Sort of Drama


Pernahkah kamu melihat seseorang yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan berbuka? Meski saya belum melihatnya, namun saya sudah pernah mendengar cerita tentangnya. Katanya, dia berjalan ke kampus yang jaraknya hampir 2km setiap pagi dan sore, dan tidak makan sahur saat orang-orang yang lain menikmati hidangan sahur. Apakah kamu benar-benar pernah melihatnya?

Saya belum mengenalnya dan tentu saja saya belum melihatnya langsung, tapi saya berharap bisa mengenalnya dengan baik. Entahlah, saya ingin belajar banyak darinya, menggali berbagai hikmah kehidupan yang pernah dicicipinya, bahkan membantunya jika kelak saya sudah mengenalnya. Bagi saya, membuang makanan itu bukanlah hal yang susah. Dengan nafsu makan saya yang seringkali buruk, saya seringkali membuang nasi yang sudah susah payah saya beli. Alasannya sangat sederhana, “Aku tidak kuat lagi untuk menghabiskannya”. Kamu pasti bisa membayangkan bagaimana naifnya saya, kan?

Melihat orang lalu lalang di pinggir jalan, mengharap iba pada pengendara merupakan hal yang seringkali saya lihat. Selalu saja air mata tak bisa dikendalikan. Ada simpati, namun bukan empati. Karena saya tidak mengenalnya, tidak mengetahui kehidupannya seperti apa. Kemudian simpati pun terhenti sampai di tempat saya melihatnya, dan perasaan itu pun hilang secara cepat. Lagi-lagi, saya bukan orang yang pandai mengambil pelajaran dari apa yang saya lihat. Saya, katakanlah sebagai orang yang jarang bersyukur.

Saudaraku, bersabarlah..
Dalam ketidakberdayaanku, aku akan ulurkan tangan ini untukmu,
Aku tahu payahku tak ada bandingnya dengan ujianmu,
Namun bersabarlah,
Semoga barokah Allah selalu menyertaimu..

Apa yang harus saya lakukan? Saya bahkan tidak bisa membantu mereka secara materi. Berteriak-teriak menuntut haknya pada penguasa adalah sedikit yang bisa saya upayakan untuk mereka. Ah, saya tidak tahan lagi untuk menahan tangis ini.

Ya, saya menangis. Menangis atas apa yang terjadi pada saudara yang belum saya kenal, sekaligus menangisi ketidakpekaan dan ketidakdewasaan diri ini.

Life is a sort of drama. Sometimes it becomes full of smiles, and crying then. Sometimes becomes upper, and beneath then. Whoever can see beyond scene of the life, she/he will be the most grateful person at everything happened. Allah knows the best for us. Just believe it!
_________________________

Surabaya, 22 Agustus 2011.
Inspired by a short story of my friend. Thanks for your story..Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk mengenal seseorang dalam ceritanya.

One thought on “Sort of Drama

  1. pernah saya. di kampus unpad banyak yang kayak gitu, meyra. mau melakukan investigasi? kadang kita harus cukup tegar untuk melihat itu. tegar yang bukan mati rasa, tegar yang bukan pasrah. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s