Jadi Jomblo itu…..


Kok malam minggu begini gak keluar sama pacar? Jangan-jangan homo ya atau gak laku? “

“Kapan nikah, nih? Masa sih istiqamah menjomblo?”

“Tadi gak kerja kemana? Nentuin tanggal merried ya?”

 LoL

Sakitnya itu di sini loh, iyaaaa, di sini… (sambil pegang kuping).

###

one-day

Jadi Jomblo itu ……. Rawan Bully!

Jomblo itu memang posisi rawan bully-an. Pertanyaan-pertanyaan di atas terkadang jika sekali dua kali dilontarkan barangkali tidak akan menjadi masalah yang berarti, namun jika setiap bertemu orang (terlebih yang sudah menikah atau berstatus tidak jomblo – entah hanya sebatas TTMan, HTSan dan semisal -) diberondong dengan pertanyaan semisal, maka yang ada isinya para jomblo berhasrat untuk bunuh diri. Mereka yang sudah menikah lantas menjadi orang yang mendadak lupa tentang masa lalunya yang juga tidak jauh beda dengan para Jojoba (Jomblo Jomblo terpaksa Bahagia), tiba-tiba menjadi orang yang begitu merasa bahagia dengan hilangnya status jomblo hanya karena ada seseorang yang “terpaksa” mau menerima mereka apa adanya. Mereka lantas “menghina” bahwa yang masih istiqamah jomblo itu merupakan golongan orang yang enggan berusaha memantaskan diri, enggan menerima kekurangan orang, enggan dalam berikhtiar. Terlepas apakah mereka hanya bercanda ataupun memang sengaja melemparkan sarkasme tertentu untuk menyudutkan kaum jomblo, maka sungguh mereka barangkali lupa, lupa bahwa mereka juga pernah berada dalam status yang sama, dalam posisi yang sama, yakni J-O-M-B-L-O. Mereka lupa saudara-saudaraaaaaaa!!! (Hey, don’t judge me while you don’t even know me!)

Jomblo, Calm Down, please!

Well, tenangkan diri para Jomblo! Kita tak sehina itu! (Oh, please! Ini sepertinya pembelaan diri yang terlalu mencolok).

Ribuan kali kita bertatapan dengan lawan jenis, barangkali ribuan kali juga kita bertanya-tanya dalam benak kita masing-masing “apakah dia jodoh saya?” atau dengan pertanyaan yang semisal. Itu normal (asal jangan ditanya beneran lah, cukup bertanya dalam hati saja).

Pertemuan dengan orang yang tepat itu bukan seperti sulapan, kawan. Tidak bisa serta merta kita mengklaim mereka orang yang tepat, jodoh yang tepat karena persamaan kegemaran saja, atau karena persamaan organisasi saja, lebih parah karena persamaan hewan piaraan. Oh, sungguh jangan pernah berpikiran yang seperti itu. Terlalu naïf lah untuk seorang jomblo yang terhormat dan bermartabat.

Pertemuan dengan orang yang tepat itu bukan pula seperti mengerjakan soal fisika yang ketika kita tahu konsep dan rumus mana yang bisa digunakan, lantas kita pasti akan menemukan jawabannya. Tidak sesederhana itu, kawan. Oh, sungguh jangan pernah samakan pertemuan jodoh dengan terpecahkannya soal-soal Fisika! Itu sangat naïf. Tak sepadan! (Apa kalian lupa bahwa menghadapi soal Fisika itu mirip-mirip dengan menghadapi calon mertua yang galak? Ah, sama-sama susahnya ya!? Tapi jangan disamakan yaaa…).

Pertemuan dengan orang yang tepat itu mirip saat kita mencari gelombang radio, susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Karena selain kita harus punya radionya, kita juga harus paham kategori radio yang kita miliki. Hanya bisa menangkap gelombang AM, atau FM, atau bisa keduanya. Jika hanya sebatas gelombang AM yang bisa ditangkap, maka jangan pernah berharap bisa mendengarkan saluran-saluran radio FM (yang biasanya lebih beragam acaranya, dari berita hingga gosip-gosipan selebrita). Sederhananya, kita sendiri yang paham kapasitas diri kita itu sebaik apa (kalau baik), dan seburuk apa (jika masih merasa buruk) sehingga jikalau ingin segera bertemu dengan orang yang tepat, orang yang baik, jodoh yang tepat dan baik hati, rajin ibadah dll., kita pun juga harus bisa menyesuaikan dan atau menstandartkan diri sendiri.

