Intolerant!!!


…Bila yang tertulis untukmu adalah yang terbaik untukku
Kan ku jadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku…
(Samson)


Lagu itu akan sangat enak didengar kalau saja dinyanyikan oleh orang yang secara suara mempunyai kualitas yang cukup (minim kaya suara saya lah. Huehehe..) dan dinyanyikan pada waktu yang “pas”. Saya katakan pas karena lagu itu akan sangat biasa diperdengarkan di acara ulang tahun anak usia 8 tahun, atau akan sangat tidak menyenangkan kalau diperdengarkan di dekat telinga orang yang lagi menderita sakit gigi. Coba bayangkan saja kalau itu terjadi, bakal kena sumpah serapah dari tuh orang..:)

Intolerant!! Lagu bagus seperti itu dinyanyikan pada saat saya tengah mencoba untuk memejamkan mata ini. Tak apa kalau yang nyanyi suaranya bagus, tapi kalau sebaliknya…(nyanyinya masal lagi). yah, bisa dibayangkan apa jadinya. Felt like insomnia! Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi hari. Tuing tuing kepala ini. Terus mencoba

Bersambung lagi lagunya dengan “ya sudahlah”nya Bondan fade to Black, kemudian lanjut lagunya Sule, berlanjut dengan lagu nostalgia. Wih, makin pagi makin gila aja. Merahnya semangat anak muda di kampung saya sangat luar biasa! Luar biasa menjengkelkannya! Begitu juga masih dilanjutkan koplo-an pake sound system(entah ini pinjam punya siapa).

Intolerant!

Intolerant ketika mereka terus melanjutkan aktivitas mereka tanpa melihat bagaimana kondisi sekitarnya. Intolerant ketika mereka nyanyi “oka oke” tapi g sadar kalau rumah dekat mereka “ngereng” (nyanyi g jelas-red) merasakan insomnia berat.

Dan ini terjadi pada kebanyakan pemimpin kita. Ilustrasi di atas mungkin bisa juga dimanfaatkan untuk menggambarkan betapa tidak berempatinya para pemimpin kita pada keadaan sekitar mereka. Bagaimana rakyat di sekitarnya tengah merasakan himpitan kehidupan pada saat mereka hidup bermewah-mewahan. Intolerant! Di saat banyak masyarakatnya mengantri zakat dan sembako, para pemimpin kita justru sedang membicarakan rencana pembangunan gedung mereka yang dengar-dengar akan dilengkapi dengan fasilitas kolam renang. “Ah, bar aja sekalian!” pikir saya agak ngawur

Intolerant menafikkan rasa peka pada hati manusia, mengindahkan segala simpati maupun empati dari manusia. Intolerant juga lah yang berhasil mencipta sebuah jembatan kesenjangan dari dua dunia dengan karakter antagonis. Jurang si papa dan si kaya, si keren dan si cupu, si bodoh dan si pintar.

Intolerant… Intolerant…
Saya tidak mau sampai mimpi tentangnya…udah dulu ah, mau nyoba tidur lagi.”bismika allahumma ahya wa amut”

Trenggalek, 10 September 2010 [01.30]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s