Pengakuan


Salah satu teman satu kelompok praktikum hari ini nyeletuk, mengeluhkan tugas yang diberikan secara beruntun oleh dosen-dosen kejam dan menyeramkan. Hehe.. setidaknya kalau memberikan tugas kelihatan sangat tidak menyenangkan. Meski dosen yang ciamik abis dalam pandangan saya sekalipun.

“Ya Alloh, tugas lagi! Kenapa sih kehidupanku ini selalu diganggu dengan tugas?!?” kira-kira seperti ini bunyi kekesalannya.

“ Salah sendiri jadi mahasiswa. Kalau gak mau ngerjain tugas, berhenti saja jadi mahasiswa! Simple toh?” Sangat radikal! Ini mungkin yang sering dipermasalahkan teman-teman saat kata-kata yang keluar dari mulut ini dirasa terlalu menohok. Lantas, saya tersadar dan segera memperbaiki kata-kata saya yang sangat terkesan ababil.

“Setiap pengakuan itu selalu ada konsekuensi yang mengiringi. Kita sekarang mengaku jadi mahasiswa, jadi ya sudah sepantasnya menjalani tugas-tugas yang dibebankan pada kita. Kalau sudah tidak berniat jadi mahasiswa, ya tidur aja.. Haha! “ Sangat sok bijak! Padahal kalau mau mengakui perasaan saya yang sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya terhadap pembebanan tugas oleh dosen-dosen, saya juga banyak mengeluhnya. Meski tidak seekstrim keluhan teman saya, namun selalu ada pernyataan-pernyataan keluhan. Tentu ketika saya mengeluh ada alasan ideologisnya. Hehe…. (keren ya? Alasan aja ada yang ideologis. Nanti dijadiin nama fesbuk, ah. Namanya Alasan Ideologis! Wkkk).

Pesan moral yang bisa diambil adalah: jangan pernah mengakui atas sesuatu jika kamu tak berani menanggung konsekuensinya. Bolehlah kamu mengaku Islam, namun apakah kamu sudah sepenuhnya mau menjalani rentetan konsekuensi atas pengakuan yang telah kamu lakukan? Menjadi mahasiswa, aktivis, mahasiswa aktivis, aktivis mahasiswa, Muslim, suami, istri dsb adalah sebuah pilihan sekaligus pengakuan yang penuh dengan konsekuensi. Jadi, jangan asal dan cepat membuat pengakuan jika tidak siap dengan konsekuensi dan risikonya!

Mengakui itu memang mudah, menjalani konsekuensi baru susah. (Gambarnya gak nyambung kan?)

Ekstrim?!! Biar saya ubah dulu kata-katanya menjadi lebih bijak .

Kira-kira jadinya seperti ini:

Hidup manusia selalu dihadapkan pada pilihan di mana dalam setiap pilihan itu secara tidak langsung menjadi pengakuan siapa diri kita sebenarnya. Memilih ataupun tidak memilih, mengakui ataupun tidak mengakui apa dan siapa diri kita pasti ada konsekuensi dan risikonya. Manusia yang tidak berani mengambil pilihan berarti manusia yang tidak berani hidup, karena hidup dan tidak hidup pun sebenarnya juga pilihan. Jalani saja kehidupan ini, nikmati saja apa-apa yang harus dijalani, dan mintalah pertolongan kesabaran serta keikhlasan dalam menghadapinya pada Dzat Yang Menguasai Langit dan Bumi ini.

Apakah tulisan saya kali ini sangat susah dipahami? Kalau iya, berarti saya sangat keren. Karena keren itu identik dengan pakar, dan pakar itu adalah mereka yang menjadikan apa-apa terkesan sukar.

Haha..(kalau mengakuinya, berarti konsekuensi selanjutnya adalah: rajin-rajinlah membaca tulisan saya yang terkadang sangat gak jelas).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s