PART 7


Saya bingung dari mana saya akan menulis. Ketik, hapus, ketik, hapus. Jika pernah melihat orang kehabisan ide, ya begitulah saya sekarang. Namun, bukan ketidak-adaan ide dalam kepala yang menyebabkan saya agak lama membuat tulisan ini, justru banyaknya hal yang ingin saya tuliskan membuat saya kebingungan dari mana sebaiknya saya menceritakan ini pada kalian. Hmm, saya berusaha membagikan semuanya pada kalian, tanpa mengadakan skip dan penambahan sedikitpun.

Akhirnya dia mau menjalankan shalat! Saya tidak tahu apa yang menggerakkan hatinya sehingga dia mau menjalankannya. Alhamdulillah, segala puji bagiNya yang maha membolak-balikkan hati hambaNya.

Maghrib, 18 Juli 2011 ketua PKL saya akhirnya memutuskan untuk ikut dalam barisan makmun shalat berjamaah. Hal yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Setelah guyonan dengan teman-teman yang lain, mencoba membujuknya untuk ikut shalat bersama, dan berujung pada taruhan kecil-kecilan dari teman-teman jika dia mau menjalankan shalat. Ajaib! Dia benar-benar mengambil wudhu dan menyiapkan sarung.

Dari takbiratul ihram hingga selesai dia ikuti. Dia benar-benar serius! Senang hati ini melihat jumlah armada cowok yang melaksanakan shalat akhirnya lengkap tanpa yang absen satu pun. Saya tidak tahu apakah semua itu dilakukan dari hatinya yang paling dalam ataukah dilakukan sekedar untuk memenangkan taruhan dengan teman-teman perempuan saya. Yang jelas, saya tidak mau ikut-ikutan dalam taruhan itu, karena amal yang benar tentu diawali dengan niat dan cara yang benar.

Banyak spekulasi yang muncul setelahnya. Mampu bertahan berapa lama dia dengan ibadahnya, bagaimana bisa teman-teman saya menjalani masa-masa kekalahan dalam taruhan mereka, dan spekulasi-spekulasi lainnya yang mungkin tidak terlafadzkan. Tentu juga banyak yang mempertanyakan kebenaran niat dalam amalnya.

Ah, saya mah gak terlalu peduli dengan itu! Saya tidak berhak membenarkan dan menyalahkan, mengkafirkan dan memukminkan. Perkara hati tidak akan ada yang bisa menilainya. Siapa tahu dia memang sudah mempunyai niat untuk shalat jauh-jauh hari sebelum taruhan itu dilakukan? Atau siapa tahu ketulusan hatinya melebihi ketulusan hati saya dan kalian semua ketika mau mengangkat tangan untuk takbiratul ihram?

Mata kita bisa melihat amalan badan manusia, namun siapa yang bisa mengetahui aktivitas hati manusia?

Saat ini manusia tidak bisa menjamin dirinya akan menjadi orang yang lurus hingga ajal menjemputnya, karena manusia bukanlah penjamin atas dirinya, tidak memiliki daya apa-apa untuk mengubah manusia selain hanya upaya yang bisa dilakukannya. Kita pun tidak berhak menyombongkan diri atas apa yang sudah kita lakukan. Tidak sama sekali!

Istighfar pun meluncur dari lisan saya. Mungkin selama ini saya menganggap lebih darinya atas ibadah dan amalan-amalan yang saya lakukan. Tapi, bisa jadi di hadapan Allah itu semua belum berarti apa-apa hingga saya benar-benar ikhlas dalam pelaksanaannya, hingga tidak ada sedikitpun penyakit hati yang mengiringinya. Kembali diri ini mengontemplasikan kejadian hari ini,

Adakah riya’ dalam hati selama ini?

“Ya muqallibal qullub tsabbit gulubana ‘ala dinnika wa ‘ala tha’atik”

Semoga Allah mengampuni segala penyakit yang terselip di hati dan semoga Allah menjaga iman teman saya.

— Ji, meskipun kamu sangat menyebalkan dan seringkali membuat ubun-ubunku hampir terjerabut karena emosi geram, dalam hati aku turut mendoakanmu. Semoga kamu benar-benar bisa berubah lebih baik ke depannya dan menanggalkan atribut salib yang hampir tiap hari kamu kalungkan di lehermu—

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s