PART 8


Lima hari belakangan ini, focus teman-teman PKL saya tengah tertuju pada survey warga. Survey itu kami lakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) dengan pasangan usia subur (PUS), baik dia yang menjadi pihak suami, maupun dia yang menjadi pihak istri. Wawancara tersebut kami lakukan dalam rangka survey gambaran ibu menyusui dan asupan gizi untuk keluarga. Tentu setiap rumah yang kami datangi akan selalu ditemui yang namanya balita.

Dari sekitar tujuh rumah yang saya masuki, ada beberapa yang memiliki balita gizi kurang. Saya bisa pastikan bahwa dia termasuk gizi kurang karena memang antara usia dengan pertumbuhan dan perkembangannya sangat tidak sesuai.

“Ini dulu gak ASI, Mbak. Jadi ya saya kasih susu aja dah” ,akunya dengan aksen Madura yang sangat kental. Sementara yang lain hanya memperhatikan kami yang saat itu sedang sibuk mencatat dan bertanya-tanya.

“Kalau boleh tahu, kenapa gak dikasih ASI, Mbak?”, tanya saya ingin tahu lebih banyak alasannya tidak memberikan ASI pada buah hatinya.

“Awalnya gak keluar (gak lancar), terus dicoba-coba dia tetap gak mau. Ya sudah, saya kasih susu formula saja dah”, ujarnya secara polos diakhiri kata “dah”. Saya amati kebiasaan orang Madura jika berbicara bahasa Indonesia seringkali di tambahi itu. Lucu dengarnya.

“Berarti sampai sekarang dia berumur 9 bulan hanya minum susu formula gitu ya?”, Tanya saya kembali.

“Gak, Mbak. Dia mau minum susunya hanya sampai 10 hari. Setelah itu dia gak mau dah minum susu.”

Astaghfirullah, saya tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Keterkejutan saya sama halnya dengan teman saya yang saat itu tengah mencatat hasil wawancara dan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya gara-gara statement innocent dari seorang perempuan berumur 18 tahun yang ada dihadapan kami.

Dia bercerita kalau selama ini anaknya hanya minum ai putih atau air teh saja. Sementara untuk makannya, dia hanya memberikan nasi setengah halus.

Ya Allah, miris mendengarnya. Di tengah saya yang saat ini banyak mengeluh di sini, ternyata ada saudara yang jauh lebih memprihatinkan. Kekurangan akses terhadap informasi kesehatan membuatnya harus menghadapi kenyataan yang tidak diingininya. Meskipun buah hatinya tidak mengalami kecacatan sedikitpun, namun apalah artinya jika perkembangan otak tidak sebagaimana mestinya.

Apa yang ingin saya lakukan dengan tulisan ini? Entahlah, saya merasa dalam tulisan kali ini saya tidak punya daya apa-apa untuk membantu mereka. Semua bagaikan lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya.

PKL yang pada awalnya hanya akan berfokus pada ranah kesehatan masyarakat, tidak akan bisa berkutik untuk menyelesaikan semua masalah tanpa ada lagi masalah jika menghadapi kenyataan bahwa yang terjadi pada mereka bersumber dari masalah ekonomi, atau masalah pendidikan yang kurang.

Jika masalahnya hanya pada kekurangan pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat atau kekurang pengetahuan tentang kelebihan ASI dan pemberian makanan bergizi pada keluarga, mungkin tidak jadi masalah. Toh kami juga bisa memberikannya secara cuma-cuma. Namun, apakah dengan begitu masalah akan selesai? Tidak!

Dasar!

Kapan PKL menjadi ajang untuk mencerdaskan umat pada masalah yang sebenarnya? Bosan banget kalau terus-terusan seperti ini! Benar-benar bosan!

Hmm Hmmm… ini belum seberapa, sesi yang lebih parah, akan saya ceritakan di Part selanjutnya.. Biarkan saya bersemedi terlebih dahulu..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s