Menghargai


Penghargaan tidak selalu berupa award dari mengikuti ajang bergengsi. Tak selalu. Saya ingin mengajarkan sesuatu hal yang teramat sederhana pada kalian semua, kalian yang saya anggap saudara, bahkan sekalipun saya tidak pernah mengenal maupun bertatap muka.

Bahwa penghargaan adalah satu hal yang lumrah diharapkan oleh umat manusia. Bukan tuntutan, namun lebih pada nilai kepuasan yang bisa dirasakan oleh manusia yang masih sehat akal dan fungsi rasanya. Tak sekedar mendapat medali, kompensasi ataupun sejenisnya, namun lebih jauh bagaimana kita bisa belajar untuk menghargai orang lain hingga orang lain tak akan berpikir panjang untuk memberi penghargaan pada kita.

Hei, apakah itu artinya kita begitu maniak untuk dapat penghargaan dari orang lain? Tentu tidak! Bayangkan, bagaimana perasaan kalian setelah susah payah membantu teman kalian sendiri, kemudian tak ada kata “terima kasih”, atau “maaf sudah merepotkan” dan semacamnya?? Jujur sajalah, bukankah itu menyakitkan?

Orang tua mengajarkan kita untuk mengucap terima kasih saat ada orang lain yang sudah memberi maupun membantu kita, guru pun serupa, biksu dan pendeta pun juga tidak pernah capek untuk mengajarkan bagaimana caranya memberi penghargaan pada orang lain. Bagaimana kita yang mengaku umat Muhammad Saw. begitu saja lupa dengan tuntunannya untuk selalu memberi penghargaan pada orang lain?

Barangkali kalian belum tahu, maka saya beri tahu. Barangkali kalian tidak ingat, maka saya ingatkan. Barangkali kalian tidak paham, maka saya berikan pemahaman. Lewat hadist sederhana ini Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah.” [HR Ibnu Majah no 1468/1672 dalam sunannya 1/314]

Barang siapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh[Shahîh Sunan at-Tirmidzi no. 1954]

 

Allah menghina orang-orang yang tidak tahu bagaimana memberikan penghargaan pada orang lain. Dari sini pula Allah ajarkan umat manusia untuk senantiasa memberikan penghargaan pada orang lain meskipun dengan ucapan terima kasih dan doa.

Kita hidup berhadapan dengan manusia lainnya. Kita tidak sedang hidup dalam masyarakat rimba yang tidak bisa membahasakan rasa syukur dan rasa bahagia atas kebaikan lainnya. Ingatlah bahwa setiap kita memiliki perasaan yang senantiasa harus dijaga. Allah sediakan surga bagi mereka yang memberikan bantuan pada saudaranya dan sesamanya, pun memberikan pujian bagi mereka membalas budi baiknya.

Hiduplah layaknya manusia, bukan hidup layaknya mereka yang hidup di hutan rimba.

Suramadu di pagi hari..

Suramadu di pagi hari..

Barang siapa mendambakan untuk  dijauhkan dari (adzab) api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah (ketika) kematiannya datang menjemput,  ia (dalam keadaan) beriman kepada Allâh dan hari Akhir.  Dan hendaklah memperlakukan manusia dengan cara  yang ia sukai untuk diperlakukan dengannya. [HR. Muslim no. 4753]

Surabaya, 30 November 2013

-Meyra kaha-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s