Peradaban Latah dalam Perayaan Valentine’s Day


Salah satu tanda besarnya peradaban suatu bangsa adalah dijadikannya bangsa tersebut sebagai mercusuar atau kiblat atas segala sesuatu. Kiblat tidak sekedar dalam wujud teknologi, sistem politik dan sistem tata kelola negara namun bahkan lebih jauh dalam wujud cara hidup bangsa tersebut.

Peradaban bisa dikatakan identitas bagi suatu bangsa bahkan saat bangsa tersebut tengah digempur oleh bangsa lain. Maka suatu identitas tersebut tidak boleh dikesampingkan karena ia menjadi penanda dan pertanda, menjadi aset berharga bagi suatu bangsa, bukan lagi sekedar slogan semata.

pus2

Bangsa yang menyadari akan identitasnya akan mampu dengan bijak menyaring berbagai hal yang diluar dari peradabannya. Mereka akan segera peka mana yang bertentangan dengan peradaban mereka dan mana yang bersesuaian dengannya. Bicara tentang peradaban tidak akan pernah bisa lepas dari makna identitas, karakter, dan cara hidup dari suatu bangsa.

Indonesia memang negara dengan keluarbiasaan yang di luar batas. Barangkali peradaban bagi negara ini bukanlah menjadi hal yang harus diutamakan sehingga tidak peduli bagaimana pun bentuk konsep pemikiran yang datang beserta derivatnya (perilaku, perkataan, sudut pandang dan semacamnya) akan bisa dengan mudah diterimanya. Peradaban Indonesia adalah peradaban latah yang serba permisif, serba meng-iyakan segala bentuk cara hidup bangsa lain. Salah satu cara hidup (life style) yang paling terkenal saat ini adalah perayaan Valentine’s Day.

Sejarah V-day di Indonesia tidak pernah diketahui kapan dan bagaimana awal mulanya. V-day di Indonesia tak tauh beda dengan V-day yang ada di negara-negara lain yang mayoritas diisi dengan memberi ucapan, bunga, hadiah kesukaan, coklat, dan yang paling parah bisa memberikan keperawanan pada kekasihnya.

Sejarah perayaan V-day (begitu biasa masyarakat menyebutnya) tidak akan pernah lepas dari perayaan hari Lupercalia (Lupercus Festival) yang terkenal dalam peradaban Romawi Kuno. Perayaan itu menjadi bagian dari adat penyucian dimana pendeta akan mempersembahkan kambing untuk dikorbankan pada sang dewa kesuburan yang bernama Lupercus. Daging kambing itu akan dipotong-potong dan potongan daging tersebut menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum perempuan Romawi saat itu karena mereka percaya bahwa mereka akan dikaruniai kesuburan saat mendapatkannya. Berdasarkan tarikh Athena kuno, Januari hingga pertengahan Februari menjadi hari bersejarah bagi pernikahan Dewa Zeus dan Hera. Mereka menamakan masa ini sebagai bulan Gamelion.

Bagaimana selanjutnya awal sejarah tersebut diasosiasikan dengan romatisme dan kasih sayang masih belum jelas. Banyak versi sejarah valentine, salah satunya versi seorang sastrawan bernama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14 menuliskan cerita di Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung):

For this was sent on Seyn Valentines’s Day

When every foul cometh there to choose his mate

Ia menjelaskan bahwa pada saat itu, 14 Februari dipercaya sebagai hari ketika burung mencari pasangannya untuk melakukan perkawinan. Sejarah inilah yang menjadi bagian dari rutinitas yang saat ini banyak digemari oleh kebanyakan para pecinta. Kerinduan akan romatisme sebuah hubungan yang telah lama sirna secara otomatis akan musnah setelah datangnya kartu ucapan manis “Selamat Hari Valentine”, coklat dan bunga mawar. Tidak jarang hari ini dimanfaatkan beberapa pecinta untuk menyerahkan status perawan dan perjaka mereka sebagai pembuktian cinta suci mereka.

Potongan sejarah Romawi ini menjadi bagian dari peradaban yang melekat pada bangsa Romawi hingga saat ini. Berbagai simbol dan perayaannya tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya, sehingga bukan menjadi masalah jika mereka tetap merayakannya berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki.

Bagaimana dengan bangsa lain yang ikut merayakannya? Barangkali tidak akan berlebihan jika bangsa yang mengikuti perayaan -dan sekaligus secara tidak langsung mempercayai keyakinan mereka- sebagai bangsa yang latah. Bangsa yang latah cepat lupa dengan sejarah dan peradabannya sendiri. Orang yang berpaham anarkisme dan banalisme akan secara brutal menyebut bangsa ini sebagai bangsa yang justru tidak pernah menganggap penting sejarah bangsa sendiri atau bangsa yang justru tidak beridentitas. Tidak perlu minder jika negeri ini bisa dikategorikan sebagai negeri yang latah, atau bangsa yang latah. Kelatahan bangsa Indonesia cukup bisa terlihat jelas tidak sekedar dari hal-hal kecil menjelang perayaan V-day ini, namun lebih jauh juga nampak dari inkonsistensinya dalam berpolitik, berhukum, berekonomi, dan sebagainya. Kelatahan ini terus berlanjut hingga batas yang tidak bisa kita pikirkan lagi dan jika hal ini dibiarkan, maka latah yang tidak bisa diatasi ini akan menjadi tradisi. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi bangsa Indonesia di kemudian hari.

Bukankah bangsa yang besar merupakan bangsa dengan peradaban yang selalu diikuti oleh bangsa lain?

One thought on “Peradaban Latah dalam Perayaan Valentine’s Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s