Untitled 1


Teguran Allah itu mahal. Tak jarang teguran itu harus memakan “korban” berupa nyawa seseorang yang ada di sekitar kita, tak jarang pula seseorang itu merupakan orang terdekat kita.

Pasti kita sering membicarakan hal seperti ini dengan teman atau saudara kita:

“Padahal tadi pagi aku baru saja ngobrol dengannya, tapi sekarang dia sudah tidak ada. Cepat sekali, ya!?”

Contoh percakapan tersebut seringkali kita alami, namun apa yang bisa diambil oleh seorang manusia dari kejadian yang baru saja menimpanya  (atau menimpa tetangganya)? Sangat sedikit! Bisa saya katakan sangat sedikit!  Apalagi jika orang yang diambil nyawanya adalah orang yang sangat jauh darinya, pasti kematian bagaikan berita angin lalu yang hanya sekedar mampir untuk mengibaskan bulu mata umat manusia. Manusia akan benar-benar terpukul dan menyesal jika hal tersebut terjadi pada orang-orang terdekatnya. Setidaknya saya mengalaminya sehingga saya bisa mengatakan bahwa teguran Allah memang benar mahal adanya. Sangat mahal!

Saya terlalu santai untuk menunda waktu “menunjukkan” jalan bagi seorang teman dekat kepada Islam. Saya sering berharap suatu saat nanti bisa melihatnya bersyahadat dan memeluknya dengan erat. Namun apa yang saya lakukan sama sekali tidak berguna. Diskusi hanya berhenti pada tataran praktis bagaimana wujud ibadah masing-masing dari kami.  Selebihnya hanya kami nikmati dengan bercanda, berbagi cerita suka dan duka baik dalam perkuliahan maupun di luar perkuliahan.

Ya Allah, I’ve done nothing! I’ve done nothing while she’s still alive, even I couldn’t nothing after her death!

Useless!

Saat dia masih hidup, saya tidak melakukan apa-apa untuknya! Dan setelah kepergiannya, saya tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar mendoakannya pun saya tak kuasa.  Itulah yang membuat saya semakin merasa terpukul dan masih tidak bisa berhenti menyesali (mungkin apa yang dirasakan oleh Rasulullah saat ditinggal pamannya juga tidak jauh berbeda. Bahkan jauh lebih sakit).

Akhirnya saya benar-benar tersadar bahwa teguran Allah memang begitu mahal. Allah menegur saya melaluinya, melalui seorang teman yang selama ini selalu menemani hari-hari saat studi di fakultas ini. Senyumnya, gerutunya, marahnya, canda tawanya dan semuanya masih teringat jelas dalam kepala saya hingga satu bulan kepergiannya. Dan mungkin tidak akan pernah terlupakan sebagai kesalahan terbesar dalam kehidupan saya.

Kawan, jika saat ini kamu masih ada, apa yang sekarang kita bicarakan? Apa yang akan kita lakukan? Image

Sby, 10–3-2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s