Revolusi dari Rumah Kami


Akhirnya buku yang selama 2 bulan saya pinjam ini bisa saya baca juga. Berjudul sangar “Revolusi dari Rumah Kami”, namun ternyata di dalamnya begitu lembut. Kesan sangar seketika bubar setelah membaca kutipan tulisan yang ada di halaman depan. Seperti ini kalimatnya (sekaligus membuat penasaran orang-orang yang akan membacanya):

“Seperti aku, tentu kau juga sudah jengah membincang pernikahan dalam suasana merah jambu. Mari bersamaku, membincangnya dengan warna merah menyala. Ya, pernikahan adalah tungku yang memanaskan hawa perjuangan. Hingga kelak, kita akan berkata dengan bangga

Cover buku maut yang saya baca..^_^

: Rabbi, Revolusi ini berawal dari rumah kami!

Buku apa ini sebenarnya? Bukankah revolusi selalu identik dengan hal-hal yang sangar? Entah bau-bau pergerakan atau semacam bagaimana membakar semangat manusia yang rindu perubahan, bukan? Namun apa yang saya dapatkan justru perkara yang lain, perkara yang saya sendiri terkadang menganggap tabu untuk dipikirkan dan bicarakan. Yeah, seperti kutipan tulisan di atas, membicarakan seluk beluk pernikahan dan kehidupan pernikahan. Keren, bukan? Saya menganggap diri saya terjebak dalam buku yang selama ini sering saya pending untuk membaca dan mempelajarinya. Kira-kira ekspresi saya setelah membaca awal-awal buku tersebut seperti ini, “Astaghfirullah, nasib gueeehhh!!!”

Apa boleh buat, terlanjur membaca, akhirnya saya teruskan juga. Kebetulan bacaan yang lumayan enak dicerna tersebut sangat cocok bagi saya yang agak-agak stress dengan tugas dan perkuliahan. Bukan, bukan itu tepatnya. Tapi yang benar sangat cocok bagi saya (dan kamu) yang sok keren dengan menunda-nunda membincangkannya, atau mungkin merasa keren dengan tulisan yang berat-berat berbau politik dan ekonomi.
Oke2, saya juga suka membicarakan kedua topic itu, namun sekarang saya agak terkesima dengan bahasan yang lain. Hehe…let me do it! Ok?!

Kembali pada buku tersebut yang berhasil membuat saya tertohok, tertegun, benar-benar serasa disindir habis-habisan dan apalah. Yang jelas, saya mati gaya! Semoga kamu pun jika membacanya juga akan bernasib sama dengan saya. Ustadz Abay (penulisnya) menyindir manusia-manusia yang ragu dalam membicarakan dan belajar tentang pernikahan dengan kalimat yang kira-kira seperti ini:

“Beberapa orang masih menganggap bahwa belajar dan membicarakan pernikahan adalah hal yang tabu dan kurang produktif. Mungin juga bisa melemahkan dakwah. Lantas kapan kamu mau belajar tentang pernikahan?

Pernikahan bukanlah sesuatu yang akan dibangun sehari dua hari saja, tapi kalau bisa selamanya hingga tua, lebih bagus jika sampai menutup mata. Lalu kenapa kamu hanya mencukupkan diri dengan mempelajari pernikahan saat mendekati waktunya tiba? Siapa yang membuat aturan bahwa belajar tentang pernikahan itu kurang produktif dan bisa melemahkan dakwah? Siapa yang membuat undang-undang kalau mau menikah itu dakwahnya harus bener dulu? Lantas, kapan kamu dikatakan siap menikah?

Bukankah siap dan tidak siap itu merupakan hasil dari penyiapan diri kita? Kesiapan adalah kedewasaan, kesiapan adalah pilihan. Kesiapan bukan seiring bertambahnya usia. Namun bagaimana kita menyiapkan diri kita untuk itu. Lalu, apakah kamu akan mempelajari dan menyiapkannya dalam sehari dua hari, seminggu dua minggu sebelumnya saja, padahal apa yang kamu inginkan selama-lamanya? “

Sudah sudah…saya minta ampun untuk yang satu ini. Saya bertaubat!!!

Oke, buat saya dan teman-teman saya yang lain-yang agaknya mirip-mirip dengan saya-, jangan enggan untuk mempelajari pernikahan. Gak usah malu ketika orang memergoki kita sedang membicarakan tentang pernikahan, membaca buku-buku seputar pernikahan, bertanya-tanya tentang pernikahan. Karena memang ini bukan perkara yang sederhana. Bukan dalam rangka kecentilan dan kegatelan, tapi memang dalam rangka mempersiapkan perubahan dunia secara sederhana, secara apik, dan menggugah. Bukan sekedar buat keren-kerenan, tapi lebih jauh agar kita bangga saat kita bersama-sama meneriakkan pada dunia bahwa “Revolusi yang terjadi nanti salah satunya berawal dari rumah kami”.

Cobalah nanti baca bukunya, kamu akan merasakan bedanya ketika membahas pernikahan saat terserang virus merah jambu dan dilanda malarindu, dengan membahas pernikahan saat kita berupaya untuk menyiapkan diri dan keluarga kita nanti demi terwujudnya revolusi.

-21 Juni 2011, saat saya menggoda kalian semua untuk membiacarakan pernikahan. haha… tenang saja, saya lebih tertarik dengan pelajaran tentang mendidik anaknya. Bagi saya itu jauh lebih menarik dari pada bahasan yang lain-

Special thanks to Ustadz Abay, saya pakai judul bukunya untuk judul tulisan saya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s