Social Change


“…Perubahan sosial (social change) yang bergerak melalui rekayasa sosial harus dimulai dengan perubahan cara berpikir…. Mustahil ada perubahan ke arah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak kita…. Problem adalah adanya perbedaan antara das sein (yang nyata) dan das sollen (yang seharusnya).” Jalaluddin Rakhmat,1999

Pernyataan di atas adalah rumus sederhana jika ingin mengubah tatanan masyarakat yang saat ini tengah dalam kecarut-marutan. Perubahan social tidak akan pernah terwujud tanpa ada bentuk penyadaran terhadap pentingnya melakukan perubahan. Hal ini terkesan sepele, namun akan menjadi masalah besar jika konsep ini tidak dipahami oleh manusia-manusia yang menginginkan perubahan. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus revolusi yang ada di wilayah Timur Tengah. Pecahnya revolusi diawali dari semangat perubahan akibat penindasan yang berkepanjangan. Hampir seluruh rakyat di Negara-negara Timur Tengah menginginkan pergantian rezim dengan harapan penderitaan mereka bisa berakhir. Namun apa yang terjadi setelah tuntutan penurunan pemimpin-pemimpin mereka?

Hasilnya nothing! (katakan ini dengan full of expression agar lebih berasa fantastic!)
Mereka memang mendapati pergantian penguasa, namun nasib mereka ternyata juga tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Di sinilah kepentingan pengkajian atas konsep perubahan yang benar seperti apa.

Bergerak tanpa arah adalah hal bodoh. Sedangkan bergerak melawan arus (karena dalam hal ini kita ingin memperbaiki kehidupan yang terpuruk) sendirian itu sangat konyol adanya, maka penting bagi kita untuk: pertama mengkaji konsep perubahan yang hakiki. Kedua meleburkan diri dalam barisan yang berjuang menyerukan perubahan.
Pertama, jika berbicara masalah bagaimana caranya mewujudkan perubahan di tengah-tengah lautan manusia di bumi ini, marilah kita menengok sejarah paling fenomenal sepanjang masa dari apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad Saw untuk mengubah kondisi penduduk Arab jahiliyah (bodoh, terbelakang-red). Kenapa kita harus menengok perjuangan beliau? Karena kita muslim dan karena tidak ada proses perubahan social yang paling berhasil kecuali yang dilakukan oleh Rasulullah Saw (hanya itu jawabannya!). Perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah perjuangan mewujudkan kehidupan Islam melalui tahapan tertentu. Untuk mendapatkan pejuang-pejuang yang tangguh, beliau melakukan pembinaan pada keluarga dan sahabatnya. Untuk membentuk opini di tengah masayarakat Arab, Rasulullah melakukan masyirah (aksi) menyerukan untuk beriman pada Allah dan RasulNya dengan mengucapkan kalimatus syahadah. Sementara untuk mengefektifan perubahan secara massif, beliau merangkul para tokoh masyarakat yang menjadi panutan masyarakat Arab (yang saat itu banyak terwujud dalam bani-bani). Perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah perjuangan melalui pemikiran tanpa kekerasan, hingga pada akhirnya Rasulullah bersama sahabatnya berhasil mendirikan Daulah Khilafah Islamiyyah pertama di Madinah al-Munawarah. Semua perubahan masayarakat yang dilakukan oleh Rasulullah dilakukan atas dasar keimanan pada Allah SWT dan kesabaran beliau bersama sahabat dalam menyerukan Islam ke tengah-tengah umat. Sehingga ketika kita mau melakukan perubahan, mau dan harus mau, tahapan dan metode yang ditempun pun juga harus sama (kata-kata yang mbulet!)
Kedua, Satu lidi tak akan berpengaruh pada dedaunan kering yang berserakan, namun ratusan lidi akan sangat efektif untuk membersihkan dedaunan kering yang berserakan, bahkan ranting yang tak bergunapun akan disingkirkannya. Kata-kata ini mungkin sering diucapkan dalam training-training skala nasional. Tak ada salahnya saya mengutip, karena esensi yang ingin saya tuliskan pun juga tak jauh berbeda. Jika semangat sudah ada, maka berbarislah di tengah-tengah orang yang menginginkan perubahan yang sama denganmu. Allah pun sudah menyerukan pada umatNya yang beriman untuk bergabung dalam barisan perjuangan amar ma’ruf nahiy munkar dalam surat Ali Imron ayat 104 berikut:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat itu secara tidak langsung menyuruh manusia untuk membentuk suatu kelompok (jamaah) untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah manusia. Ayat itu juga yang menjelaskan bagaimana suatu perubahan haruslah dilakukan oleh suatu jamaah, bukan oleh satu orang. Saat ini sudah banyak jamaah yang menyebutkan dirinya sebagai jamaah dakwah, tantangan yang kita hadapi adalah: mana yang harus kita pilih? (dan ini sangat menuntut kebijakan kita dalam membuat keputusan).
Akhir kata (tanpa berakhirnya pertemuan kita), saya kutip lirik lagu yang cukup menarik (saya lupa siapa yang menyanyikan):

There’s a place out there for us
More than just a prayer or anything we’ve ever dreamed of.
So if you feel like giving up
Cause you don’t fit in down here
Fear is crashing in
close your eyes and take my hand.

Dedicated to everyone who wants a better life with a better system and better people. There is a place out there for us more than just a prayer or anything we’ve ever dreamed of. Because Allah promises something beyond human hopes.

Surabaya, 3-11-2011

One thought on “Social Change

  1. Itu lagu soundtrack-nya film Narnia yang entah keberapa, sy lupa. Kalau tidak salah, yang nyanyi adalah Carry Underwood (ini juga kalau tidak salah. Spelling namanya sekitar itulah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s