PART 16


Apa yang terjadi jika satu masalah tidak dianggap sebagai masalah sama sekali?

“Hoe, loe buang berak sembarangan! Ganggu mata tahu! Jorok, gak tahu malu! Apa loe gak sadar?”

“Hah? Kamu ini bilang apa?”, dengan menampakkan wajah innocent dan agak malas, kemudian orang tersebut memberikan pernyataan sederhana,” semua orang di sini melakukan hal ini. Kita baik-baik saja, tidak sakit. Kami juga tidak jorok berak sembarangan. Karena kita berak di kali. Kami juga mandi, jadi tak mungkin kita jorok. Kenapa kamu teriak-teriak gak jelas seperti itu? Kamu gila, ya?”

!@@#$%^???? “Kamu …. (geram)

Skak Mat! Mati gaya!


Pernah mengalami hal yang demikian?
Tidak? Ah, tidak keren sekali! :p
Setidaknya ini yang saya alami saat mengikuti seminar PKL pertama tanggal 30 Juli 2011 kemarin. Ilustrasi tersebut mungkin bisa mewakili apa yang ada dalam kepala teman-teman saya waktu menghadapi permasalahan yang ada di desanya. Beberapa teman mahasiswa mengemukakan bahwa aktivitas BAB (buang air besar), mandi, dan mencuci di kali bukanlah sebagai satu masalah bagi masyarakat setempat. Jelas saja teman-teman saya ini bingung mau melakukan apa. Mau dikasih jamban secara gratis juga wasting time n money. Mau dikasih penyuluhan saja juga tidak bakal berpengaruh.

Hmm.. hmmm, saya yang berdiam diri sedari awal kedatangan di tempat seminar, hanya bergumam pelan. Konyol!

Sembari tersenyum kecut, saya sedikit mikir. Huh, bisa jadi negeri ini semakin parah dari hari ke hari karena orang-orangnya tidak menyadari bahwa negeri ini sebenarnya sedang bermasalah, atau mereka menyadari masalah itu ada, namun tidak tahu jalan keluarnya bagaimana.
(mengangguk-angguk, bergeleng-geleng bak orang serius, dan setengah menyipitkan mata)

atau bisa jadi sebenarnya saat ini kita sedang bermasalah, namun tidak menyadari jika kita sedang bermasalah. Konyol sekali, bukan? Lantas bagaimana bisa terselesaikan jika seperti ini? Ah, orang lain akan menertawakan kebodohan kita jika seperti ini kita sebenarnya.
Sepertinya hal ini terdengar sepele, namun sebenarnya sangat memusingkan. Rumit, penuh liku, dan membingungkan. Bagaimana agar kita, kamu, kalian dan semua manusia menganggap sesuatu itu sebagai masalah? Atau levelnya saya turunkan: bagaimana agar manusia peka terhadap sesuatu yang bermasalah?

Jawabannya hanya satu, bukan setengah atau seperempat, yaitu: Ilmu. Karena dengan ilmu, manusia bisa tahu di mana letak kesalahan , ketidakidealan, dan ke-stupid-annya. Sehingga setelah manusia mendapatkan secuil ilmu, paling tidak mereka akan bergumam pelan, “Owh, jadi harus gitu, ya..” atau “Kok begitu, ya?” atau bagi yang lagi sariawan cukup dengan “Hmm..Hmmm”

Rasulullah Saw. pun menyampaikan tentang ilmu :
“tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”

Bagi seorang muslim, ilmu laksana map. Bahasa ndesonya peta. Peta inilah yang menunjukkan pada manusia bagaimana ia sebaiknya. Orang bisa gila jika hidup tanpa tujuan. Namun akan jauh lebih gila jika manusia berjalan tanpa mengenggam peta di tangannya. Dia akan tersesat sesesat-sesatnya, terjebak pada jalan-jalan yang tak seharusnya dilalui, bahkan lebih parah lagi hilang diterkam keganasan orang hutan! (Jika hutan yang dilewati)

Mau tahu contohnya? Lihatlah para pemimpin kita yang berjalan tanpa ilmu yang mumpuni! Entah ilmu dalam bidangnya maupun ilmu agama. Kasihan sekali mereka gila dengan jabatannya. Ckckck… (geleng-geleng)

Ilmulah yang bisa mengurai benang kusut permasalahan menjadi helai-helai benang pencerahan. Ilmu memang tidak seketika menyelesaikan permasalah manusia, namun ilmu menunjukkan bagaimana seharusnya permalahan tersebut diuraikan, diselesaikan hingga tidak menjadi permasalahan kembali di masa yang akan datang. Ilmu setidaknya menunjukkan pada manusia bagaimana caranya meminimalisir permasalahan yang tengah dihadapinya. Ilmu, satu kata namun luar biasa hebatnya.
Pantas saja orang-orang jaman sekarang sama sekali tidak peka pada permasalahan yang ada di sekitarnya. Salah satu alasan sederhananya: akses terhadap pendidikan sangat susah. Ibarat seorang Meyra tengah merindukan bulan dapat direngkuhnya. Mahal sangat! Bukan begitu? Jika kalian orang-orang yang berpikir, maka tak usahlah saya paparkan fakta ketermahalan pendidikan kita. Cukup ingatlah jargon Universitas Airlangga (salah satunya), “Exellent with modality”!

Belum lagi ditambah motivasi yang sangat minim dari manusianya sendiri. Wah wah, lengkap sudah keterbodohan manusia Indonesia! Bagaimana mau berubah jika terus-terusan seperti ini, huh?

Hah, makin repot saja dunia ini! Hah, repot repot!

–Diselesaikan tengah malam di Pobolinggo, 8 Agustus 2011. Ditemani lagu menye-menye ala oriental—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s