War Of Contemplation


Jika membaca cepat, kamu bisa jadi berkesimpulan saya bejat, namun jika sebaliknya kamu bisa menganggap saya orang bijak. Bacalah sesuai dengan style kamu, dengan posisi yang kamu anggap menyenangkan. Saya sangat menyarankanmu untuk tidak membaca ini ketika kamu sedang jongkok di toilet. Karena saya yakin itu sangat mengganggu pemandangan, ke-comfort-an, dan konsentrasi!Perang itu wajar dan selalu terjadi di dalam diri setiap manusia!!

Ekstrim?? Tentu tidak!

Dalam tiap detik dan sepersekian detik tubuh kita selalu mengerahkan sel neutrofil dan beragam jenis sel limfosit untuk memerangi benda-benda asing yang tengah masuk ke dalam tubuh. Tak peduli sekecil apapun benda asing tersebut. Di lain sisi, manusia pun juga sering mengalami apa yang disebut dengan perang batin, perang pemikiran dan perasaan. Kalau istilah “Slank” nya, I miss U but I hate U, sedang dalam ilmu psikologi, perang yang demikian bisa sampai taraf kognitif desonan 1).

Dalam ranah perpolitikan negara, bahkan dunia pun perang menjadi suatu hal yang wajar. Semenjak masa sebelum Rasulullah, kemudian masa Rasulullah, setelahnya pada masa bani-bani, dilanjutkan lagi masa perang dunia, Israel-Palestina, hingga perang pada masa Obama 2). Ini sebabnya kenapa saya mengatakan bahwa perang itu memang wajar adanya. Selama masih ada kebenaran dan kebusukan, maka perang menjadi satu hal yang crucial dalam pertahanan keduanya. Yang baik mempertahankan sifat baiknya, yang busuk mempertahankan sifat busuknya. No compromise!

Perlawanan dan peperangan secara wajar bukanlah hal yang disukai manusia. Manusia menyukai sesuatu yang selalu menentramkan hatinya, mengenyangkan perutnya, memenuhi aspek-aspek manusiawinya. Sekarang kembali mempertanyakan: bagaimana dengan perang, jihad mengangkat senjata?? Bukankah terkesan menyeramkan, seperti pembantaian yang dilakukan Hitler dan kawan-kawannya, atau bahkan sama saja hal tersebut mengenyahkan aspek cinta damai yang dibawa oleh Muhammad?

“Kenapa sih harus perang? Islam kok kesannya serem gitu ya..ada jihadnya segala.” Tanya teman saya yang sampai sekarang masih menganggap horror kata jihad.

Di sini jihad berusaha dihujat, dipertanyakan, dan bahkan dipertentangkan yang tak lain oleh umatnya sendiri. Saya tidak menyebut teman saya tadi menghujat, namun saya yakin dia sebatas mempertanyakan, meyakinkan keimanan yang baru didapatnya setengah-setengah.

Saya memakluminya karena pengertian jihad selama ini sudah dikerdilkan, disempitkan, diperuncing menjadi segala sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh media. Itu setidaknya muncul dari mulut orang nomor satu di negara ini beberapa waktu yang lalu ketika menanggapi isu bom bunuh diri. Melalui media, jihad dikonotasikan sebagai perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tak ada salahnya, namun ketika jihad dalam pengertian qital (perang) dilemparkan ke Recycle penampung bak-bak informasi yang tidak diperlukan karena dianggap tak menjanjikan laba pada industri hiburan, maka tinggal klik delete. Habis perkara! Akibatnya, orang yang sudah dari awal tidak tahu – menahu soal jihad menjadi meng-iya-kan, mengaplikasikan, dan menganggap remeh jihad untuk melawan musuh-musuh Islam. Akibatnya lagi, ribuan saudara di Palestina, Afghanistan, Pakistan, Yaman dan sekitarnya yang saat ini tengah menjadi incaran empuk kebar-baran Amerika tak berkutik dan tak berdaya. Di lain sisi, kita diam saja. Serem?? Iya! Kita yang menyeramkan karena terlalu tega membiarkan saudara-saudara seiman kita teraniaya.

Dalam hal apa jihad akan dihujat? Apakah dengan membunuh musuh Islam yang selalu mengharapkan kehancurannya layak untuk diperdebatkan? Bukankah Islam satu-satunya ideologi yang membedakan mana pihak kawan dan mana pihak lawan, mana yang licik dan mana yang baik, mana yang benar-benar beriman dan mana yang munafik? Kontemplasikan, renungkan secara bijak!

