Indisrections


Sampai kapan keteledoran ini akan berlanjut? Saya seringkali ingin membenarkan setiap kesalahan yang pernah (bahkan seringkali) saya lakukan. Semisal, “Hey, that’s not what I mean!” atau semacam “Just forget it! This is out of human control”. Akan tetapi, bisakah keteledoran atau sebut saja kesalahan harus terjadi berulang-ulang? Bukankah itu tidak wajar?

“Tidak layak seorang muslim terjatuh pada lubang yang sama”

Saya tidak memaksa kalian untuk memahami apa yang saya tulis. Dengan sedikit saja berpikir, mungkin kita seringkali mengalami apa yang dinamakan pewajaran terhadap kesalahan (saya harap kalian bisa mengerti teminologi kata yang saya gunakan). Saya sering mengalaminya. Jujur saja. Bahkan ketika menulis ini pun saya masih terbayang-bayang atas kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan seumur hidup saya. Saya sebut sebagai kesalahan terbesar karena ini menyangkut haat hidup orang banyak (taruhlah saya saat ini sedang berlagak jadi alay). Netbook andalan saya kena air! Semua harus menertawakan kelakuan saya! Wajib! Karena keteledoran saya yang sudah tidak bisa ditolerir lagi.

To my Mom, bhyanae.. cheungmal bhyanae.. Lagi-lagi saya membuatmu galau T_T
Starting today, I’ll try to eliminate all of my indisrections..ya, saya akan mencoba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s