[Lagi] Muslim Merayakan Tahun Baru, Bolehkah?


DOR, DAR, DER! DAR DER DOR!

Sebentar lagi suara-suara terompet yang memekakkan telinga menjelang tanggal 1 Januari ini akan terdengar kembali. Yup, tahun baru masehi akan datang lagi. Tutup tahun, hura-hura, pesta pora, pria dan wanita seakan lupa segalanya. Seakan tanggal ini merupakan tanggal besar yang harus dirayakan besar-besaran. Sebenarnya dari mana asal muasal tahun baru ini?


terompet

Tahun Baru dari mana?

Tahun baru 1 Januari berasal dari praktik penyembahan kepada dewa matahari kaum Romawi. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.

Romawi terletak di bagian bumi sebelah utara yang mengalami 4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains, yang juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.

Sepanjang bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bagian selatan khatulistiwa sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik terjauh matahari adalah pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik kembali ketika tanggal 25 Desember.

Karena itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa Matahari (Sol Invictus) pada tanggal 25 Desember. Sampai tanggal 1-5  Januari yaitu Perayaan Tahun Baru (Matahari Baru)

Orang-orang Romawi merayakan Tahun Baru ini biasa dengan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan keji penuh nafsu kebinatangan diumbar disana. Bukankah ini mirip dengan perayaan tahun baru saat ini?

Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru, perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan maupun simbol serta ritual lain yang diadopsi.

Untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus).

Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

Perayaan seperti ini dan derivatnya jelas bukan berasal dari Islam. Bahkan berasal dari praktek pagan Romawi yang dilanjutkan menjadi perayaan dalam Kristen. Dan mengikuti serta merayakan Tahun baru adalah suatu keharaman di dalam Islam.

Merayakan tahun baru termasuk salah satu aktivitas meniru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan.Beliau bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[ HR. Ahmad dan Abu Daud].

Budaya meniru ini memang tidak sepenuhnya dirasakan oleh umat Islam sendiri. Tanpa kita sadari, satu per satu budaya yang berasal dari Barat bisa jadi sudah kita ikuti. Mulai dari pakaian, pemikiran, makanan, dan gaya hidup. Semuanya terjadi tanpa kita sadari. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita seyogyanya hati-hati dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Jika Islam sudah mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan dan kehati-hatian, mengapa kita masih saja menengok pada ajaran dan budaya selainnya? Tidak cukupkah kita berpegang pada Qur’an dan Sunnah RasulNya sebagai seorang muslim yang masih sehat akalnya?

Source: Blog Felixsiauw.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s