ISLAM : AGAMA DAMAI ATAU AGAMA PERANG?

Menanggapi hal ini, tentu kita tidak bisa asal menjawab. Bagai makan Simalakama, maju kena mundur kena. Jawab agama damai bukan, agama perang juga bukan kata yang tepat untuknya. Kita tidak bisa menyimpulkan Islam agama yang damai lantaran Muhammad Saw mengajarkan pada kita untuk menahan amarah, memaafkan orang lain, dan berbagi dengan sesama. Kenapa? Karena Rasulullah juga pernah memimpin dan memobilisasi para sahabatnya beserta pasukan Muslim yang lain dalam Perang Khaibar, Perang Khandaq, dan serentetan perang yang teramat banyak untuk disebutkan. Mungkin kamu lebih hafal dibanding saya!

Begitupun kita juga tidak bisa menyimpulkan atau menilai Islam sebagai agama perang lantaran Rasulullah dan para Sahabat sering melakukan jihad dan futuhat (menaklukkan) negara lain. Karena apa? Rasulullah ternyata juga pernah melakukan negosiasi dan diplomasi membentuk perjanjian Hudaibiyah, atau juga melarang membunuh dan menyiksa orang-orang kafir yang mau tunduk terhadap aturan-aturan Islam.
Layaknya fitroh manusia yang menganutnya, mempunyai sisi lembut dan sisi keras. Saya yang kalem (olala!) terkadang pun juga menampakkan sesuatu yang berkebalikan dengannya. Apakah ini bisa disimpulkan saya berkepribadian ganda? Tentu tidak!

Bukankah semua bergantung konteks dan situasi? Islam bukanlah agama yang menggunakan standar ganda. Damai tapi ternyata perang, atau sebaliknya. Perang hanya menjadi upaya terakhir ketika suatu daerah tidak mau tunduk dalam naungan Islam ataupun pemerintah suatu negeri menantang militansi pasukan Islam. Peperangan Islam hanya ditujukan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesamanya, menghapus segala bentuk ketidakadilan dan kedzoliman, menempatkan manusia pada derajat, harkat, martabat setinggi-tingginya dengan menyembah, menghamba pada Zat yang benar-benar pantas untuk disucikan, bukan untuk menguasai, menjarah harta kekayaan negara lain, menghegemoni negara kecil sebagaimana yang dilakukan Amerika dan teman-temannya.

Sekarang pertanyaannya dibalik! Perang Amerika melawan Iraq, Afghanistan, Pakistan tidakkah lebih biadab (saya sengaja memakai kata ini. Karena serem bagi saya masih terlalu halus dan tidak ada feelnya)? Bukankah perangnya Amerika (dan juga Israel sekutunya) menewaskan ribuan nyawa tak berdosa? Berapa balita yang mati? Berapa belia dan remaja yang syahid? Berapa wanita yang menjadi korban kebejatan plus kebinatangan militernya? Berapa banyak fasilitas umum yang telah diratakan, dirusak, dihancurkan? Tidakkah itu terdengar jauh lebih mengerikan dalam benak kita? bagaimana manusia tak berdosa dijadikan sasaran, tak pandang bulu siapa membunuh siapa, sedang Islam jelas mengharamkan membunuh wanita, anak-anak, dan orang yang tidak terlibat dalam pertempuran. Jangankan membunuh, melukai mereka saja sudah berdosa.

Tidak pernah berpikiran untuk mempertanyakan ataukah memang tidak mau mempertanyakan? Pikirkan, tanyakan, buktikan, dan pancangkan dalam kepala yang masih belum botak gara-gara mikir tugas yang bejibun! Lakukan war of contemplation untuk menjadi orang yang lebih bijak.

Ssssttt, jangan sampe botak kaya si Einstein! Berdasarkan penelitian dan fakta sejarah, orang botak punya risiko Skizofrenia lebih tinggi (haha, ampun dah. Just kidding aja!). Pirrrikitiewww! ! ^u^ v
___________________________
Footnote:
1) Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori komunikasi yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.( http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_disonansi_kognitif).
2) Perang Obama adalah perang pada masanya Obama. Yang saat ini tengah gencar diberitakan adalah permusuhannya dengan pasukan militant Pakistan. Siapa yang dianggap militan? Pasti lagi-lagi orang Islam, bukan orang Hindu, Budha, apalagi Kristen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s