Fabiayyi ‘ala irabbikuma tukazziban


Hembusan angin yang menerpa wajah
Debar jantung yang melaju lirih
Masihkah kau rasakan?
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Sinar mentari yang menampakkan seluruh keindahan alam ini
Gemericik air hujan yang menyegarkan
Masihkah kau rasakan?
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Jutaan ATP yang terkonversikan dalam derap langkah, konsentrasi, dan teriakan
Keringat yang mengucur
Masihkah kau rasakan?
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Lawan jenis yang memesona
Anak kecil yang menyejukkan hati
Tangis peka pada seorang papa
Masihkah kau rasakan?
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?


Sehat adalah nikmat. Akal sehat adalah nikmat. Seluruh indra yang kita miliki adalah nikmat. Maka, nikmat mana yang masih belum kamu miliki? Bukankah nikmat itu mahal harganya? Berapa nominal yang harus dikeluarkan manusia untuk mendapatkannya?

Allah, Tuhan semesta alam ini memberikan semuanya secara cuma-cuma pada manusia. Namun sayangnya, manusia masih saja sering mengeluhkannya. Lalu, siapa yang kurang ajar?

Betapa sedikit rasa syukur manusia pada pemberianNya, betapa sombong manusia pada nikmatNya, alangkah kurang ajarnya manusia yang suka mencela karuniaNya. Sungguh, nikmat Allah sangat berlimpah, tak terhitung dengan apapun yang ada di dunia, termasuk nyawa kita. Lalu bagaimana jawaban manusia atas ayat ini?

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(TQS. At-Taubah [9]: 41)

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”(TQS. At-Taubah [9] : 38)

Nanti saja Ya Allah, saya masih….

Nanti saja Ya Allah, saya masih ada masalah..

Nant saja Ya Allah, orang tua saya masih belum mengijinkan.. (bla bla bla bla)

ketika ribuan sujud tak kan pernah mampu menggantikan seluruh nikmatNya

Lalu, alasan apalagi yang hendak kita utarakan?? Sungguh, jika nikmat Allah sebegitu besarnya pada kita, kenapa kita masih merasa berat untuk mengorbankan sedikit apa yang kita miliki? Bukankah orang tua, harta, kecantikan/ketampanan, posisi dan segalanya itu sangat mudah dilenyapkan olehNya tanpa kita memintanya?

Mata, hidung, mulut, telinga, tangan dan kaki menjadi saksi akan nikmat Allah sekaligus menjadi saksi atas kekurang ajaran manusia terhadap nikmatNya..

Fabiayyi ‘alairabbikuma tukazziban…Nikmat Allah manakah yang ingin kamu dustakan?!

Surabaya, 5 Juli 2011—dalam tengah malam yang tak ingin saya lewatkan tanpa menghasilkan tulisan

2 thoughts on “Fabiayyi ‘ala irabbikuma tukazziban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s