Ketika Perasaan tak Sejalan dengan Pemikiran


Seringkali perasaan / hati manusia tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan. Hal ini seringkali dialami oleh kebanyakan manusia. Sejak kecil hingga mereka menginjak dewasa.

Dulu, saya sangat tidak menyukai pakai rok. Bagi saya, rok itu adalah pakaian penghambat aktivitas seorang wanita. Sekarang? Semuanya berubah total! Seiring berubahnya pola pikir dan tolok ukur penilaian atas semua perkara, semuanya menjadi sesuatu yang berbeda 180 derajat dari apa yang saya sukai sebelumnya. Bagaimana bisa? Entahlah, semua terjadi begitu cepat. Saat seseorang membuat saya gila dengan semua dalil yang dimilikinya. Saya rasa ini fair bagi saya yang dulu tidak punya prinsip hidup yang jelas, fair juga bagi saya yang sudah bersusah payah mempertanyakan konsep kehidupan yang benar seperti apa. Bukankah Allah itu Maha Adil pada hambaNya yang mau mencari petunjuk dan hidayahNya? Dan pada saat yang bersamaan, saya mendapatinya. Satu per satu syariat disodorkan ke hadapan saya beserta dalil-dalilnya (wah, ingin rasanya dulu melarikan diri dari orang itu. Menyesal karena berani bertanya macam-macam padanya). Benar secara akal, namun hati masih belum bisa sepenuhnya menerima. Pemberontakan pun dimulai, pergolakan pemikiran dan perasaan pun terjadi. Hampir depresi diri ini.

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.”(TQS.Al-An’am[6] : 157)

“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya[1311]. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”(TQS.Az zumar [39]: 18).

Bukankah ayat-ayat tersebut terasa mengerikan dan menampar bagi kita manusia yang mengaku beriman dan berIslam?

Inilah yang selanjutnya membawa diri ini tenggelam dalam “kegilaan” yang menurut sebagian orang aneh dan ekstrim. Sungguh, terlalu sering akal ini membenarkan, namun sering pula hati ini menyalahkan. Dalam istilah psikologinya mungkin cognitive dissonant atau apalah saya tidak paham. Dan lambat laun, perasaan pun menuruti apa yang ada dalam pikiran yang sedari awal sudah membenarkan.

Sudah jelas apa yang seharusnya menjadi panduan dalam melakukan sesuatu. Hanya Alqur’an, As-sunnah, dan seluruh penjelasan dari ijma’ sahabat dan qiyash yang patut dijadikan tolok ukur, standar atas segala sesuatu. Bukan pada hati/perasaan. Hati/perasaan seharusnya tunduk di bawah akal yang membenarkan, bukan justru akal yang tunduk di bawah pembenaran perasaan. Bukanlah hal yang mudah memang. Terlebih ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan karakter kita, kesukaan kita, hati dan kecenderungan kita. Sulit! Namun, apakah sulitnya akan menjadi pembenaran untuk tidak menjalankannya? Tentu saja hati kita akan menjerit kesakitan, memberontak tak karuan, menangis sejadi-jadinya atas ketidak-terimaan kita. Namun, apalah artinya semua dibandingkan dengan balasan atas pengorbanan perasaan kita?

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya[606] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”(TQS. Al-Anfal [8]: 24)

Dan keromantisan dengan Allah pun benar-benar terasa nyata tatkala kita mengucapkan, “Ya Allah, persaksikanlah saya telah melakukan ‘ini’ untukmu. Dan saya meyakini bahwa janjiMu adalah pasti. Maka berikanlah saya kesabaran atasnya, dan berikanlah saya tempat yang layak darinya.”

Ketika syariat menuntut untuk melakukan, namun hati merasa berat untuk merelakan dan menjalankan, maka paksakan! Karena bisa jadi rasa berat dan penolakan hati atas syariat tersebut hanyalah bisikan syaitan agar kamu tidak menjalankan. Dan ketika kamu benar-benar tidak menjalankan, syaitan pun akan menertawakan atas apa yang kita putuskan. Mari sama-sama meminta perlindungan dariNya Sang Pembolak-balik hati..

“Ya Allah, lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepadaMu dan indahnya bertawakkal kepadaMu. Hidupkanlah hati ini dengan ma’rifat kepadaMu. Matikanlah dalam syahid di jalanMu. Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”*

#####

Surabaya, 30 Mei 2011 – saat tangisan kerinduan terhadap keluarga yang membuncah tak tersampaikan. Semoga Alloh mengampuni jika ini merupakan suatu bentuk kedzaliman diri pada orang-orang yang saya cintai. Dan khusus untuk sahabat saya yang masih dalam keraguan, semoga Alloh memberikan petunjuk dan hidayahNya untukmu agar bisa segera mengambil keputusan. Semoga!

____________________________________________
[605]. Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. Juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

[606]. Maksudnya: Allah-lah yang menguasai hati manusia.

* salah satu doa dalam Al-ma’tsurat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s