PART 14


“Masalah ini sangat kompleks. Masalah pengembangan gizi pada ibu dan balita ini gak mungkin terselesaikan hanya dengan program-program kecil seperti ini’, ujar salah satu teman saya yang saat itu sedang mengembangkan rencana program khusus peningkatan kesehatan bagi ibu dan balita. Dia berbicara mengalahkan gayanya bidan desa ketika memberikan ceramah. Wow, so cool!

“Masalahnya ini juga menyangkut kebijakan pemerintah. Kita perlu advokasi pada pemerintah terkait program kita. Nah, masalahnya lagi, kita bisa apa kalau berhadapan dengan kebijakan pemerintah? Kalau sudah seperti ini biasanya berhubungan dengan politik “, tambahnya tanpa ada sedikitpun jeda.

Wah, terharu! Kenapa saya terharu? Pasalnya, teman saya ini paling tidak nyambung jika diajak berbicara masalah seperti ini. Meski ending statemennya agak gak mengenakkan telinga, tapi saya sedikit acungkan jempol buat kekritisannya kali ini. Baravo! [1]

“Sayang PKL kita cuma sebentar. Masalah kompleks, penyelesaiannya pun juga tidak bisa cuma dengan satu atau dua program. Apalagi program kita ini sama sekali belum menyentuh akar permasalahannya. Bisa dikatakan kita hanya menyelesaikan permasalahan cabangnya”, [2] celetuk saya sok bijak. Maksud hati memancing pembicaraan pada hal-hal yang lebih sensitive, namun apa daya maksud hati tak sampai.

“Ayo-ayo, segera dikumpulkan. Entar kalau sudah selesai, langsung dikumpulkan ke Ninin ya..”

Huhft, ni anak mengganggu pembicaraan saja! Akhirnya, kami kembali berkutat pada masing-masing tanggung jawab.

Permasalahan cabang dan permasalahan akar tak akan ada habisnya untuk dibahas. Terkadang saya sendiri bingung ketika dihadapkan pada suatu kasus yang seringkali penyelesaiannya hanya pada tataran praktis tanpa konsep yang jelas. Masalah gizi buruk misalnya [3]. Selalu dari dulu intervensinya dengan pemberian makanan tambahan Modisco [4] atau paling banter penyuluhan serta pelatihan pada kader dan ibu balita. Hah, saya bosan dengan semua solusi pragmatis tersebut.

Tidakkah menyadari bahwa di balik semua faktor yang mempengaruhi angka gizi buruk tersebut terdapat orang-orang yang sengaja melalaikan diri dari tanggung jawabnya? Mereka sembunyi di balik program-program pragmatis yang dibuatnya, sembunyi di balik dana-dana kecil yang digelontorkan untuknya. Merekalah orang-orang yang tidak tahu malu, tidak peduli amanah, dan tidak peduli hari penghisaban, yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat dan pelayan umat. Hah, gombal!
Kepedulian individu dan masyarakat tidak bisa menjadi jaminan untuk menarik orang-orang tersebut dari masalahnya. Negaralah yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini. Negara melalui tangan-tangan pemimpinnya! Karena mereka dipilih untuk mengayomi, mendampingi, serta menjaga rakyat, bukan justru menambah penderitaan rakyat bahkan menindas rakyat seperti saat ini.

Ah, miris sekali!
Ya Allah, sampai kapan penderitaan negeri ini?

Kami tahu Engkau tidak pernah tidur, kami tahu Engkau tak pernah lalai sedikitpun dalam mengawasi kami, kami tahu Engkau tak pernah memberikan ketidakadilan pada kami.
Engkau inginkan kami belajar dari semua ini, bukan? Kami tahu Ya Rabb, namun banyak saudara kami yang tak mau memikirkan hikmah di balik semua ini, pelajaran apa yang harus kami ambil dari semua ini, dan lebih jauh hanya pasrah terhadap ujianMu ini.

“Allahummaj’allana daulatan Islamiyatan karimatan, allatii tu’izzu bihal Islam wa ahlahu, wa tudzillu bihal kufra wa tughyaana wa ahlawu”

Ya Allah, jadikan untuk kami negara yang Islami lagi mulia, yang dengannya Engkau muliakan Islam dan umatnya, dan dengannya (pula) Engkau hinakan kekufuran dan thaghut beserta para pembelanya.

–Probolinggo, 29 Juli 2011. Saat insomnia ditemani alunan instrument yang menyentuh. Pasti bertanya-tanya, kenapa saya tidak mendengarkan murotal aja yang lebih bermanfaat? Hmm, hanya saya dan Allah yang tahu alasannya–
___________
[1] Bravo, namun jika diucapkan orang Jepang akan terdengar Baravo.
[2] Statemen itu sangat berat diucapkan, pasalnya saya sendiri tidak mau hidup terlalu lama di desa yang terpencil seperti ini.
[3] Masalah yang paling sering menjadi bahan perbincangan di setiap mata kuliah kesehatan masyarakat.
[4] Modisco = Modified Dried Skimmed Milk and Coconut. terdiri dari susu formula, gula pasir, dan minyak goreng. Modisco adalah solusi praktis untuk menambah berat badan balita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s