebihan pun tidak menyakiti saudara seimannya sendiri. Kita tak jarang terlalu gampang melontarkan bentuk pertanyaan yang bisa menyinggung orang lain baik itu disadari maupun tidak disadari. Padahal apa yang selama ini kita anggap remeh bisa jadi akan berdampak besar  di kehidupan yang akan datang, layaknya kita anggap remeh terhadap dosa kecil.

“Jadilah kalian pendidik yang lapang dada (rabbani) dan faqih. Disebut rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang kecil-kecil sebelum yang besar-besar. “ [HR. Al-Bukhari].

Tak ada salahnya kita mulai berbenah dengan mencontohkan hal yang lebih membuat hati nyaman dan tenang, bukan justru memberikan pertanyaan yang terkesan mengintimidasi. Lantas bagaimana sebaiknya? Menurut saya (sah-sah saja jika kalian memiliki pendapat yang lebih luar biasa dari ini, karena dalam hal ini tidak ada nilai 100), yang harus dilisankan pada teman yang belum menikah adalah, “Semoga kau bisa segera menyusul”. Cobalah! Saya jamin 1000% temanmu akan senang. J

“Semoga kau bisa segera menyusul”. Bukankah ini sebaik-baik harapan dan doa terhadap seorang teman? Apakah kebaikan kita lantas berkurang lantaran kita mendoakan saudaranya sendiri?

Sesungguhnya doa seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah doa yg mustajab (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah selalu berikan kebaikan dan kemudahan dalam urusannya bagi mereka yang tak pelit dalam mendoakan saudaranya..

Maka, jangan pelit dalam mendoakan kebaikan pada saudara sendiri, pun jangan asal bicara yang akhirnya hanya akan menyakiti perasaan saudara sendiri.

Mari saling mengevaluasi!

Surabaya, 20-10-2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s