Reflection


Bulan Oktober menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi pemuda Indonesia. Bulan di mana para pemuda menggemakan sumpahnya untuk bertanah air, berbahasa, dan berbangsa yang satu. Bulan yang menjadi titik tolak perjuangan dan pergerakan pemuda Indonesia setelah sekian lama berada dalam jurang keterpurukan akibat penjajahan.

Menyoal Hari Sumpah Pemuda itu hal yang biasa, tapi menyoal masa muda inilah yang agak tak biasa. Masa-masa ini sungguh indah, tidak untuk saya pribadi, kamu, loe, dan Anda yang masih muda. Semua menyepakatinya bahwa masa muda adalah masa kita semua. Masa kita dengan semangat tinggi, masa di mana tenaga bak mesin yang baru dibeli, masa kita menata diri, masa kita beridealisme tinggi, dan tak jarang pula masa kita untuk seenaknya sendiri. Darah muda, Bro!^_^ Tapi selanjutnya sejarah seperti apa yang akan kita ukir, itu pilihan kita sendiri.
Sebuah refleksi masa muda.

Hidup ini pilihan. Tapi apa yang dipilih oleh kebanyakan orang adalah sesuatu yang bisa terbilang sangat biasa. Pagi berangkat kuliah (berangkatnya pakai siang lagi), siangnya tongkrongan. Sorenya ketiduran, malamnya begadang Pe-Esan. Besoknya kalau udah bosen, ganti kesibukan. Entah genjrengan, ngukur jalan, atau mojok di Kenjeran. Begitu seterusnya,…dan inilah yang terjadi pada generasi umat Islam yang sekarang. Hampir semuanya berpola sama. Jika mau gaul sedikit, rokok-an, koploan, dugeman, tatoan, tawuran, dan maen taruhan. Inilah yang katanya “hidup ini pilihan”!

Agaknya kita merasa malu dengan generasi-generasi Muslim pada jaman dahulu yang begitu luar biasa. Tentu saja kita tak pernah melupakan bagaimana sejarah mencatat seorang Ibnu Sina yang mahir dalam bidang kedokteran di masanya yang masih terbilang muda (ada yang mengatakan di usianya ke 18 dia sudah menjadi seorang dokter). Kita juga tak pernah lupa akan nama Ibnu Khaldun yang dengan lihainya menjelaskan ilmu ekonomi dalam bait-bait kitabnya dan masih banyak lagi prestasi umat Islam yang lainnya.Mereka tak hanya mahir dalam bidang tersebut, tapi juga ahli dalam bidang fiqh, satra, dan lain-lain. Lantas sekarang kita patut mempertanyakan, bagaimana bisa output berbeda padahal jenis kita sama?? Bagaimana prestasi yang teraih berbeda padahal opsi-opsi yang kita miliki dengan mereka pun sama? Bagaimana bisa umat Islam dulu disegani dengan kecerdasan dan kedalaman berpikirnya-sedangkan sekarang kebalikannya- padahal masa muda yang kita punya juga sama?

Masa muda, bagaimana pun wujudnya jika dibandingkan dengan masa-masa manusia yang lain sangatlah berbeda. Sejarah mencatat bahwa perubahan selalu dimulai oleh orang-orang muda. Rasulullah bersama para sahabatnya mampu mengubah masyarakat Arab yang sangat jahil (bodoh) ke masyarakat yang Islami, Muhammad Al-Fatih yang terkenal sebagai penakluk Konstantinopel, Thariq bin Ziyad yang gagah berani memimpin ekspedisi ke Kota Andalusia hingga mampu menaklukkannya, Imam Syafi’i, dan masih banyak orang-orang yang berprestasi tinggi diraih pada saat usia mereka masih terbilang cukup muda. Jika seperti itu adanya, lantas tidakkah kita bertanya-tanya ada apa dengan generasi kita-atau bahkan kita?

Rasulullah bersabda, “Tidak akan melangkah kaki anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah; tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya, serta apa yang diamalkan dari ilmunya.” ( HR. At-Tirmidzi)

Opsi-opsi kita sama di hadapan Allah Swt, maka tunggu apa lagi?? Masa manusia di dunia tak dapat di logika, tak bisa dihitung layaknya ranah eksakta yang darinya akan muncul angka-angka. Jika kita tidak segera memperbaiki diri dan generasi muda yang kita miliki, lantas bagaimana kita bisa menjadi umat terbaik yang ada di bumi ini?

“….Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (TQS. Ar-Ra’du [13]: 11)

Wallahu ‘alam bi ash shawab..

Sebuah refleksi untuk revolusi dan orang-orang yang semangat merevolusi. Keep Revolt always!! ^_^

Spesial tulisan untuk kampusku tercinta, semoga barakah……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s