Melawan Ketakutan


Beberapa hari yang lalu, saya sempat berdebat konyol dengan sahabat saya sendiri. Parahnya, kami mendebatkan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal dan logika berpikir kami. Tentang dunia lain, dunia ghaib yang sama sekali tidak kami ketahui (yang kami tahu hanya berupa perkataan orang dan mitos tentangnya. Katanya mereka bisa menampakkan dirinya dengan wujud pocong, hantu tidak berkepala, si cantik pucat yang bisanya hanya ngesot dan sebagainya) dan segala tetek bengek yang berhubungan dengannya. Diskusi singkat kami tidak membawa kesimpulan yang berarti, kecuali hanya satu : ketakutan terhadap makhluk ghaib tidak sewajarnya dan seharusnya menjadi fokus kami. Itu saja! Karena kami sudah tidak mau melanjutkan diskusi yang riskan berujung pada debat kusir yang tak terkendali.

Ya sudahlah, lupakan semua tentang hal ghaib. Bukan kapasitas saya untuk membicarakannya. Allahlah yang maha tahu akan dunia yang sengaja diciptakanNYa, dunia yang hanya Allah saja yang akan memahaminya.

‘alimul ghaibi falaa yudzhiru ‘alaa ghaibihii ahad
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.” (Al-Jin [72] :26)

Lalu apakah berarti mereka yang bisa melihat “dunia lain” dan makhluknya –pocong, hantu jeruk purut, suster ngesot, genderuwo dan mak lampir- hanya kebohongan belaka? Wallahu alam, saya hanya akan mempercayai bahwa sesuatu yang ghaib itu benar adanya, sedangkan bagaimana wujud rupanya saya masih belum bisa percaya sepenuhnya (Ya Allah, jangan sampai saya ketemu salah satu dari mereka. Doa saya itu saja!). Bagi saya, that’s enough! Saya tidak mau memperpanjang dan meninggikannya. Hal ini bukan berarti saya tidak akan takut jika suatu saat (secara tiba-tiba) saya berpapasan dengan salah satu dari mereka. Ketakutan itu tidak akan pernah hilang. Karena ini sebuah naluri alamiah manusia yang selamanya tidak akan penah bisa dimusnahkan, hanya bisa diminimalkan.

Jika mengamati pola yang ada, ketakutan terhadap sesuatu hanya akan terjadi ketika manusia mendapat informasi yang menakutkan, menyeramkan terhadap sesuatu tersebut. Terlepas apakah sesuatu itu berupa fakta yang sudah dilihatnya atau sebaliknya. Informasi yang diterimanya menentukan fluktuasi ketakutan pada diri manusia. Di sini rangsangan informasi sangat berperan. Contoh dekatnya saya! Saya tidak akan pernah merasa takut pergi ke belakang tengah malam jika saya tidak pernah mendengar cerita-cerita murahan teman-teman saya tentang hantu gentayangan atau nonton Scream, Stay Alive, Hantu Pocong (saya lupa apa saja nama film horror yang ada di Indonesia. Jujur saja, saya sangat tidak tertarik untuk melihatnya. Tanya kenapa?? Karena setan Indonesia gak elit, gak gaul, gak keren kaya setannya Barat yang canggih teknologi dan selalu tampil lebih elegan). What a Moron! Haha..yang jelas saya tidak separah itu.

Ketakutan memanglah satu hal yang wajar, namun ketika kita terus-menerus membiarkan masuknya rangsangan-rangsangan, informasi-informasi yang bisa menambah perasaan takut yang kita miliki, maka ini sudah tidak wajar lagi. Terlebih itu sesuatu yang sama sekali belum tentu terjadi. Selanjutnya akan menjadi ketakutan yang membabi buta.

Yaa..ketakutan yang membabi buta dan tidak pada tempatnya sudah menjadi trend masa kini. Pantas saja banyak orang takut dengan Islam, dengan syariat Islam yang jika diterapkan katanya akan mengebiri hak asasi manusia, mengekang kebebasan manusia-wanita khususnya, takut dengan kata jihad dan sebagainya. Semua itu bisa terjadi dengan mudah karena mental manusia (terlebih manusia berwarga negara Indonesia) mental suster ngesot! Tiap hari dicekoki dengan halusinasi murahan Jenglot, Kuntilanak dan semacamnya. So called ketakutan yang tidak pada tempatnya, beberapa orang menyebutnya unreasonable fear. Kebiasaan inilah yang (setidaknya menurut saya) sedikit membawa pengaruh pada mental manusia. Kebiasaan menonton, mempercayai, dan meyakini apa-apa yang belum tentu ada dan belum tentu terjadi.
“Aku takut kalau gak punya pacar, ntar bakal gak bisa dapet jodoh.”
“Kalau aku dikucilkan gimana..”
“Kalau pas wudhu nanti tiba-tiba ada putih-putih yang lewat gimana..”

Dsb..

Ini salah tiga bentuk ketakutan yang tidak pada tempatnya. Berkalau-kalau, berandai-andai, berhalusinasi layaknya orang yang “tidak penuh”. Kasian sekali.

Saya memaklumi, karena kita dibesarkan dalam dunia yang penuh dengan angan-angan panjang. Dunia perklenikan, perzodiakan, dan pembodohan-pembodohan lainnya yang dilakukan oleh media yang tak tahu malu. Ruben Onsu mengistilahkan dunia semacam ini sebagai “duniaaa.. khayal!!!”.

Apa kata mbah-mbah kita, orang tua, tetangga, teman-teman, dan media kita mempengaruhi mental kita. Bisa jadi ketakutan-ketakutan kita saat ini akibat didikan tidak langsung mereka. Membiarkan kita takut pada makhluk aneh bernama sundel bolong. Ke depan kelas gemetaran, ke kamar mandi tengah malam minta diantar (sumpah kalau yang ini parah banget!) Penyakit ini akan menurun jika kita tetap membiarkannya. Tidak hanya pada anak-anak kita, tapi juga pada cucu cicit kita. naudubillah…

Satu hal yang harus saya akui: ketakutan-ketakutan itu terkadang masih sering menggelayuti. Saya ingin menguburnya dalam-dalam, memenjarakannya hingga tak pernah muncul dan menghantui lagi. Namun informasi yang sudah terlanjur melekat dalam kepala ini begitu susah untuk dihilangkan, terlanjur membentuk persepsi, dan secara tidak sadar membentuk mental teri diri ini. Ya ya, saya sedang berperang melawan ketakutan saya sendiri. Setidaknya saya mau melawannya. Bagaimana denganmu?

Di selesaikan beberapa hari setelah nonton film Horor, di dalam kost-kostan yang lumayan horror. Haha… – Melawan ketakutan yang masih tertawan [semoga Allah memudahkan setiap azzam yang terpancangkan dalam kepala, mengubah ketakutan menjadi keberanian, mengubah dunia yang tengah merana dengan Dien-Nya. Insyaallah..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s