PART 19


“Jadi, dulu pernah dikecewakan cowok?” saya memastikan apa yang barusan saya dengar.

“Kurang lebih seperti itu”, dia menjawabnya singkat. Kembali lagi diri ini mencoba menyelami pikiran teman yang pernah mengalami skyzoprenia di masa lalunya.

Saya dan teman saya mencoba mendengarkan dan memahami alur cerita yang berusaha dia ungkapkan. Dan memang pada kenyataannya, orang yang selama ini sering membuat saya kesal, pernah mengalami trauma tersendiri di masa lalunya. Dugaan saya tidak meleset sama sekali! Something happened at the past. Sesuatu dari masa lalunya yang menjadikannya seperti saat ini. dia yang aneh, susah ditebak, sering bikin kesal orang dan segudang deskripsi yang susah diungkapkan.

“Hmm, Mbak tahu kenapa Mbak bisa seperti itu? Maksudnya kecewa hingga depresi berat seperti yang sampean alami?”
Dia terdiam, teman saya pun terdiam.

“Kekecewaan bisa terjadi lantaran seseorang menaruh harapan yang begitu besar atas sesuatu. Mbak dulu begitu berharap padanya. Benar kan?” , saya membuka kembali percakapan yang sempat terhenti selama beberapa detik.

“Iya”

Dugaan saya tidak ada yang meleset sama sekali. Kecewa telah membawanya pada kehidupan yang mengenaskan. Bukan sekedar kecewa, namun harapan yang meluap-luap, dan kesedihan yang dialaminya lantaran tidak disetujui oleh orang tuanya membawa pengaruh psikologis tersendiri padanya.

Ah, kasihan sekali orang ini! Hawa rumah sakit jiwa bahkan pernah dirasakannya. Ada rasa sedikit takut saat menghadapinya. Namun dalam hati saya meyakinkan, “Pasti bisa diajak bicara dan pasti dia mau terbuka tentang apa yang dialaminya”.

“Terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan itu memang tidak baik. Orang gila itu bisa gila karena dia terlalu ambisius terhadap perasaannya. Dengan kata lain, mengedepankan perasaan dari pada logika berpikirnya. Tidak heran jika sampean mengalami hal yang demikian”, saya memastikan apa pernah dialaminya. Kemudian dia terdiam, mengakui kesalahan di masa lalunya.

“Lalu, apa keinginan sampean ke depannya? Seberapa besar keinginan sampean untuk sembuh dari ini?” , saya tidak tahu kenapa saya menanyakan hal yang tidak penting seperti ini. Saya hanya ingin dia bercerita banyak hal tentang masa lalunya. Entah kenapa saat itu rasa empati saya terhadapnya begitu besar. Sebal yang seringkali saya alami karenanya menguap entah ke mana.

“Sangat ingin. Aku gak tahu bagaimana ke depannya. Yang pasti aku ingin hidup normal seperti kebanyakan orang, dan tidak mau mengulangi kebodohanku di masa lalu”

Ok, just be normal ‘you’ then! Ingatlah jika di sekitar sampean ada orang-orang yang bisa diajak bicara ketika sampean mengalami ujian. Dan jangan lupa: jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan! Karena orang yang tenggelam dan terbawa arus kesedihannya bisa memperbesar kemungkinannya untuk mengalami gila permanent. ”

“Benarkah?”, tanyanya.

“Sudah ada buktinya, kan?”, saya sedikit menggodanya.

“Ah, Meyra!”

Dan malam itu, saya benar-benar mengakui keajaiban Allah yang diberikan pada manusia: logika berpikir yang dimilikinya. The most precious one in human life! Harta berharga ini tidak akan pernah bisa tergantikan dengan apapun. Karena manusia menyelesaikan masalahnya melalui akal dan logika berpikir yang dimilikinya. Tentu saja dengan sederet pedoman yang ada dalam keyakinannya. Dan ketika Islam datang untuk menjadi pedoman dalam jalannya harmonsasi kehidupan, maka sejak saat itu logika berpikir manusia haruslah disandarkan pada qanunnya.

Thanks God, Alhamdulillah, You give the best thing that I’ve never ask before: COMMON SENSE!
______________
Probolinggo, diselesaikan di detik-detik kepulangan, 16 Agustus 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s