Lupakan Revolusi!!


Banyak orang beranggapan bahwa saat ini revolusi terjadi di Tunisia, Mesir, Yaman, Yordan dan sebagian wilayah Timur Tengah. Gejolak yang terjadi beberapa waktu yang lalu setidaknya menjadi saksi dan bukti bahwa memang terjadi pergolakan politik di wilayah tersebut. Oke, saya ingin menghapus kata revolusi dan fokus pada beberapa hal terlebih dahulu. Saya tegaskan: Lupakan dulu tentang revolusi! Saya yang menulis, saya yang punya otoritas apa dan bagaimana saya menulis. Selebih dan sekurangnya silakan dikritik belakangan..:)

Setidaknya ada beberapa yang perlu dipertanyakan dalam kasus pergolakan politik di wilayah Timur Tengah tersebut. Pertama, penyebab. Hal ini terkait fakta yang menjadi pemicu terjadinya aksi masa yang jumlahnya menggila. Kedua, keinginan/will. Sebut saja keinginan apa yang ada di benak masyarakat di sana. Selanjutnya, mari kita tidur saja..haha.. Bukan itu maksud saya! Maksud sebenarnya: mari kita mengupasnya dengan pedang yang dipakai Tom Cruise dalam film The Last Samurai hingga benar-benar menancap dalam kepala kita.

Pertama, tidak bisa dipungkiri bahwa penyebab dari segala pergolakan politik di wilayah Timur Tengah adalah masalah kegagalan negara dalam mengurus rakyatnya. Ini setidaknya yang bisa saya simpulkan dari fakta-fakta yang ada. Mulai dari rezim yang korup, angka pengangguran yang menggunung, pelarangan mengenakan jilbab, kediktatoran para penguasanya hingga hal-hal yang kecil yang tidak terekspos media. Bagaimana saya bisa menyimpulkannya demikian?? Gampang, tinggal cari definisi negara gagal seperti apa. Habis perkara!

“Sindrom dari negara gagal antara lain keamanan rakyat tidak bisa dijaga, konflik etnis dan agama tak kunjung selesai, korupsi merajalela, legitimasi negara terus ditentang dan menipis, ketidakberdayaan pemerintah pusat dalam menghadapi masalah dalam negeri, dan kerawanan terhadap tekanan luar negeri.” (Robert I Rotberg, The Nature of Nation-State Failure, 2002).

Bukankah terdapat kesamaan ciri negara gagal antara apa yang saya kutipkan dengan fakta sebenarnya (di Mesir, Tunisia, dan lain-lain)?
Dan bisa jadi sebentar lagi Indonesia juga ikut bergejolak jika kondisi negeri ini semakin lama semakin parah. Tunggulah saatnya ketika setiap kepala merasa jengah dan bosan dengan keadaan yang ada!
Tanya kenapa?? Karena Indonesia juga termasuk negara gagal, negara koruptor, negara mesum tingkat dunia 1) dan masih panjang lagi. Bukan begitu?

Sudahlah, akui saja kalau negara kita memang seperti itu adanya! Saya juga mengakuinya kok. Hehe..

Kedua, apa yang menjadi keinginan dari masyarakat di sana.

“Apa kira-kira yang menjadi keinginan warga Tunisia, Mesir, Yaman, Yordan? Saya beri waktu 2 detik untuk memikirkannya. Saya mau ngopi sebentar.”

Nyerah?? Oke, saya pikir jawabannya hanya satu: mereka inginkan kesejahteraan! Setidaknya keadilan ketika pemimpinnya merasakan kenyamanan, bergelimang harta, dsb. Mereka inginkan perubahan pada kehidupan yang lebih baik. Titik! Setuju? — Harus!!

Dan lucunya, mereka pikir dengan bergulingnya rezim yang tengah berkuasa, maka harapan baru akan ada di depan mata. Namun, apakah demikian? Mari bersama saya mendiskusikannya..^_^

Ketidakpuasan masyarakat atas satu rezim tertentu secara wajar memang akan mengakibatkan adanya reformasi, perubahan, atau sebutlah istilahnya yang paling sering digunakan: penggulingan rezim.

Dari jaman dulu sampai jaman sekarang polanya selalu sama. Raja Fuad digantikan oleh Anwar Sadat dalam pemerintahan Mesir, Soeharto digantikan oleh Habibie de el el 2x. Belum lagi di Bangladesh, Pakistan, Iran, dsb. Semuanya terus-menerus mengikuti tradisi, yaitu Reformasi! Jika tidak puas, turunkan dan ganti dengan yang pas!

Reformasi berulang-ulang menjadi bukti bahwa memang ada yang salah dengan apa yang diterapkan. Sepantasnya manusia mau mengambil pelajaran dari apa yang sudah pernah terjadi berkali-kali (bahkan sering kali) di hampir setiap negara, khususnya negara yang mayoritas penduduknya Islam. Tanya kenapa? Karena reformasi, penggulingan rezim, penggantian rezim itu sudah kuno. Terbukti tidak membawa perubahan apa-apa, kecuali hanya secuil saja.

“tapi itu kan memang butuh proses?!”

