Mimpi


Penyanyi solo. Apa yang aneh? Beberapa tahun belakangan ini saya jarang mendengar celoteh anak tentang cita-cita mereka. Sekalipun ada, saya akan mendengarkan jawaban tentang cita-cita batuta (bawah tujuah tahun) yang begitu idealis, menjadi mujahid, pejuang Islam, menjadi penghafa Al-Qur’an dan semacamnya). Sepertinya selama ini saya hidup dalam lingkungan yang teramat idealis, terlampau mendekati sempurna hingga saya seperti berada dalam dunia mimpi ketika saya mendengar ada seorang anak tujuh tahunan dengan percaya dirinya mengobsesikan profesi penyanyi solo.

dream


Cita-cita? Apa sebenarnya yang dimaksud cita-cita? Apakah cita-cita sama halnya mimpi yang harus dimiliki oleh setiap anak? Saya sigap membuka kembali Kamus Besar Bahasa Indonesia, mencari dengan kata kunci “cita”, dan secepat itu pula saya menemukan bahwa yang dinamakan cita-cita adalah keinginan, atau bahkan kita juga bisa menyebutnya tujuan sempurna yang hendak diwujudkan oleh seseorang. Tujuan sempurna? Bukankah manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dicapainya? Saya tidak ingat sewaktu dulu kecil saya memiliki cita-cita apa. Tapi saya masih ingat benar bahwa dalam kurun sepuluh tahun terakhir saya sangat plin-plan dengan cita-cita yang saya inginkan. Sebentar terobsesi sebagai seorang insinyur pertanian, sebentar pindah lagi menjadi designer interior. Belum lama obsesi itu muncul, saya harus kembali dengan sebuah kenyataan bahwa saya tidak mahir menggambar dan mendesign. Insinyur pertanian? Saya hanya tersenyum mengingatnya. Saya saja begitu pengecut setelah mendengar bahwa kuliahnya akan banyak menuntut wanita untuk mencangkul. Saya harus mengakui bahwa saya begitu penakut, bahkan untuk sekedar bermimpi. Jadi, apa sebenarnya cita-cita saya selama ini? Barangkali saya lebih suka mendengar kalian bercerita tentang mimpi dan obsesi kalian daripada harus menceritakan mimpi-mimpi saya.

“Jadi penyanyi, Kak”, jawab ia sederhana saat saya iseng bertanya tentang cita-citanya. Berapa banyak anak yang memiliki cita-cita seperti ini? Dua, tiga, sepuluh, seratus, atau bahkan tak terhitung banyaknya? Barangkali banyak. Tengoklah betapa banyak orang yang mengantri untuk audisi pencarian bakat menjadi penyanyi tenar yang sering nongol di TV. Negeri apa ini? Sebegitu mistiskah profesi yang banyak digandrungi oleh anak muda ini? Saya masih ingat benar betapa menyeramkannya saat sekerumunan orang berteriak-teriak, menangis, dan berjingkrak-jingkrak melihat penyanyi idolanya. Saya pikir mereka gila. Saya pikir mereka kurang kerjaan, namun begitulah fakta yang saat ini sering saya temukan. Anak muda yang mengerikan.

Seorang anak laki-laki usia 8 tahunan yang sedang berada di hadapan saya ini mengaku mahir menyebutkan lagu-lagu yang berasal dari negeri Ginseng sekalipun. SNSD, Super Junior, Big Bang, 2PM, dan entah apa lagi yang disebutkan. Alamak! Saya melongo. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa K-pop wave sudah menciderai otak anak lugu yang sekarang ini sedang bermain-main dengan kamera yang saya bawa. Sembari menunjukkan cara mengambil gambar, saya teruskan bertanya padanya.

Ternyata dunia ini begitu sempit. Bak pintu doraemon, orang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bisa bertransformasi dari satu masa ke masa lain. Tapi pintu doraemon dalam dunia nyata sedikit berbeda dengan pintu doraemon yang ada di komik kartun. Pintu doraemon yang bisa membuat manusia saling menengok apa yang sedang berkembang di belahan bumi lainnya hanya dengan kicauan akun twitter atau dari update-an status Facebook. Efek globalisasi hampir dirasakan oleh semua orang, bahkan dunia anak-anak sekalipun, dunia anak yang para ilmuwan dan pakar psikologi sering menyebutnya sebagai dunia penuh imajinasi, khayalan, dan angan-angan yang terkadang manusia dewasa ogah memperhatikannya.

