Kesempatan


Jika waktu itu layaknya suatu kesempatan, maka tiap detik dari kehidupan kita adalah kesempatan itu sendiri. Menghilangkan waktu secara sia-sia sama halnya melepaskan satu bahkan puluhan kesempatan yang ada. Kesempatan yang seperti apa? Tentu saja kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kesempatan untuk mengubah keadaan, dan kesempatan untuk kembali pada jalan yang dibenarkan Tuhan.

Barangkali kita lupa bahwa masih berfungsinya kedua mata kita merupakan kesempatan. Kesempatan untuk melihat dengan jelas setiap apa yang ada di dunia ini lantas banyak menyebut nama Tuhan kita, Allah ta’ala. Inilah kesempatan.

 Time


Barangkali kita juga lupa bahwa masih sempurnanya fungsi pendengaran kita merupakan kesempatan yang luar biasa bagi kita untuk mendengarkan apa yang baik-baik saja, mendengar tanda-tanda kebesaran dan kemahakuasaanNya. Inilah kesempatan.

Atau kita sudah lupa bahwa jemari kita yang indah masih bisa mengetuk tuts-tuts komputer dengan lincah itu juga satu kesempatan yang diberikan Tuhan pada kita. Setidaknya kesempatan untuk bersyukur terhadap nikmatNya. Bukankah itu juga kesempatan?

Kesempatan untuk berpikir itu pun juga tidak pernah berhenti. Manusia selalu berpikir untuk menghidupi kehidupannya, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, bagaimana mereka menjalani hidup dan sebagainya. Barangkali kita juga lupa bahwa itu kesempatan. Kesempatan kita untuk merenungkan, merangkaikan segala yang dilihat, didengar, dan dirasakan untuk bermunajat padaNya, menyampaikan takjub padaNya, dan memberikan yang terbaik padaNya dengan tak akan pernah menyia-nyiakannya.

Oh, tentu kesempatan tidak hanya itu. Banyak lagi kesempatan jika kita mau memikirkan dari lidah, jantung, ginjal, darah, dan semuanya.

Kesempatan. Manusia sering melupakan kesempatan yang diberikan Tuhannya. Padahal waktu itu sendiri adalah kesempatan, sempurnanya fisik dan akal adalah kesempatan. Manusia dikelilingi oleh ratusan kesempatan.

Kita boleh saja meninggalkan kesempatan asalkan kita kuat menanggung akhir yang penuh penyesalan. Bukankah selalu kebodohan yang dikambinghitamkan? Ah, tidak juga. Kebodohan itu tidak sepenuhnya ada jika kita sedikit saja mau berusaha untuk memikirkannya. Masa lalu boleh tak baik, tapi jangan biarkan masa depan berakhir dengan tak baik pula.

Selamat datang ramadhan. Semoga ini menjadi bulan perbaikan iman, menjadi momentum untuk menggunakan semua kesempatan dan kenikmatan untuk bersyukur padaNya, berserah diri terhadapNya, ridha dengan semuaNya sehingga kita bisa menjadi manusia-manusia yang bisa menjemput akhir hidup dengan senyum kemenangan. Ya, kemenangan dalam tidak menyia-nyiakan kesempatan dari Tuhan.

Trenggalek, 28 Juni 2014, menjemput pintu ramadhan, menunggu janji kemenangan yang selama ini Allah janjikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s