Katarsis


Tak terasa semester demi semester telah saya lalui di kampus ini. Rasanya kemarin baru saja menjadi mahasiswa baru yang culun tak tahu apa-apa tentang hiruk pikuk dunia kampus, dan sekarang menjadi sebaliknya. Jika mengamati apa yang saya tuliskan selama ini, kamu akan mendapati sekelumit apa yang saya amati dalam kampus saya. Hanya sedikit sekali.

Yah, saya yang sekarang adalah saya yang jauh berbeda dari saya sewaktu SMA, SMP, bahkan SD. Ya, saya baru menyadari bahwa saya sudah semakin tua, semakin dewasa. Setidaknya jika dilihat secara umur. Meski belum bisa dilihat dewasa dari segi kematangan dan memanajemn emosi, saya masih bisa untuk tidak marah-marah, membentak orang, mengamuk di hadapan orang dan semacamnya. Hal itu bisa saya lakukan jauh melebihi apa yang saya bayangkan. Jika dulu waktu saya SD, saya sering membuat orang tua kesal dengan rauman saya, sering marah-marah, membentak-bentak, maka sekarang orang rumah justru mengalami kebingungan sendiri saat tahu bahwa saya telah berubah. Kakak saya pun sampai sekarang masih sering mempertanyakan hal ini, “Gak nyangka kamu bisa berubah seperti ini. Aku dulu selalu takut kamu nanti akan tumbuh jadi anak yang seperti apa dengan kebiasaan ngamukmu itu”. Ini bukti bahwa saya sudah jauh berubah, saya bisa melakukannya (mengontrol kemarahan), namun belum tentu bisa untuk mengontrol diri sendiri agar tidak terbawa dengan situasi pikiran saya.

Perbedaan ini ternyata membawa konsekuensi tersendiri. Perubahan umur, perubahan emosi, dan kesemuanya menghadapkan manusia pada tingkatan cobaan yang baru. Semakin bertambah usia ini, semakin banyak beban yang harus dipikul. Entah kenapa sampai ada teori seperti ini. Mungkin karena memang hukum alamnya berjalan sedemikian rupa. Dan ini benar-benar saya rasakan hingga akhir-akhir ini, saya serasa menjadi pengeluh nomor wahid di dunia yang sangat keren. Kamu tahu apa yang saya inginkan ketika hal ini terjadi? Bawaannya pengen ngambek, ngeremus [1] orang, pengen teriak, pengen nendang dan semuanya yang berkaitan dengan keanarkisan. (Jika kamu membaca ini dan kamu bukan orang-orang tipe alay yang suka bersastra manis, pasti kamu akan berkomentar: ya sudah, teriak aja! Kalau perlu bunuh orang!)

Kata seorang teman dalam tulisannya, katarsis [2] itu tidak selalu harus mencapai titik terkritisnya (saya lupa tepatnya bagaimana). Namun intinya, tidak selamanya keinginan-yang jika dipenuhi akan menjadi kelegaan emosi tersendiri- harus selalu mencapai titik tertingginya. Saya tidak harus mengremus orang agar stress saya hilang, saya tidak harus membunuh orang agar saya merasakan kelegaaan emosi, saya tidak harus berteriak saat kepala serasa cenat-cenut karena banyaknya hal yang harus diurus. Tidak harus! Karena saya bisa mengalihkannya pada cara yang lain, saya bisa menghilangkannya dengan cara yang lain, saya bisa menuangkannya dalam bentuk yang lain. Begitu juga kamu! Bukankah menahan amarah merupakan suatu hal yang lebih indah dari pada sekedar menghilangkan energy untuk memuaskan ego kita sendri?

“Barangsiapa mampu menahan amarahnya, Allah akan menahan dirinya dari azabNya” ( HR. Thabrani)

(celingak-celinguk….Ah, tidak ada siapa-siapa di sini. Saya teriak aja dech biar agak lega.

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargggggggggggghhhhhhhh!!!!)
Ini yang namanya katarsis! ^_^

Jejak kaki:
[1] ngeremus = mengunyah. Saya tidak tahu ini bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Yang jelas artinya ya begini.

[2] katarsis adalah kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.
Kata ini baru saja saya dapatkan dari seorang teman yang sangat mahir membuat tulisan memusingkan. Percaya tidak percaya, saya langsung membukan KBBI karena tidak memahami apa arti kata ini. Dan setelah tahu, puaslah saya!

One thought on “Katarsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s