PART 17


Saya ingin menyumpal telinga saya rapat-rapat agar tidak bisa mendengar perkataan dan umpatan teman-teman saya.

“Jamb***! Kalau gak niat datang gak usah sekalian datang. Ngrepoti orang saja!”

“Culun! Ngirim buah gak niat banget! Masa buah mentah kaya gini suruh makan menantunya yang lagi hamil?!”

Ah, sudahlah! Hentikan gerutu-gerutu yang tidak penting itu!

Berkatalah yang baik, atau jika tidak bisa diamlah! Telinga ini sudah cukup panas dengan semuanya. Tidak perlu diulang-ulang terus! Kasihan yang mendengar, gak dapat pahala, nambah dosa iya!

Peringatan demi peringatan sudah saya luncurkan, namun hasilnya nihil. Bosan juga rasanya tiap hari harus mengulangi statement yang sama.

@@@@

Teramat susah mengubah sebuah kebiasaan. Memang benar! Orang yang memiliki kebiasaan mengumpat, mengeluarkan kutukan-kutukan gak jelas tujuannya, sangat susah diarahkan. Sekali dua kali akan bisa dikendalikan, namun yang namanya keceplosan tak mungkin bisa dihindarkan.

Mulutmu, harimaumu!

Jangan pernah bermain-main dengan kata, terlebih umpatan! Karena umpatan layaknya candu! Sekali mengucap, akan menuntut lidah manusia untuk mengulanginya.

Sial! Lagi-lagi saya gak bisa tidur.

Berarti saya mengumpat? Ah, ini tidak sepenuhnya mengumpat. Hanya sedikit menyesali. Hehe..

Hati-hati, kawan! Jaga keluarnya umpatanmu di hadapan orang! Namun jika melihat para pemimpin kita mendzalimi rakyatnya, maka jangan sungkan untuk mengeluarkannya! Muehehe…

-Probolinggo, 8 Agustus 2011 waktu tengah malam. Saat umpatan memberi¬ inspirasi pada tulisan sederhana saya—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s