Relativitas


Manusia itu selalu dipenuhi  dengan relativitas. Apa yang saya anggap manis belum tentu kalian anggap manis. Apa yang saya anggap menarik bahkan belum tentu demikian untuk kalian. “Selera berbeda”, begitu kata kebanyakan mereka. Padahal mata kita komponennya sama, pembuatnya sama, fungsinya sama, barangkali hanya warna biji matanya yang berbeda. Namun hasil penilaian pada masing-masing manusia akhirnya tetaplah tak pernah sama persis. Oh, jangan dulu bicara masalah kebenaran relatif. Saya sangat malas membicarakannya. Itu bukan topik kita saat ini, dan jangan pernah memaksa saya untuk membahasnya di sini. Fokuslah hanya pada apa yang ingin saya bicarakan.

relative

Perbedaan manusia ini barangkali memang sangat sulit untuk diterjemahkan dalam bentuk tulisan sederhana saya. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin bagi kamus penulisan sederhana saya. Anggap saja ini perkara relativitas penilaian manusia yang sangat dipengaruhi oleh kualitas berpikirnya. Standar mereka terhadap segala sesuatu pada akhirnya juga akan bergantung pada apa yang mereka sebut sebagai “prinsip hidup”, sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang cara berpikirnya brilliant. Taruhlah Rasulullah yang seumur hidupnya tak mengenal lelah untuk membentangkan panji-panji risalah yang ia bawa. Tak hanya orang berkuasa yang ia seru dengan risalahnya, namun rakyat jelata pun tak luput dari seruannya. Hal ini jauh berbeda dengan seorang berpengaruh yang bernama Lennin atau sekelas Che Guevara yang terkenal dengan semangat pemberontakannya dengan memimpin gerilya di Kuba. Membakar bara semangat di dada rakyat jelata untuk pembelaan kaum tertindas. Untuk apa? Sebatas kesejahteraan badani. Tak lebih dari itu. Bagaimana hasilnya? Risalah Rasulullah begitu dicintai oleh semua kalangan, sementara “hikayat” Lennin dan Che Guevara hanya dicintai oleh orang-orang yang sama tertindasnya atau mereka yang melihat ketertindasan dari kulitnya saja.

Relativitas manusia dalam alam pikirannya sudah ada sejak dahulu kala. Ah, saya terlalu kejam ketika membandingkan manusia biasa dengan manusia paling mulia di dunia. Tak apa, ini hanya sebatas contoh betapa dahsyatnya “prinsip hidup” pada manusia yang mengembannya. Dan sekarang sampailah kita pada apa yang seharusnya saya fokuskan. Bahwa keinginan seseorang untuk mempelajari Islam pada diri umat Islam sendiri sekarang juga relatif. Jika berlaku hukum relativitas pada cara berpikir umat Islam layaknya hukum relativitas fisika yang dipopulerkan Einstein kala itu, maka seharusnya selalu ada persamaan dan titik temunya.

“Satu bab ilmu yang kalian pelajari lebih baik bagi Kami dibandingkan dengan shalat sunnah 1000 rakaat” [Abu Hurairah dan Abu Darda’].

“Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah, telah baik bagimu daripada shalat 100 rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat 1000 rakaat” [HR.Ibnu Majah]

“…..Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” [Al-Mujaadilah: 11]

 Apakah hadist dan ayat tersebut tidak bisa menjadi titik temu atas setiap relativitas yang dialami umat Islam saat ini?

Sungguh, hanya orang berpikir yang mampu memahami dan mengambil pelajaran darinya.

Surabaya, 24 November 2013

-Meyra Kaha-

One thought on “Relativitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s