Begitu? Saya memiliki pandangan sederhana mengenai hal itu. Siapapun orang yang memimpinnya, selama dia menggunakan sistem yang saat ini ada, maka sama saja. Ibaratnya begini, jika saya punya keahlian yang tiada tertandingi oleh siapapun dalam hal mengendarai mobil, kemudian disuruh mengendarai mobil Rally yang sudah usang alias bobrok, apa yang terjadi?? Bukankah saya hanya akan menjadi guyonan dalam pertandingan balap mobil? Sekuat tenaga saya peras untuk mengendalikan dan menambah kecepatannya hanya akan membuat saya merana dan berakhir gila (sumpah, yang ini jangan dibayangkan!!).

Tidak puas dengan pengibaratan?? Oke, saya akan memberikan pertanyaan. Negara kita saat ini dipimpin oleh siapa? //Sudah berapa lama? // Idealnya perubahan yang lebih baik butuh proses berapa tahun ke depan? 5 tahun, 10 tahun?? (saya menjadikan negara kita contoh supaya kerasa feel sengsaranya!)

Adakah melihat perubahan yang berarti kecuali: industri porno makin menggila, korupsi yang tak teratasi, kebijakan yang seenaknya sendiri, biaya pendidikan tinggi membumbung tinggi, dan subsidi BBM dikurangi?? Ada?

Jika memang tidak ada, maka jujurlah bahwa selamanya perubahan orang tak akan menghasilkan apa-apa selama apa yang dia bawa tidak jelas arahnya. “Kami ingin mewujudkan negara yang demokratis, adil dan maju. Merdekaaaaaaaaa!!!!!!”

Demokratis dalam kacamata siapa, Bro? Adil untuk siapa? Dan,, maju yang seperti apa?? Demokratis sehingga menggilas hak-hak rakyat kecil untuk mengenyam pendidikan? Ataukah adil hingga golongan semacam Ahmadiyah tetap diberi toleransi ? Hhhhmmmmm…atau maju hingga tak ada orang yang malu ketika berada di depan kamera tanpa mengenakan baju?

Tentu bukan yang seperti itu. Inilah wajah system kapitalisme 2) saat ini, sistem di mana hukum rimba berlaku. Siapa yang kuat dia menang, siapa punya uang dia menguasa, atau kamu punya sesuatu saya akan ke situ. Lebih jauh lagi, dalam sistem yang seperti ini, pemimpin tidak mempedulikan apakah rakyatnya beragama atau tidak. Implikasinya, moral pun berantakan, nilai-nilai spiritualitas tak diperhatikan, rasa malu ditanggalkan.

Kesimpulan sederhananya: jika kamu merasa sistem yang ada saat ini salah kaprah, ubahlah! Karena diamnya kamu dengan kesalah kaprahan ini menandakan kerendahan berpikir yang kamu miliki (maaf jika ini terlalu menohok!). Siapkan segala sistem pengganti yang memungkinkan untuk mengangkangi sistem saat ini! Ini baru namanya revolusi! Hal ini tidak berlaku untuk negara kita saja, tapi juga untuk Tunisia, Mesir, Yordan dan sebagainya.

Maka pertanyaanya, system apa yang kamu ajukan? Komunisme yang pernah ditumbangkan puluhan tahun silam? Ataukah Islam yang selama ribuan tahun pernah menguasai hampir 2/3 dunia 3)?? Tentu saja kamu akan memilih salah satunya jika kamu benar-benar merasakan dan memikirkan fakta yang saat ini ada. Namun, jika tetap tidak merasakannya: Lupakan Revolusi, dan urus saja diri sendiri!
__________________________________________________
Footnote:

1) Belanja akses situs porno dari Indonesia ternyata mencapai US$3.673 per detik atau setara dengan Rp33 juta lebih setiap detiknya. Mengacu pada data Kementerian Kominfo, pengakses situs-situs porno itu bervariasi, termasuk kalangan siswa. Pengakses dari kalangan siswa SMP mencapai 4.500 pengakses, sedangkan 97,2 persen siswa SMU diperkirakan pernah mengakses situs esek-esek ini (VivaNews.com).

2) Capitalism is an economic and political system in which a country’s trade and industry are controlled by private owners for profit, rather than by the state. Dengan kata lain, hampir seluruh perdagangan negara dan industry dikontrol oleh private, dialihkan ke swasta, bukan justru pemerintah. (Oxford Dictionary). Negara hanya menjamin kebebasan individual saja. Dalam kitabnya, An-Nabhani (yang dirahmati Allah), kapitalisme (ro’sumaliy) merupakan salah satu ideology yang berasaskan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Negara yang menganut system ini tidak pernah mengurus aqidah rakyatnya, menjunjung kebebasan manusia, menjadikan materi (uang) dan kepuasaan jasmani (termasuk makan, ngeseks, dll) sebagai tolok ukur atas kebahagiaan manusia. Contohnya negara kita!

3) Islam pernah diterapkan dalam satu negara sejak masa Rasulullah hingga terakhir yang diruntuhkan oleh Mustapha Kemal Attaturk (semoga laknat Allah setelahnya membuatnya menyesal telah melakukan penghancuran institusi yang melindungi seluruh umat Islam). Daulah Khilafah Islamiyyah namanya. Konon, masa itu terjadi selama 1300 tahun dan berhasil menguasai seluruh Jazirah Arab, Afrika, sampai Spain. Kemudian wilayah Asia mulai dari India hingga Indonesia bagian Utara (Aceh) dan Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s