Belief to Allah 100%, but….


Hampir setiap muslim menyatakan bahwa dirinya memiliki keyakinan 100% pada Allah SWT. Saya percaya karena buktinya masih banyak orang yang bisa ngomong, “Ya, semuanya saya serahkan pada yang di atas” (terlepas ada siapa di atasnya) atau ngomong semisal, “Rezeki itu kan sudah ada yang ngatur”. Dari hal-hal yang sederhana itulah bisa dilihat bahwa banyak yang yakin pada keberadaan Sang Pencipta, yang bagi orang muslim Pencipta itu adalah Allah SWT.

Kalian bisa lega mendengarnya (-membacanya), namun jangan terlalu bahagia dulu, gulung-gulung senang gak karuan terlebih dahulu sebelum membaca kelanjutannya. Keyakinan orang pada keberadaan Sang Pencipta memang bisa mencapai 100%, namun bagaimana dengan keyakinan akan keberadaan Pencipta yang mengatur kehidupannya? Mencapai 100%? Entahlah!

Contohlah seorang yang namanya tidak boleh disebut. Dia merupakan seorang perempuan yang rajin shalat, baca Qur’an, ikut pengajian di lingkungan, dan Alhamdulillah sempat mondok (maksudnya pernah masuk pondok pesantren). Hingga kuliah ini dia masih sering menjalankannya, meski intensitasnya sedikit berkurang lantaran banyak tugas kampus yang harus diselesaikan, namun itu tidak menghentikannya dari kegiatan keagamaannya. Pada suatu ketika, saat ujian semester lebih tepatnya, dia menghadapi kesulitan untuk menjawab soal yang diberikan oleh dosen. Saking tidak ingatnya dan waktu yang ada hanya tinggal 10 menitan, maka si orang -yang namanya tidak boleh disebut- tersebut memutuskan diri untuk bertanya pada temannya. Pucuk di cita ulam tiba, temannya baik hati banget mau memberikan jawabannya. Seusai keluar dari ruang ujian, dia mengucapkan hamdallah dan berterima kasih kepada temannya yang sudah membantu menyelesaikan permasalahannya saat ujian.

Selang beberapa menit, dia ngetik SMS pada seseorang –yang namanya tak boleh disebut pula- , “Yang, j3mPut di kampus donk. Aq Ud4gh slSEi Uji4nn nigh..”. ternyata dia termasuk salah satu ALAY yang tersohor di kampusnya. Saat temannya seSMA (yang sudah mengenalnya sejak lama) megingatkannya, “Ingat, khalwat itu dosa. Jangan lupakan Allah juga saat kamu di luar rumah”, secara sederhana dia menjawab “Ah, kan kita gak ngapa-ngapain. Cuma main aja buat ngusir penat setelah ujian”.

—–0000—–

Hati- hati, jika ilustrasi (atau yang semisal dengannya) di atas ada di hadapan kita, atau kita menjadi salah satu di antaranya, bisa jadi kita baru setengah yakin pada Allah SWT, kita 100% mengimani keberadaannya, namun tidak mengimaninya dalam hal kepengaturan kita sebagai manusia ciptaanNya. Bisa jadi! Saya bukan menghakimi, namun ada kemungkinan kita mengesampingkan Allah di luar shalat kita, di luar puasa kita, di luar zakat kita. Kita hanya menganggap bahwa Allah ada di mana-mana, namun tidak mengawasi kita. Kalangan modern menyebutkan istilah tersebut sebagai sekulerisasi, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Menggunakan agama saat ibadah ritual, namun menelantarkannya saat berada dalam ranah social kemasyarakatan(missal pergaulan), perjual belian, dsb merupakan salah satu indikasi bahwa kadar keyakinan kita akan keberadaan Allah sebagai pengatur dalam seluruh kehidupan kita masih 0%. Itulah SEKULERISASI (tindakannya), sedangkan pemahamannya di sebut SEKULERSIME.

Waspadalah bahaya laten sekulerisme! Dia menyerang manusia dan manusia secara tidak sadar menyenanginya. Waspadalah! (sumpah, mirip banget dengan iklan pemerintah yang ada di jalan-jalan buat nolak komunis!)

—-0000—–

“Ya itulah akibatnya kalau syariat Islam tidak diterapkan dan ditegakkan, kriminalitas makin menggunung, seks bebas membludak, korupsi terjadi gila-gilaan. Coba dech pemerintah kita mau menerpakan syariat Islam, insyaAllah kejadian seperti itu sangat sedikit jumlahnya. Apalagi kalau penerapnya orang yang amanah”.

“Kita harus tahu konteksnya dulu. Islam dulu bisa diterapkan, namun kalau sekarang jamannya udah jauh berbeda dengan dulu pada waktu Rasulullah beserta sahabat. Islam kompatibel buat warga Arab pada dahulu kala, tapi sekarang coba kita lebih cermati kondisi yang ada. Gak mungkin kita menerapkannya”.

Eiittttsss, hati-hati dengan statemen ini! Yang seperti ini bisa jadi keimanannya pada Allah SWT 100%, namun keimanan bahwa Allah adalah Pengatur kita masih di bawah 50%.

Dengan kata lain, ikrarnya terhadap kekuasaan Allah hanya sebatas “ Saya beriman pada Allah SWT, dan meyakini 5% bahwa Dialah yang mengatur kehidupan kita di dunia”. Nudzubillah tsumma naudzubillah…

Hope we’ll always in His mercy and protection.. Amiiinnnn….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s