Perkembangan teknologi informasi menyeret manusia dalam arus lalu lintas informasi yang tiada batas. Perbatasan demi perbatasan negara seolah bisa manusia tembus dengan hanya bermodal jari dan koneksi internet. Sekali jari-jari manis memasukkan keywords pada mesin pencarian internet, maka sim salabim informasi yang kita inginkan begitu cepat tersaji. Junk information, barangkali bisa diistilahkan seperti itu. Informasi siap saji, atau semacam informasi cepat saji (fast information). Era digital, serba bermain dengan kecepatan. Yups, kita adalah manusia digital.

Dunia anak-anak yang saya hadapi ini sungguh jauh berbeda. Barangkali imajinasi dan fantasi menyenangkan mereka harus terbatasi oleh fakta yang ada di antara mereka. Mereka melihatnya setiap hari, hidup dalam zona yang sudah termajinalkan, terkucilkan, bahkan seakan-akan mereka tak punya hak sama sekali untuk bermimpi. Harapan menguap, mimpi lebur dalam alunan musik dangdut yang setiap hari menari-nari di udara lokalisasi Dolly. Betapa realita begitu menyiksa kehidupan mereka, menyiksa mimpi-mimpi mereka, meski untuk sekedar menjadi penyanyi solo bak Afghan Syahreza.

—-8—

Lagi-lagi, mimpi manusia terbatasi oleh realita, bahkan tak jarang orang pada akhirnya berhenti pada sebuah realita, dan mengklaim bahwa realita adalah mimpi-mimpi mereka. Mimpi adalah bunga tidur yang menemani manusia dalam alam bawah sadarnya, menenangkan, melenakan, sehingga saat manusia terbangun dari tidur lelapnya, manusia harus menghidupi sebuah kenyataan yang sungguh bertentangan dengan mimpi yang menemani tidur. Mimpi serasa candu, semakin dituruti semakin menjadi-jadi. Ah, betapa kejamnya jika manusia tidak diperbolehkan memiliki mimpi.

Bukankah surga selama ini juga masih berupa mimpi yang sangat dinanti oleh manusia yang merindukan hidup dalam keabadian dan kebahagiaan? Namun Sang Pencipta tak mau manusia terus bermimpi. Puluhan ayat Allah jelaskan tentang surga yang harus diimpikan umat manusia. Mimpi surgawi itulah yang selanjutnya menuntut pengorbanan dari mereka yang merindukan. Betapa banyak hal yang harus manusia lakukan untuk mendapatkan mimpi itu. Bahkan, kata teman saya, mimpi itu membutuhkan subsidi silang. Besarnya apa yang kita korbankan akan sebanding dengan terwujudnya mimpi yang kita harapkan.

Saya tidak akan menghakimi benar dan salahnya mimpi orang. Namun, seberapa paham saya, kalian dan semuanya memahami besaran konsekuensi saat kita memiliki mimpi tersebut. Mempertahankannya sama dengan pengorbanan, pun melepaskannya adalah sebuah pengorbanan (perasaan). Bukankah manusia selalu dihadapkan pada beragam pilihan? Pilihanmu adalah salah satu bentuk perwujudan mimpi. Bahkan saat kau memilih untuk membuang mimpi itu, kau tidak berarti menghilangkannya, kau sekedar berpindah pada mimpi yang lain atau menurunkan level mimpimu menyesuaikan dengan kadar kemampuan yang kau miliki.

Bermimpilah, karena mimpi adalah langkah awal manusia menapaki kehidupannya. Seberapa menyakitkannya realita yang harus kalian hadapi, jangan pernah hapus mimpi itu dari kehidupanmu. Mimpi bukan sebuah ilusi dan hingar bingar khayali manusia. Saat kau putuskan untuk melakukan satu upaya untuk mendekatinya, mimpi itu niscaya akan semakin dekat dengan posisi berdirimu. “Manjada wa jadda”, barangsiapa berupaya, mereka akan mendapatkan yang sepadan dengan upayanya.

mimpi manusia seringkali terbatasi oleh realita.

bahwa di hadapan mimpi yang manusia miliki,

ada himpitan yang membelenggu berupa manusia dan celotehannya

memaksa manusia berhenti atau memaksanya untuk berlari

Adakah manusia lupa?

Bahwa mimpi akan selalu meminta korban dalam perwujudannya,

menuntut manusia untuk menggenggamnya

atau melepaskannya

menggenggamnya adalah kesakitan

pun melepasnya juga sebuah kesakitan

—88—

Meyra Kaha, dalam sesag kebimbangan memilih menggenggam mimpi atau melepaskannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s