Gara-gara “Pa-Pa”


Saya baru benar-benar bisa menulis saat liburan, sok sibuk dan sok ngartis. Saya mau menulis apa? Sebentar-sebentar, saya makan astor dulu. Hehe.. agaknya setelah collapsed di akhir-akhir ramadhan kemarin, saya sedikit harus dimanjakan. Haha.. sedikit dimanjakan.

Oke oke, saya akan mulai bercerita sedikit apa yang saya alami selama di rumah.

Pada suatu malam sebelum lebaran..

“Terima kasih atas pinjaman motornya. Lagi buat kue ya?! Sini aku bantu.”

Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan yang sungguh menyenangkan. Di tengah saya merasakan sedikit lemas, ada yang membantu ibu menyelesaikan kue lebaran untuk Mbah Uti (Mbah Putri versi saya, sedulur kandung dan sepupu saya). Saya yang merasa ogah-ogahan membantu ibu bikin kue, jadi tersemangati karena kesediannya untuk membantu. Sungguh anak yang tidak tahu diri.. (tapi sebelum menghakimi saya, ada baiknya kalian tahu bagaimana ribetnya bikin kue itu). Hoho, she was my hero. My herooooohhhhh!! Dialah saudaranya tetangga saya (yang sudah dianggap saudara sendiri).

Lalu, di tengah keasyikan saya membentuk-bentuk adonan kue, terdengar dering telepon. Ternyata datang dari saku my hero. Jelas saja bukan punya saya. Selama di rumah, saya jarang sekali memperhatikan HP kesayangan ada di mana. Apalagi bunyinya aneh begitu. Setelah telepon dijawab, saya pun tetap melanjutkan membentuk kue. Tak ada yang aneh. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakannya, namun tidak disangka-sangka suaranya makin lama makin jelas sekali.

“Papa mah enggak bisa diajak bercanda”

Hah?? Haha.. dia menyebut jelas sekali kata itu. PA-PA! Saya sudah bisa menebak siapa yang ada di ujung sana bercengkrama dengannya. Jelas bukan ayahnya, karena ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Jadi…………….. Ah, tebak sendiri itu siapa. Orang seumuran saya dan belum berstatus kawin mah tentu memiliki panggilan kesayangan tersendiri bagi pasangannya.

Hoaaaaaaaaaaargggghhhh!!! Ingin muntah saja rasanya. Antara ingin tertawa dan menangis dibuatnya. Bagaimana ya rasanya? Saya tidak bisa menjelaskannya pada kalian, karena mungkin kalian lebih berpengalaman dibanding saya dalam menghadapi orang semacam itu.

Chinca !![1] Pa-Pa…. (katakan dengan penuh penekanan). Pa-Pa!

Saya masih belum habis pikir. How can it be? Apakah saya yang terlalu berlebihan dalam menanggapinya? Ataukah memang saya yang terlalu katrok? Sebentar sebentar, kalau Oppa [2] saya sering dengar. Hehe..
$$$$$$$$$$$$$

Lagi-lagi hal ini membuat saya berpikir, cinta anak-anak jaman sekarang adalah cinta gila. Benar-benar gila! Sebelum menikah saja mereka sudah membiasakan diri memanggil pasangan (maksiatnya) dengan sebutan aneh-aneh. Iya, kalau nanti bakal jadi suami/istrinya? Kalau gak? Mungkin akan seperti ini jadinya,
senyum
“Hah, itu dulu mantan papah saya. Yang itu mantan ayang saya. Itu tuh, yang pake baju ijo, mantan bini gua.” Jiaaaaaaaaaa…. Di manakah akal sehat kalian ini, huh? (saya tidak tahu saya ini mencak-mencak pada siapa).

Saya yakin ini hanya bagian terkecil yang ada di tempat saya. Mungkin kalian juga mendapatinya, mengalami sesuatu yang tidak jauh beda dengan saya, atau mungkin lebih ektsrem dari yang saya alami. Sekali lagi, ini hanya bagian terkecil dari kerusakan pergaulan remaja negeri ini. Kenapa saya sebut sebagai kerusakan? Simple saja, karena ketololan berjamaah yang sengaja dipelihara oleh mereka –yang mengatasnamakan cinta- hanya akan berujung pada ketidakberesan.

Ketidakberesan?

Sebutlah, kecelakaan sebelum kematian (hilangnya keperawanan sebelum waktunya), frustrated, clubbing, bahkan aborsi. Memang banyak yang berakhir dengan pernikahan, tapi pernikahan yang “agak dipaksakan”. Saya rasa kalian tahu apa yang saya maksud.

Dengan demikian, saya benar-benar meyakini bahwa pemikiran “kebebasan dalam keterbatasan” tidaklah ada dalam konsep kehidupan yang sekarang. Meskipun undang-undang sudah dibuat jauh-jauh hari sebelumnya, namon toh faktanya tetap sama saja. Adanya hukum tanpa adanya sanksi yang menjerakan tidaklah berguna. Dan, adanya sanksi tanpa ada pelaksana yang amanah adalah sia-sia belaka. Saya bisa katakan bahwa system kehidupan yang ada saat ini hanyalah system setan. Jika kedengarannya agak tidak enak, sebutlah sebagai system hewan. Adakah penyebutan yang lebih layak untuk sebuah system -yang sudah menjauhkan manusia dari kemanusiawiannya – selain dari system setan dan hewan? Saya rasa tidak.

Sebentar-sebentar, adakah undang-undang kita yang mengatur tentang system pergaulan secara rinci? Saya rasa tidak ada. Jika ada, bolehlah kalian sodorkan pada saya. Pasti ada kecacatannya. Pasti! Karena undang-undang di negara kita hanyalah berdasar pada logika berpikir dangkal manusia. Betul betul betul? Maka, bertanyalah pada saya,

“system apa yang patut bagi manusia?”, kemudian secara sederhana saya akan menjawabnya,

“Hanya Islam”
________________________________
Trenggalek, 4 September 2011
[1] Really dalam bahasa Korea
[2] Sebutan untuk laki-laki yang lebih dewasa, biasanya untuk menunjukkan kedekatan antar seorang wanita dengan seorang pria. (Korean)

One thought on “Gara-gara “Pa-Pa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s