PART VI


Saya kejam sekali hari ini. Saya tidak tahan lagi, tidak tahan dan tidak tahan. Kali ini hanya dengan satu orang saja saya merasa kekesalan saya berada pada level tertingginya. Hah, taukah kalian kalau orang yang saat ini saya ceritakan sedang tiduran di samping saya? Bukankah saya memang mau cari perkara dengannya? Ah, saya tak peduli! Saya hanya ingin dia mengubah perilaku tak semestinya saja. Hanya itu!

Saya akan menceritakan duduk perkaranya seperti apa. Saya tidak akan pernah kesal dengan orang tanpa alasan yang jelas. Banyak orang yang membicarakannya, banyak orang yang menganggapnya tidak waras (dalam arti yang sebenarnya), dan banyak orang yang menganggapnya aneh plus menakutkan. Saya tidak tahu lagi penyebutan apa lagi yang pantas untuk ini.

Jika seseorang bertamu (apalagi di tempat orang yang belum dikenal sebelumnya), paling tidak ada rasa sungkan ketika menghabiskan hidangan secara heboh yang tengah dihadapkan. Namun, apa yang terjadi padanya justru sebaliknya. Katika yang punya rumah berbasa-basi mengatakan agar menghabiskan semua suguhannya, dia benar-benar melakukannya seketika. Tak heran jika semua teman yang saat itu berkunjung ke tempat Pak Carik [1] Kecamatan Gading tertegun melihat pemandangan yang sengaja dicipta oleh teman saya ini. Saya yang dipandang cukup dekat dengannya pun langsung merasakan malu yang teramat sangat. Serasa muka ini langsung pindah ke pantat. Ekstrem kan? Memang! Namun ini belum seberapa. Masih ada lanjutannya.
Sepulang dari basecamp PKL, tentu merasa penat badan ini.

Alhamdulillah setelah melakukan ritual kebersihan badan cukup menghilangkan rasa sumpek dan lelah. Pasca mengambil wudhu, saya kembali ke kamar dan menyempatkan diri untuk tilawatil qur’an. Pada saat saya tengah khusyu’-khusyu’nya membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, tiba-tiba teman saya (pemeran utama dalam tulisan saya) merangsek ke belakang hingga saya tidak bisa melirik tubuhnya. Pada awalnya, saya pikir dia mau beres-beres barang, namun anehnya saya tidak mendengarkan suara apa-apa dari belakang saya.

“Aneh benar!?”, pikir saya.

Saya tetap melanjutkan membaca, mencoba mengusir sejuta tanya yang ada di kepala saya dan berusaha tidak menoleh ke belakang. Setelah menyelesaikan satu surat Ar-ra’du, saya menoleh ke belakang. Dan tahukan apa yang dilakukan oleh teman saya demikian lamanya? Sangat aneh! Dia hanya berdiri dan menatap ke arah yang gak jelas dengan pandangan kosong. Untuk memecah keheningan yang ada, saya bertanya padanya,

“Mbak, lagi ngapain? Kok diem gitu?”

“Gak ngapa-ngapain. Mau tidur tapi ada barang-barang disitu.”

Saya langsung paham apa yang dimaksud dengan barang-barang. Ternyata, dia tidak jadi merebahkan diri di tempat tidur karena ada baju cucian teman saya yang belum sempat dibereskan. Asoy gak tuh?
Karena sudah geram dengan kepolosannya, saya bilang saja seadanya.

“Ya kalau mau tidur, ini barang-barangnya dipindah. Terus bantalnya diambil. Mulai sekarang harus mulai belajar peka. “

“Aku peka kok, tapi emang gak mau aja.” aku dia dengan wajah innocent nya.

“itu namanya belum peka. Kalau peka, pasti dari tadi barang-barangnya dipindah, terus tidur di sini. Emang kenapa gak mau mindahin barang-barang ini?” ujar saya sembari mengangkat baju teman saya yang belum sempat dilipat.

“Gak mau aja!”

Nah loh, pengen ngremus aja nih orang.
Tenang, Mey ! Belanda masih jauh, jangan terbawa emosi dulu. Itu saudaramu yang harus dibimbing untuk proses kedewasaannya. Saya menenangkan diri.

“Mbak aneh, ah! Masa gak mau gak ada alasannya? Harus jelas donk alasannya apa. Males misal. Itu kan alasan juga. “

Dia langsung manyun, menunjukkan raut wajah yang gak jelas.
Wah, salah ngomong lagi ini kayaknya. Nasib-nasib!

Harus bagaimana saya menghadapi orang dengan tingkat kepekaan yang sangat minim ini? harus saya apakan orang yang mengaku pernah dirawat di RSJ karena dianggap gila ini? harus saya apakan orang yang mengaku mengidap Skyzophrenia ini? bagaimana melatih kepekaan pada dirinya? Bagaimana melatih tata krama dan pengaturan mimik muka padanya?

Ah, saya seringkali sebal padanya. Namun kasihan juga. Saya ingin dia berubah, setidaknya supaya dia bisa menampakkan ekpresinya dan berkomunikasi yang baik dengan orang di sekitarnya.

Bisakah??

-Probolinggo, 14 Juli 2011, saat malam kejengkelan saya terhadapnya kerana saya dapat gertakan darinya. Kalian tahu gara-gara apa? gara-gara saya nyanyi! Dan bisa jadi karena dia masih agak kesal pada saya-

_____________________________________________________________
[1] Carik adalah salah satu jabatan perangkat desa. Saya sendiri hingga sekarang tidak seberapa paham dengan struktur kepengurusan desa di Indonesia ini. susah dimengerti rupanya. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s