Berharap


“Saya tidak bisa melupakannya, dan jangan paksa saya untuk melupakannya! Saya masih berharap bisa kembali dengannya” (*)

###

Apa yang salah dari sebuah pengharapan? Tidak ada. Sama sekali tidak ada! Terlebih jika harapan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Tentu itu naluri yang tidak bisa dimusnahkan karena pada satu titik tertentu manusia tentu akan merasa dirinya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki daya apa-apa sehingga sewajarnya berharap pada yang lainnya. Namun bagaimana jika pengharapannya ditujukan pada hati seseorang? Salahkah?

 Hope-logo

Perlu diingat bahwa perasaan tidak bisa disalahkan. Ia ada sebagai konsekuensi dari kelengkapan pancaindra manusia. Terkadang muncul begitu saja, tanpa diminta, dalam berbagai bentuk ; suka, duka, kecewa, cinta, benci, marah, dan semisalnya. Membiarkannya begitu saja tidak akan menjadikan manusia kehilangan nyawa seketika, dan menurutinya juga tidak memberikan rasa kenyang pada manusia. Hanya satu yang dijanjikan oleh terpenuhinya hasrat perasaan seseorang, yaitu kepuasan. Entah dalam bentuk apa, namun hanya itu yang bisa ia dapatkan dari menuruti perasaannya.

Begitupun perasaan harap pada sesuatu/seseorang. Perasaan itu selamanya hanya akan menjadi perasaan selama itu tidak diikuti, tidak diperturutkan, pun tidak dipenuhi hasratnya. Ia akan terpendam diam, terkadang meninggi, tak jarang tiba-tiba musnah. Perasaan harap ini mubah atau sah-sah saja. Namun perasaan ini jika dipelihara, disimpan rapat-rapat, dan ditaburi “makanan” sehat, yang ada hanya akan menyiksa, menjadikan hati sesak tak karuan, meski dengan beragama ucap ingin melepaskannya. Perasaan harap ini tidak akan mudah hilang saat mulut berucap, “aku ingin perasaan ini menghilang”. Tidak sesederhana itu.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahwa perasaan semacam ini merupakan perasaan yang sifatnya mubah saja, tak jelas kemunculannya, terjadi begitu saja. Beliau mengkhususkan perasaan ini sebagai cinta/pengharapan yang mubah. Keinginan, hasrat, dan harapan yang digantungkan pada seseorang karena sebab musabab kecantikan, ketampanan, kesopanan, manisnya senyum dll. Perasaan ini tidak mendatangkan maksiat, pun manfaat. Cara terbaik meredakannya adalah dengan mengalihkan seluruh konsentrasi pikiran pada hal-hal yang lebih bermanfaat, menyibukkan diri dengan dzikrullah, dsb.

Memang benar, tak jarang orang bisa gila dengan perasaan ini, tersiksa saat tidak berbalas harapannya, tetapi begitulah kenyataannya tentang pengharapan. Penuh asumsi, apalagi tanpa kata yang terucap. Sungguh itu mengenaskan. Semakin cepat harapan mendapat jawaban, semakin cepat masalah terselesaikan. Sederhana, namun tak banyak orang berani mempertaruhkan asumsinya pada “meja perjudian” jawaban.

Perasaan tetaplah perasaan. Pengharapan tetaplah pengharapan, dan cinta tetaplah cinta hingga kesemuanya diwujudkan dalam sebuah perbuatan. Selama semuanya dipendam saja, dibiarkan, dan tidak berusaha dilebih-lebihkan, maka semuanya akan tetap berpotensi tergantikan dengan perasaan-perasaan yang lain. Maka, cara terbaik untuk menepis pengharapan yang berlebihan adalah: membuka diri terhadap masuknya perasaan lain. Itu artinya membuka diri untuk melihat hal diluar pemicu kemunculan harapan itu sendiri dengan banyak melihat pada apa-apa yang Allah cintai, belajar mencintai apa-apa yang Allah inginkan, belajar membenci apa-apa yang Allah benci. Jika perasaan itu tetap menyayat hati saat kau mencoba membuka diri, maka saatnya kau belajar arti romantisme pada Allah Sang Pemilik Hati.

Harapan bisa mengubah segalanya. Menjadikan manusia merana seumur hidupnya atau membawa kelegaan dalam sisa hidupnya. Tergantung pada siapa manusia menggantungkan harapannya.

 ________________________

*percakapan ilustrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s