Perjalanan di atas Bara


Berjalan di atas satu garis kebenaran itu terkadang (atau bahkan lebih sering) menyesakkan. Atau dengan kata lain, berjalan dalam satu track yang lurus, sejalan dengan apa yang dipahami berdasarkan tuntunan Kalam Illahi di masa kini merupakan jalan yang penuh tanjakan berduri, meliuk-liuk bak jalan yang mengarah pada puncak Mount Everest, licin, dan menyeramkan. Ah, itu mungkin bahasa filsafatnya (baca aja:bahasa lebay-nya) dari saya yang suka menggubah kata-kata sederhana menjadi kata yang agak puitis, melankolis (padahal orangnya sangat jauh dari jiwa-jiwa melankolis. Jiaa..).

Seorang teman mengatakan bahwa saya terlalu mengotak-ngotakkan agama dalam ranah sosial. Saya tidak paham benar dengan bahasanya. Namun dari penjelasannya, saya bisa menangkap bahwa dia berusaha memisahkan antara aturan pergaulan dalam Islam dan hubungan sosial antara satu manusia dengan manusia lainnya. Saya terheran-heran. Bukan karena statemennya yang salah kaprah, tapi lebih pada pemahamannya yang sudah jauh dari jangkauan pikiran yang saya miliki sebelumnya tentang dia. Secara! Akhwat seperti dia layaknya tahu lebih banyak tentang mekanisme pergaulan dalam Islam dibandingkan dengan teman-teman cewek saya pada umumnya, namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Dia berusaha mengompromikan apa yang menjadi pemahamannya selama ini dengan fakta pergaulan yang ada di hadapannya. Dia menyerah karena merasa “tidak diterima” (saya pikir dia hanya merasa takut tidak diterima) dalam komunitas mahasiswa lainnya sehingga apa yang dia lakukan ketika rasa frustasi mendera adalah : ambil jalan tengah. “Saya akan pakai aturan Islam dalam ranah per-Rohisan, dan akan menanggalkannya ketika berada di luarnya”. Ber-ukhti akhi ketika syuro, dan ber-aku kamu di luarnya, menunduk saat bicara dengan partner syuro’ yang berlawanan jenis, namun merasa biasa saja saat bicara dengan cowok lainnya. Ah, memang susah hidup dalam system yang saat ini tidak jelas. Lihatlah, hasilnya pun juga tidak jelas!

“Khalwat itu jelas hukumnya. Dan apa yang kamu lakukan, sudah masuk dalam ranah khalwat, meskipun tak setiap hari kalian bertatap muka, bercengkrama bersama dalam canda tawa layaknya manisnya coklat-coklat cinta (huekss!!), hukumnya tetap sama. Haram! Apalagi yang kamu omongin hal-hal yang kagak jelas begitu. Kecuali hanya pada masalah tertentu yang membuat antara dua insan manusia memang harus berinteraksi. Karena memang tidak bisa dipungkiri, Allah menciptakan manusia tidak hanya berjenis kelamin wanita, tapi juga pria. “

“Iya aku tahu itu. Tapi aku hanya tidak ingin silaturahmi yang selama ini sudah terjalin antara kami berdua menjadi hancur berantakan hanya karena perkara ini. Aku tidak ingin dibenci orang, karena hidupku tidak akan merasa tenang dengan dibenci oleh satu orang. Hubunganku selama ini dengannya tak lebih dari sekedar adik kakak. Aku menganggapnya kakak, dan dia menganggapku sebagai adik. Hanya itu, Meyra. Tak lebih dan tak kurang!”

“Ok, aku anggap kamu benar-benar paham dengan perkara tadi. Sekarang pertanyaanku, kamu mau dibenci sama satu orang atau dibenci sama Allah karena apa yang kamu lakukan?? Dibenci satu orang masih gak masalah, setidaknya Allah mencintai apa yang kamu lakukan demi kecintaanmu padaNya. Namun jika yang terjadi sebaliknya, kamu takut dibenci sama satu orang sehingga kamu akan mendapatkan kemurkaanNya, apa yang kamu lakukan? Ketika Allah membenci seorang manusia karena tindakannya, maka tidak menutup kemungkinan seluruh penjuru dunia dan isinya pun akan ikut membencinya. Pilih mana?” Entah apa yang membuat nada saya sedikit meninggi. Bukan marah, namun saya pikir dengan adanya penekanan pada beberapa kata bisa cukup efektif untuk mengembalikannya pada pemahaman yang seharusnya.

Dia terdiam. Entah mencari-cari alasan pembenaran lainnya atau memang merenungkan apa yang baru saja saya ucapkan. Tangannya berputar-putar di atas meja yang penuh dengan coretan tangan anak-anak tak bertanggung jawab. Wajahnya manyun gak jelas sembari kadang-kadang memindahkan jari-jarinya pada tuts leptopnya. Ada yang berkecamuk dalam kepala dan dadanya meski tidak saya ketahui sepenuhnya seperti apa pergolakan yang ada dalam diri akhwat yang ada di hadapan saya saat itu. Dan ketika perkuliahan berakhir, dia mengucap terima kasih (entah untuk apa) dengan sedikit senyum menggoda yang biasa dia layangkan kepada saya tiap harinya.

Dan pada saat itu juga saya kembali menyadari bahwa berjalan di atas aturan Islam memanglah bukan suatu hal yang mudah. System yang ada saat ini secara tidak langsung memang memaksa manusia untuk mengotak-ngotakkan agama hanya dalam ranah pribadi saja, yang sewaktu-waktu bisa ditanggalkan ketika tidak sesuai dengan nilai-nilai yang beredar di sekitarnya.

Kita mungkin secara sadar maupun tidak sadar pernah melakukannya. Karena manusia tetaplah manusia yang tak bisa menjamin dirinya. Bisa jadi detik ini kita memiliki api membara untuk menggenggam kuat keIslaman kita, namun kemudian pada suatu saat dengan mudah melepaskannya. Naudzubillah.. tentu saja hal tersebut tidak kita inginkan.


maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong (TQS. Al-Hajj [22]:78)

Marilah sama-sama berdoa agar kita bisa menggenggam baraNya di setiap lini kehidupan yang kita jalani..Just hold it WIT (whatever it takes), kemudian biarlah Allah menjalankan mekanismenya atas jerih payah kita dalam mempertahankannya. Yang penting: apapun makanannya, judulnya tetap sama. Mari kita nikmati perjalanan di atas bara yang begitu menggoda sekaligus menyiksa!

–Mengenang perbincangan di tengah-tengah perkuliahan yang sangat tidak menyenangkan dan tidak saya minati. Semoga Alloh memaafkan segala kesalahan dan kekurang-ajaran saya selama dalam perkuliahan—

3 thoughts on “Perjalanan di atas Bara

  1. Like this!!!
    Sedikit masukan atau kalo boleh dikatakan perbaikan (wuiks… sok jadi editor🙂 ) kalimat nt terkait dengan jika Allah membenci seseorang maka tidak menutup kemungkinan seluru dunia akan membenci. Coba direvisi dengan tidak menggunaan kata2 tidak menutup kemunginan karena sebenarnya dalil akan hal itu ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s