Uripmu Benakno!


Di tengah-tengah rasa ingin mengunyah orang (saya baru sadar bahwa jiwa kanibal manusia pada dasarnya memang ada. Dia datang kala kemarahan tersulutkan!), tiba-tiba ada teman sekelas yang asli Medan mengomentari seseorang -yang kebetulan juga teman satu kelas saya- dengan kalimat yang membuat saya tersedak, tidak lagi berkeinginan mengunyah orang, dan tertawa terbahak-bahak dibuatnya..

“Uripmu benakno!”

Orang Jawa asli yang tahu arti per kata dari apa yang dilontarkan teman saya tadi pasti tertawa gila. Dengan logat Medannya dia sangat PeDe melontarkan kalimat (tak sempurna) itu. Mungkin hanya itu kalimat keren yang menurutnya paling gampang diucapkan hingga akhirnya setiap orang yang dalam kepalanya terkesan lucu, aneh, atau apalah (terkadang juga digunakan tidak pada tempatnya), maka kalimat itu pulalah yang keluar dari mulutnya. Meski secara susunan kata jelas tidak tepat 1), tapi akhirnya kalimat itu menjadi membumi 2) di kelas saya. Gara-gara seorang Medan yang selalu menjunjung “Asas Kebesaran” 3).
kata-kata yang gak masuk akal bisa terkenal gara-gara ngasal
Jika dilihat dari perbendaharaan kata Bahasa Jawa, kalimat itu bisa diartikan “Hidupmu Benahilah!” atau gampangannya tinggal dibalik, yaitu menjadi “Benahi hidupmu!”. Secara konteks penggunaan, kalimat itu sangat terdengar kasar. Orang tua yang tidak bisa memaklumi dan memahami perkembangan kata zaman sekarang akan menganggap orang yang melontarkan kalimat itu sangat kurang ajar. Mungkin jika nenek saya mendengarnya, tuh anak bisa kena timpuk. Kesan tidak menghargai dan sok pintar sangat kentara dalam kalimat tersebut. Mengingat orang Surabaya bahasanya apa adanya dan agak-agak kasar, maka kalimat itu dengan sangat mudah diucapkan, ditiru, dan dibooming-kan. Dan jadilah slogan “Benakno Uripmu!” sebagai komentar pada orang-orang yang dalam pandangan kita aneh, nyeleneh, koplak, kacau, galau, dan sebagainya. Boleh juga digunakan pada pemerintah kita yang makin lama makin amburadul, korupsi menjadi-jadi, skandal memalukan tak jadi peduli, dan rakyat miskin dipelihara hingga mati. Mungkin bunyinya akan seperti ini, “Pak Pak, Benakno Uripmu! Pis Pis…”.

Bagi orang Jawa (khususnya Surabaya), segala bentuk frase baru akan sangat dihargai. Jika didengar dan dirasa unik (tak peduli siapa yang pertama kali menciptakan), maka itu akan digunakan, asal tidak sampai mengubah dan mengobrak-abrik bahasa halusnya.^_^

*******************
1) Kalimat “Uripmu Benakno!” sangat tidak lazim digunakan. Secara struktur, kalimat yang benar bunyinya “Benakno uripmu!”
2) Kalimat “Uripmu Benakno” menjadi kelimat booming ketiga setelah “ Sendal Gueeeehhhhh!” (kata awal bisa diganti dengan kata benda lainnya), dan “Loh Gueh, END!”. Jika dirating, yang Gueh-Gueh ternyata lebih laku. Hehe..
3) Asas Kebesaran muncul spontan dari teman sekelas saya yang dari Medan yang kebetulan badannya segede Kingkong (bukan menyerupai secara wajah, tapi cuma badannya aja yang mirip).

Sudah, ah! Saya mau melanjutkan dulu tugas saya. Dengan sangat tidak bijaksana, saya mengutip kalimat teman-teman saya, “Tugas Gueeeeeehhhhh!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s