Reportase HIP Jatim Edisi 24: Demokrasi Biang Teroris, Khilafah Solusinya


“Demokrasi itu ambigu! Ambiguitas demokrasi salah satunya tampak saat umat Islam menyuarakan keinginan mereka untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupannya, namun kemudian mereka justru dianggap teroris radikalis. Inilah yang namanya hipokrit (munafik)!”, ucap salah satu pembicara forum Halqah Islam dan Peradaban Edisi 24 dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD Jawa Timur pada hari Minggu (27/1) kemarin, Harun Musa dengan sangat mantap.

dok meyra kaha

dok meyra kaha

Dengan kata lain, dia menyimpulkan bahwa demokrasi itu hanya berlaku pada selain umat Islam, selebihnya akan dianggap sebagai teroris. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa terdapat inkonsistensi tersendiri dalam penerapan demokrasi. Ia menambahkan dalam penjelasannya bahwa dalam sistem demokrasi ini pada akhirnya muncul sebuah stereotype baru tentang umat Islam: pejuang Islam adalah teroris radikalis, sementara umat lain yang memperjuangkan kepentingan kelompoknya tidak dianggap demikian. Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini istilah teroris lebih banyak berlaku pada orang-orang Islam, sementara invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada negeri-negeri kaum muslimin, seperti di Iraq, Afghanistan, Pakistan, dan sebagainya tidak termasuk terorisme.

Konsep demokrasi yang menjadikan kedaulatan ada di tangan rakyat menurutnya sebuah kebohongan dan kemunafikan. Dia menambahkan dalam penjelasannya bahwa demokrasi itu sebuah konsep yang sampai kapanpun tidak akan bisa diterapkan. Hal ini semakin menunjukkan bahwa demokrasi merupakan sebuah konsep yang utopis (menghayal).

2013-01-27 11.02.15

Ahmad Michdan selaku pembicara kedua dari Tim Pengacara Muslim berkomentar tentang terorisme, “Terorisme di Indonesia terjadinya akibat ketidak-adilan, perlakuan yang beda. Terorisme adalah agenda Barat terhadap umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari siapa yang dijadikan sasaran dalam setiap perang melawan terorisme, antara lain Iraq, Afghanistan, umat Islam di Poso, dan masih banyak lagi”.

“Demokrasi itu biang dari kekufuran, jelas! Karena dalam prakteknya manusia menggunakan akalnya untuk memutuskan semua perkara, termasuk benar-salah, lurus-bengkok, dan semuanya melalui mekanisme penetapan undang-undang oleh beberapa orang yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat. Tentu tidak mungkin seluruh kepala dari ratusan juta orang disuruh berkumpul bersama menyepakati satu hal, akhirnya hanya perwakilan rakyat saja yang membuat kesepakatan. Di sinilah akhirnya para kapitalis (pemilik modal) bermain, jual beli pasal kepada wakil rakyat termasuk pasal-pasal tentang terrorisme.”, ucap Muhammad Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia pada acara tersebut. Dia menambahkan dalam penejelasannya bahwa war on terrorisme merupakan agenda dari AS yang dialamatkan pada kelompok-kelompok Islam.

“AS dengan arogannya membagi dunia menjadi dua bagian, yaitu mereka yang bersama dan mendukung AS, atau mereka yang mendukung teroris sebagaimana dalam. Dan faktanya, mereka yang dianggap teroris itu adalah saudara-saudara kita sendiri, kaum muslimin. George Bush jelas sekali memberi pilihan pada negara-nagara dunia untuk memutuskan: You’re with us (US) or against us. Setelah itu muncullah kampanye war on terrorism yang pada akhirnya perang itu justru banyak diarahkan pada kelompok-kelompok Islam”. Argumentasi MIY juga berdasarkan pada data yang ada dalam situs resmi pemerintah AS tentang daftar FTO (Foreign Terrorist Organizations) yang sebagian besarnya adalah kelompok-kelompok Islam (lihat juga http://www.state.gov/j/ct/rls/other/des/123085.htm).

Demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan yang menjadikan kedaulatan berada di tangan rakyat melalui wakil-wakilnya dengan menitik beratkan segala perkara pada sebuah proses musyawarah mufakat. Dari penjelasan sederhana ini, menjadi sebuah kewajaran jika dalam negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi, segala hal dirapatkan,dan kemudian diputuskan oleh akal mereka. Inilah yang selanjutnya menurut MIY menjadi biang dari segala kerusakan karena semua perkara diputuskan oleh keterbatasan akal manusia. Dia melontarkan retorika, “Kalau kita tidak masuk surga karena demokrasi, tidak masuk neraka karena demokrasi, lantas mengapa kita tetap mempertahankan demokrasi? Kalau sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah Islamiyyah sudah jelas mengantarkan kita pada surgaNya, karena pelaksanaan syariat Islam itu suatu kewajiban umat Islam, bukan pilihan yang bisa dirapatkan atau didiskusikan. Dalam demokrasi semuanya jelas didiskusikan dahulu. Jadi benar dan salah pada akhirnya adalah berdasarkan konsensus/kesepakatan. Apa iya kita mau shalat aja perlu diskusi? Kalau diskusinya perkara mau shalat di mana tidak jadi masalah, kalau diskusinya perkara perlu tidaknya shalat itu kan tentu sudah bermasalah ”, ujarnya dalam forum tersebut.

Menjelang penutupan acara HIP ke-24 itu, MIY menambahkan bahwa umat Islam sekarang ini mengalami dua hal, yaitu intelectual trap dan political trap. Intellectual trap terjadi saat semua intelektual menganggap bahwa tidak ada tsqafah Islam yang bisa dijadikan wacana. Prinsip yang ada dalam ranah pendidikan sekarang ini adalah bahwa semua khasanah ilmu adalah sekulerisme, tidak ada Islam atau agama di dalamnya sehingga wajar jika semua intelektual menganggap Islam itu hanya sebatas ritual tanpa bisa selesaikan masalah manusia. Sementara political trap terjadi saat masyarakat menganggap bahwa politik hanya sebatas sebatas peraihan kekuasaan, tidak dianggap bahwa politik adalah segala hal yang berkaitan dengan kepengurusan umat.

“Satu-satunya yang bisa menghentikan demokrasi adalah dengan tegaknya khilafah. Logika sederhanya seperti itu. Jika kita ingin menghilangkan busa sabun di dalam bak, kita harus menambah volume air dalam bak. Dengan kata lain, jika kita mau menghentikan kebathilan berarti kita harus terus menyerukan kebenaran. Itu satu-satunya jalan. Jadi kuncinya dakwah adalah, sabar dan istqomah”, tutup MIY dalam forum tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s