Diorama Gayus Tambunan


Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya pasti bisa terpenuhi.
Lucunya di negeri ini,
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan..

(Andai Aku jadi Gayus)
Bagaimana kalau semua orang jadi Gayus? Haha..anggota DPR gak akan pernah laku, Mahkamah Konstitusi gak akan ada orangnya. Ken-napa coba? Karena semua aturan gak akan ada harganya alias gak bernyawa. Jika aturan gak ada harganya, maka pertanyaannya: kenapa harus ada aturan segala???

“Kamu gila ya? Harus tetap ada aturan, my Man. Entar kalo banyak pejabat kere gimana? Brabe kan? Kita bakal tambah gak keurus! Pejabat kaya aja kita merana, apalagi pejabatnya kere?!”

“gimana-gimana maksudnya? ”, tanya saya sok goblok (padahal pinter.ckkk).

“mungkin kamu agak-agak dungu dan gak mau tahu. Bikin aturan jaman sekarang kan bisa dapet ceperan?!! Biarkan aturan ada! Karena dengan begitu kita tahu kalo’ pejabat kita gak makan gaji buta!”

“hahaha…ada-ada aja! “, berpikir sejenak. “Enak bener mereka! Tinggal bikin aturan, dapat ceperan. Padahal yang sering nglanggar aturan ya mereka sendiri. Kasian..gila kali ya pejabat kita! Apalagi kita, dibodohi mauuuuuuuuu aja!”

“hahaha…biarkan! Budayakan orang-orang yang masih mau taat pada aturan! Karena dengan begitu, para pejabat akan bebas mengeruk duit dari membuat aturan. Jika tidak mau taat, jebloskan ke penjara! Jika tetap tidak mau taat, kasis opsi: mau bebas atau merana di penjara? Ada ceperan, ada kebebasan. Pilih mana??!”.

Dan dengan mekanisme seperti inilah negeri ini bisa terlihat hidup, sumber berita yang paling banyak diminati oleh wartawan-wartawan gila saat ini.

Benar juga! Itu hanya ilustrasi murahan. Tapi fakta berbicara demikian adanya.

Alkisah Mbah Minah mengambil tiga butir kokoa dari kebun seorang saudagar kaya. Karena dalam aturan menyebutkan bahwa : MENCURI ITU DILARANG!, maka Mbah Minah mau tidak mau harus menjalani masa penjara satu setengah bulan. Adil? Tunggu sebentar, jangan asal memberi kesimpulan! Biar saya lanjutkan.

Di waktu yang hampir bersamaan, seorang Gayus Tambunan yang imut-imut terbukti menggondol uang negara sebesar 15 M. KPK bagaikan pahlawan kesiangan bisa menguak kasus tersebut. Masuklah Si Gayus dalam jeruji besi. Namun masalah tidak selesai sampai di sini. Ternyata Gayus berbesar nyali untuk merekreasikan diri sendiri ke negeri jiran. Bagaimana bisa? Kembali lagi: hukuman bisa dibeli! Dan sampai sini, saya ulangi lagi pertanyaannya. Adilkah ini??

Hukum, hakim, dan peradilan negeri ini tak berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana fungsinya yang harus sigap menggilas orang-orang tamak tak bermoral macam Gayus Tambunan, Ayin, Anggodo, Robert Tantular, dan kroni-kroninya. Ada apa dengan hukum di negeri ini? Siapakah yang salah? Founding fathers kita, pembuat hukum yang ada, system hukum yang dipakai, ataukah kita yang suka antipati pada aturan dan tak jera pada sanksi? Mari mencarinya bersama di sini..

Akar Permasalahan

Standar yang tidak jelas menyebabkan sesuatu yang lahir di atasnya pun juga tidak jelas. Sebuah pemisahan agama dari kehidupan sebagai landasan berpijak atas canon-nya secara tidak langsung menjadi implikasi bahwa aturan keseharian harus dan wajib dibuat oleh manusia. Artinya, tidak ada unsur moral dan spiritual dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Inilah yang terjadi dalam tubuh system hidup (ideology) Kapitalisme. Dalam pemahaman ini, standar penentuan perbuatan yang baik hanya didasarkan pada logika berpikir manusia. Dan jika mau sedikit memeras otak dalam memahaminya, logika manusia itu terbatas adanya. Logikanya tidak akan pernah mampu menembus batas masa depan untuk puluhan tahun yang akan datang. Serius dah! Sekalipun Mama Lorenk berdalih bisa melihat segala sesuatu yang ada di masa yang akan datang, maka itu hanya dusta belaka. Halusinasi utopia yang penuh dengan karangan mulut mausia! Buktinya, setelah meramalkan kejadian di tahun 2012 (yang menurut edaran gossip doi gak bisa melihat apa-apa setelah tahun 2012), dia justru berpulang ke habitat asalnya (Tuhan Alam Semesta-Alloh SWT). Lalu, apa hebatnya?? Gak ada. Percaya dech!

Dalam pemahaman yang sangat rendah ini (Kapitalisme), manusia diposisikan sebagai makhluk yang serba bisa. Bisa membuat hukum seenaknya, bisa melakukan apapun yang mereka suka, bisa menindas siapapun yang diingininya. Dari sinilah kekacauan ini bermula. Hukum bisa diinjak-injak sepuasnya, sanksi bisa ditawar semaunya, aparat bisa dibeli kapanpun juga (bahkan kalau perlu kepala seorang presiden pun juga bisa!).

Ok, itu faktanya. Lalu solusinya, cukup kembalikan manusia pada posisi yang sebenarnya. Kembalikan pada pemahaman manusia bahwa dia hanya layak diatur dengan canon yang mengerti tentang manusia. Dialah Alloh yang Maha Tahu apa yang terbaik dan mana yang terbaik bagi manusia. Tentu dengan menegakkan canon-Nya di atas kehidupan manusia.

Ah, sampai sini saja. Dan yang paling penting, akan tak sehat jika terlalu lama memelototi layar computer untuk membaca tulisan saya (betapa pun sukanya. Haha..). Lantas, kenapa masih bertanya? Adakah sekiranya kamu belum puas dengan sedikit penjelasan dari saya? Jika iya, berdiskusilah dengan saya.

–diselesaikan secara tertatih, disempurnakan dalam keadaan geram setelah membaca perkembangan pengadilan Ustadz ABB dan sedikit mengingat hasil review terakhir tentang Ideologi dunia, ditemani lagu Udin Majnun – Udin sedunia (FashlUdin ‘anil hayat-memisahkan agama dari kehidupan)–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s