Omong Kosong Nasionalisme


Di tengah hebohnya jagad perbolaan di negara kita melalui aksi-aksi yang diperlihatkan oleh Gonzales, Bambang Pamungkas, Irfan Bachdim dan teman-temannya dalam AFF kemarin, siapa yang mengira bahwa di bagian bumi yang lain, puluhan nyawa manusia melayang oleh tangan-tangan Amerika. Lagi-lagi Amerika! Si jagoan pengecut yang kerjaannya hanya ngomong kosong. Tanggal 27 Desember 2010 lalu, tepat dua hari sebelum final kedua AFF di GBK, serangan pesawat tanpa awak tengah dilayangkan AS ke daerah Wirizistan, Pakistan. Tiga serangan dalam satu hari tersebut berhasil merenggut 25 nyawa. Luar biasa ganasnya? Iya, memang begitulah adanya Amerika. Berita ini hasil pengintipan saya di situs http://id.news.yahoo.com/lptn/20101228/twl-puluhan-orang-tewas-diserang-pesawat-7dafc38.html. mau disimak, silakan… Berita ini ketinggalan dan membosankan? Ah, jika saya yang menulis rasa-rasanya akan jauh berbeda.

Bagi saya, pemberitaan media tentang pemain TimNas sangat mengganggu telinga. Segala hal tentang mereka diliput, seolah-olah wartawan dan reporter TV akan kena pecat dan mati kelaparan jika tidak memasang berita mereka. Begitu juga para pemujanya yang sangat gila. Teriak-teriak bak cacing kepanasan ketika melihat Bachdim beraksi melakukan selebrasi pasca memasukkan bola ke gawang lawan. Iiihhh, ganteng sih ganteng, tapi biasa aja kali. (ssssssssssstt, tetangga saya ada yang mirip Irfan Bachdim. Pemain sepak bola juga. Ahaha…)

Saya sendiri tidak begitu antusias memelototi layar kaca untuk mendukung timnas Indonesia yang sangat dibanggakan oleh Andi Malarangeng tersebut. Bagi saya, kalah menangnya Indonesia melawan Malaysia tidak akan membawa perubahan apa-apa pada negara kita. Whoever wins, we lose. Kalah menangnya bangsa Indonesia tidak akan pernah berkorelasi dengan perbaikan bangsa ini. Katanya, “sepak bola sudah berhasil mempersatukan bangsa Indonesia, memunculkan semangat nasionalisme terhadap masyarakat yang sudah lama terkubur”. Dengan sangat berat hati saya menyatakan bahwa semangat persatuan yang mereka dengung-dengungkan akibat adanya sepak bola hanya dalam hitungan detik saja. Semangat nasionalisme, patriotisme gombal yang mereka elu-elukan itu hanya sebatas pada sepak bola. Tidak akan bertahan lama, hanya akan nampak pada beberapa hal yang tidak penting saja.

Kalau mau konsisten dengan nasionalisme, harusnya tidak hanya pada sepak bola saja, tapi juga pada yang lain. Namun kenyataannya, di mana letak nasionalisme (dan patriotisme) ketika kekayaan alam Indonesia dijarah oleh Amerika? Di dengkul?? Ahaha…mungkin sudah dibuang jauh-jauh entah ke mana. Jangankan nasionalisme, peduli saja tidak. Beginilah kalau nasionalisme diunggul-unggulkan. Padahal sikap nasionalisme itulah yang merusak dan mengobrak-abrik negara Islam puluhan tahun silam. Nasionalisme, ikatan rendah yang hewan pun juga memilikinya. Tersekat oleh batas territorial negara, ras, bahasa, bahkan suku bangsa. Ikatan yang akan hilang setelah hilangnya ancaman yang ada.

Nasionalisme membuat kita terkadang buta dengan kemelut masalah yang melanda saudara-saudara kita di belahan bumi lainnya dan hanya mencukupkan diri pada mendoakan mereka (Mendoakan? Saya pikir hanya beberapa saja yang mau mendoakannya). Menganggap bahwa masalah saudara-saudara di negara lain bukanlah sesuatu yang perlu dipusingkan dan akan terselesaikan oleh internal negara mereka. Hal ini seakan-akan tidak ada buruknya, tapi bagaimanapun juga penderitaan mereka, sakit mereka, memunculkan pertanyaan besar pada diri kita, “sakit kah aku, kamu, kalian melihat sakit fisik dan perasaan yang dialami saudara-saudara kita di Pakistan, Palestina, Iraq, Kirgiztan, Uzbekhistan?” . Tidak berpikirkah bagaimana perasaan mereka ketika mereka mengharapkan uluran tangan dari saudara-saudara muslim lainnya namun kita sedang merayakan , tertawa bahagia dengan kemenangan (meski akhirnya kalah) sepak bola? Inilah hebatnya nasionalisme yang berhasil membutakan mata, menutup telinga dan hati kita. Bernyanyilah untuknya!

Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang

Garuda berfilosofi sudah mati tergilas arus globalisasi dan symbol-simbol satanic Ahmad Dhani. Garuda nampak hanya pada bola, budaya, namun tidak ada pada aspek yang lainnya. Itulah kenapa filosofi Garuda merupakan satu hal yang khayali. Hipokrit alias sudah tidak mungkin dilihat dari dasarnya. Nyanyian pengikat nasionalisme itu sama sekali tidak bernilai di tengah kacaunya negeri ini. Kenapa “Garuda di dadaku” tidak muncul ketika uang negara dibawa kabur oleh Gayus Penimbunan? Atau muncul pada saat Obama meminta SBY menandatangani kontrak kerjasama komprehensif yang sangat merugikan negeri ini?

Lebih sangat tidak manusiawi lagi, di saat banyak orang kelaparan, mengemis minta bantuan, korban Mentawai, Lapindo dan korban bencana lainnya bernasib tak jelas, masyarakat kita, pejabat negara kita – bahkan Presiden kita- dan hampir seluruh mata tertuju pada sepak bola. Yeah, saya tahu Timnas kita main dan Presiden kita harus menunjukkan appreciate serta dukungannya terhadap pahlawan negara Indonesia(katanya), namun just see at the other side, Honey. Jangan sampai saya naik pitam karena sikap intolerant kalian terhadap saudara-saudara kita yang lain. Apalagi hanya gara-gara nasionalisme sepak bola.

Sadarlah bahwa semua ini hanya permainan belaka. Sepak bola merupakan trik menarik yang bisa mengalihkan persatuan dan kesatuan seluruh umat manusia. Kita tertawa, yang lain merana..atau nanti kita akan mengalami sebaliknya, tak ada yang mengira. Selanjutnya, selamat berkontemplasi!

One thought on “Omong Kosong Nasionalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s