Simalakama


Seorang manusia tengah terduduk lemas. Perlahan-lahan dia meluruskan kakinya yang sempat terbujur kaku secara sporadis saat dia tengah berjalan melenggang pata-pata di jalanan ibu kota. Sembari memijat-mijat kakinya, dia merenungkan apa yang baru saja terjadi padanya. Kakinya sakit, dia bingung mau melewati jalan yang mana untuk pulang ke rumahnya. Jalan satu lebih cepat namun banyak tanjakan, jalan yang kedua panjang namun tidak ada tanjakannya. Sedangkan mau naik angkot lagi tidak punya ongkos karena habis untuk beli makan. Ottokhae??[1]
“ What did just happen?”

Persis! Sama halnya dengan apa yang sama alami ketika berbicara masalah vaksin, vaksinasi, dan imunisasi. Ragam data dan argument bersliweran di depan saya. Mereka layaknya mengejek dan menertawakan kebingungan saya. “ Saya benar! Tidak, tidak bisa! Kamu salah! “
Mana yang harus saya ikuti? Apakah semua ini terkesan berat bagi saya karena keterdangkalan ilmu yang saya miliki? Semoga saja seperti itu. Terpikirkan sejenak untuk membiarkan hal tersebut berlalu begitu saja. Namun, setelah dipikir-pikir kembali. Bagaimana saya bisa mengambil sikap jika saya tidak mencoba untuk mencari mana yang benar dan mana yang salah, mana yang layak diikuti dan mana yang tidak layak untuk diikuti?

Saya belum pernah memakan buah simalakama, bahkan melihatnya pun belum. Namun saat dihadapkan dengan masalah ini, seakan-akan saya bisa merasakan simalakama ada di genggaman tangan saya. Melemparnya, atau memakannya. Melemparnya saya akan kelaparan, memakannya saya akan sekarat. Menolak vaksinasi tanpa dalih dan bukti yang jelas sama halnya saya mengorbankan jutaan anak negeri yang berisiko terkena infeksi virus, sedangkan menerimanya tanpa mempunyai dalih dan bukti yang jelas tidak akan berbeda jauh. Menerima vaksinasi sama halnya saya memberikan peluang pada paparan-paparan bahan kimia pada anak. Saya memang belum memiliki anak, namun tidak bisa dipungkiri bahwa suatu saat nanti kebingungan-kebingungan ini akan tetap ada jika saya tidak mencari tahu kebenarannya.

Ottokhae??

Ok, bagaimana kalau kita belajar bersama? Untuk menghindari terjadinya taklid buta atau jumping to conclusion semata. Biar kita tidak terkesan ujug-ujug ketika menerima suatu pemahaman yang baru, biar kita tidak mudah mempolitisir ataupun dipolitisir oleh pihak manapun. Tanpa mengurangi hormat saya dengan mereka yang memaparkan sederet data dan argument untuk meyakinkan hujjahnya, maka saya katakan: biarkan saya mempelajarinya, biarkan saya turut mengkajinya, biarkan saya mencari bukti-bukti yang lebih banyak tentang semuanya sehingga nanti saya bisa tegap mengambil sikap dan berkata, “Saya memilih ini.”

Satu hal yang saya takuti dengan ilmu yang saya miliki adalah ketika keberadaan ilmu itu tidak membawa manfaat pada orang lain, bahkan justru membahayakan orang lain dan membawa kesesatan pada orang lain. Naudubillah..

So what?? Pastinya kalian menanyakan bagaimana hasil analisis saya terkait vaksin, vaksinasi, dan imunisasi ya? Saya masih mempelajarinya, jadi biarkan saya bersemedi lebih lama. Jika saya sudah menemukan, saya akan memposting hasilnya. Ataukah ada di antara kalian yang sudah mempunyai bukti yang nyata tentangnya? Kalau iya, mana berikan pada saya!🙂

Surabaya, 3 Oktober 2011 saya yang hampir gila gara-gara isu vaksinasi.
__________________________________________________________
[1] What should I do? Bahasa korea akhir-akhir begitu saya sukai. Entah kerasukan setan apa sehingga saya bisa begini.

Enjoy my complaint. Hope you will not be bored with it! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s