5 menit


Jika wanita sudah menangis, tanda ia bahagia atau hatinya tersayat luka.
Bahkan, tak ada yang bisa pahami ia sepenuhnya

“Sudah 20 tahunan, Mbak. Kalau tidak dengan berjualan sayur ini, ya bagaimana saya bisa menghidupi anak-anak saya? Apalagi suami sudah tidak ada sejak lima tahun yang lalu”, matanya berkaca-kaca, seakan ingin meluapkan air mata. Ia menghela nafas, menata kembali nada bicaranya, berusaha tegar dan kuat melanjutkan ceritanya.5-minutes

Ah, entah dunia apa yang saat ini sedang saya tempati. Saya bagaikan amnesia sejenak. Tuhan barangkali menampar saya melalui ibu 50 tahunan yang sedang duduk bercerita di depan saya. Saya di matanya barangkali dokter fisik, namun sebenar-benarnya yang terjadi justru ia lebih kuat dibandingkan dengan dopping vitamin jenis apapun, dan dengan konsultasi model apapun. Dia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. Dalam 5 menit yang teramat singkat itu, tubuh saya sudah berhasil diserap energi dalamnya karena cerita yang menyesakkan dari ibu yang namanya tak boleh disebut itu.

“Mbak, kira-kira anak saya nanti bisa kuliah tidak? Dia sebenarnya pandai, Mbak. Setiap hari sepulang sekolah dia belajar. Dia juga ingin sekali bisa kuliah. Tapi dengan kondisi ibu yang berjuang sendiri seperti ini, dengan biaya sekolah yang mahal, apa saya bisa mengabulkan keinginannya?” di sudut matanya sudah ada air mata yang siap terjatuh. Ia menangis, tapi berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata. Saya sangat tahu betapa sesaknya dada jika harus menahan tangis. Entahlah, rasanya campur aduk antara pusing dan sesak yang dirasakan dengan waktu yang sangat cepat dan luar biasa. Serasa ada sesuatu yang bergemuruh di dada.

Ibu ini menahan tangis dalam tawa. Ia berusaha melihatkan senyum ramahnya saat bercerita dengan saya. Ah, alangkah saya ini begitu naïf. Untuk beberapa waktu belakangan saya begitu merasa waktu saya habis untuk hal-hal yang sifatnya sangat melelahkan. Betapa waktu 5 menit untuk berbincang ini kembali mengingatkan saya akan perasaan yang jarang saya hadirkan dalam lebih dari 4×24 jam.

Syukur.

Ia masih bisa bersyukur. Ia merasa apa yang Tuhan berikan jauh lebih banyak dibandingkan beban yang ia rasakan. Ya, pertemua 5 menit sudah membuat hati saya ikut bergemuruh. Hati menclos secara tiba-tiba, merasa bahwa apa yang selama ini saya dapatkan sebatas teori, dan kenyataannya entah ada di mana. Namun, kali saya melihat, mendengar dan merasakan, betapa hidup ini begiut keras. Sekeras perjuangan ibu yang ada di hadapan saya untuk bertahan hidup dan bisa mempertahankan hidup anak-anaknya.

Bagaimana dengan saya? Saya malu. Bahkan untuk memberi nasihat (kesehatan) untuk ibu yang di hadapan saya pun, lidah saya begitu kelu Kaku.

5 menit sangat berarti, dan 5 menit yang sangat berarti ini tidak akan pernah kalian dapatkan hanya dengan berbincang music klasik, pop, dangdut koplo, dan film menyedihkan sekalipun. 5 menit yang berarti ini juga akan sangat langka bagi kalian yang hanya hidup di tengah lusinan buku saja.

Keluarlah! Lihatlah fakta yang seringkali tak berjalan lurus dengan apa yang selama ini kita baca. Bandingkan antara satu hal dengan hal lainnya. Ribuan kata bijak akan kau baitkan, bahkan lebih dari itu kau akan lebih bisa merasakan betapa hidup tak seharusnya hanya berisi masalah yang dikeluhkan.

Sungguh, 5 menit itu berarti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s