Terlepas dari itu semua, kita juga tidak boleh lupa bahwa bertemunya jodoh itu tidak lepas dari Ia Yang Maha Mengerti kapan waktu yang tepat dan jodoh yang tepat untuk manusia. Sehingga masalah pernikahan itu bukan lagi manjadi masalah sudah atau belum mempersiapkan diri, bukan pula masalah sudah atau belum mencari, pun bukan masalah laku atau belum laku. Ingat, tidak sesederhana itu. Karena Allah turut mengatur jodoh bagi seluruh manusia. Entah dengan skenario seperti apa, jalan cerita yang akan mempertemukan di mana, kapan, dan sebagainya itu semua tidak bisa kita perkirakan dengan keterbatasan akal kita.

Jadi, kalau masih menemukan golongan orang resek –yang seperti kacang lupa kulitnya-, terus menerus bertanya kapan dan kapan, mana dan mana, jawab saja “saya bukan Tuhan yang tahu segalanya”. Hahaha ..(terserahlah mau jawab gimana, asal tidak pasang tampang melas saja).

Jangan Mau jadi Jomblo Asal-asalan!

Menjadi jomblo memang bukan sepenuhnya pilihan, karena kita tentu tidak pernah lupa bahwa Tuhan tahu segalanya tentang kapan dan dengan siapa kita tepat mengakhiri masa lajang, sekalipun pilihan untuk maju dan tidaknya sepenuhnya ada di tangan kita sendiri. Ok, selagi masih jomblo, maka niatkan diri menjadi seorang jomblo yang selalu bermartabat dan terhormat di manapun dan kapanpun (selama menyandang status ini, dan saya harap saya sendiri dan kalian semua segera bisa move on dari jenjang karir yang satu ini. Aamiin).

Ingat, jangan pernah mau jadi jomblo asal-asalan! Asal menyandang status jomblo karena tidak ada yang mau, karena terpaksa akibat diputus pacar, akibat sibuk kerja dan lupa urusin diri, akibat susah move on dari sang mantan, dan deretan sebab yang tidak keren sama sekali. Karena Islam ajarkan setiap manusia untuk membenarkan niatan dan membenarkan cara dalam melakukan seluruh aktivitasnya, maka jadilah Jomblo yang ikhlas karena lillahi ta’ala. Bagaimana cara yang benar menjadi seorang jomblo? Sangat sederhana, perbaiki diri dengan ilmu agama dan dunia sebanyak-banyaknya. Itulah cara paling elegan dan paling terhormat menjadi seorang Jomblo. Mau dibully sampai yang membully teler bin dower, tak jadi masalah, karena semuanya ikhlas lillahi ta’ala (ehehehehe). Sebagai penutup dari tulisan ini, ada hadist yang bisa mengingatkan kita untuk selalu sabar dalam kesendirian (dengan tidak menggalau bertahun-tahun, memasang tampang melas terus-terusan), sekaligus menjelaskan tata cara menjadi jomblo yang benar,

“Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita tersebut, karena setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua” (HR. Ahmad).

Jadi, sabar dalam kesendirian itu bagian dari kedewasaan dan romantisme pada Allah. Istiqamah meski dalam kesendirian, bukan istiqamah dalam menyendiri. Jadilah seorang yang menghindari berdua-duaan, pacaran, dan hubungan tanpa kejelasan lainnya karena ketakutan terhadap Allah sebagai alasannya, bukan tak laku sebagai pemicunya. Jomblo yang berprinsip, bukan sekedar alasan pasrah dengan nasib.

Kau tahu, being lonely cause of Allah is another kind of beauty/handsomeness. Percaya dech! So, tidak perlu manyun jika dibully karena status jomblo! Okey?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s