Fotografi sebuah Sistem


Saya terkesan! Bukan pada penampilannya, namun pada apa yang disampaikannya (meski tidak bisa dipungkiri bahwa penampilannya yang ciamik lumayan membuat mata terpana, namun apalah gunanya. Orangnya sudah menikah! Wkkk…lupakan saja!)

Dosen muda itu bukan dari fakultas saya, namun sengaja didatangkan dari luar (bukan luar negeri) untuk mengajari kami bagaimana cara mengambil gambar yang baik dan benar. Tentu saja pada awalnya sangat tidak menarik hati saya. Memfoto, menjepret gambar, atau apalah namanya tak lebih dari sekedar memindahkan objek ke dalam benda kecil bernama kamera. Bagi saya, mau ambil gambar ya ambil aja. Kalau kamera bagus toh hasilnya juga bagus. Namun tak disangka dan tak diduga, ternyata memang tidak sama. Dosen itu mengajari kami bagaimana teknik lighting dengan memanfaatkan cahaya yang ada. Lalu juga dari sudut mana biasanya gambar terlihat bagus saat diambil. Hmm,, saya masih ingat benar apa istilahnya. Iyah, angle! Bukan bukan, bukan angel, ingat itu!
Ini contoh hasil jeprat-jepret amatirnya:


Sangat mempesona!! Entahlah, begitu terasa luar biasa! Dan tak tahu kenapa setelahnya saya mirip orang gila. Tak ada moment atau satu halpun yang luput dari pengamatan mata ini..berpikir bagian mana yang bisa diabadikan, dijadikan sesuatu yang memiliki arti lebih dari apa yang sebelumnya dilihat secara biasa oleh mata kebanyakan.

“fotografi sebagai sarana menyampaikan pesan dari sebuah gambar yang kita miliki”. Begitulah pesan dari dosen yang gayanya mirip Rapper gak jadi tersebut. Dan memang benar. Fotografi, memberi arti historis tersendiri pada gambar yang pada awalnya tak berarti sama sekali. Dan, ketika saya perhatikan, ada pesan tersembunyi di balik fotografi:

Sampaikan lewat gambar jika kamu tak cukup bisa menyampaikan apa yang kamu inginkan lewat kata-kata,
Sampaikan lewat gambar apa yang sebelumnya tidak banyak diketahui oleh orang tentang ketidakadilan yang selama ini dialami oleh rakyat ini,
Sampaikan lewat gambar jika kamu tak punya cukup nyali untuk mengutarakan apa yang ada dalam pikiran,
Biarkan orang melihat,
Biarkan orang mencerna,
Biarkan orang berpikir,

Bahwa gambarpun bisa merubah pikiran, mengundang empati, bahkan mengusik ruang kebencian terhadap system yang ada saat ini..

17 Maret 2011, saat mencoba melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s