The Power of Perception–Kekuatan Persepsi


Semua orang jelas memahami bahwa kekuatan persepsi pada seseorang akan sedikit banyak mempengaruhi perilaku dan atau perlakuan orang tersebut pada sesuatu atau orang lain(coba dech pahami sebentar maksud dari pernyataan awal saya. Karena kalau bagian ini saja tidak dipahami, maka selanjutnya bisa dipastikan bahwa tulisan saya bagi Anda akan bernilai NOTHING alias tidak bernilai apa-apa di hadapan Anda!! Tak lebih dari sebuah sampah yang mampir di suatu dunia bernama dunia maya). Kenapa saya sangat tertarik untuk membahas ini dalam tulisan saya,,jawabannya tidak lain karena memang kekuatan persepsi sangat tidak ada duanya. Ok, kita sedikit memanfaatkan otak kita sejenak untuk mencerna kata-kata di bawah ini :

Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.(Wikipedia)

Ah, mungkin dengan sedikit penjelasan dari tante Wiki belum seberapa “ngeh”, tapi coba bandingkan dengan penjelasan dari seorang An-Nabhani mengenai persepsi (mafahim-bahasa Arab):

Mafahim, adalah pemikiran yang telah dipahami maknanya dan dibenarkan oleh seseorang (Shalih, 1988:24-26; Al-Qashash, 1995:141; Athiyat, 1996:49). Jadi, sebuah pemikiran akan berubah menjadi mafahim bagi seseorang jika memenuhi dua syarat, yaitu : Pertama, orang tersebut telah memahami makna pemikiran (idrak madlul al-fikrah) dengan tepat. Kedua, orang tersebut telah membenarkan pemikiran itu (at-tashdiq bi al-fikrah) (Muqaddimah Ad-Dustur, 1963:5-6). Jika suatu pemikiran hanya dipahami maknanya, tetapi tidak dibenarkan, maka pemikiran itu tidak menjadi mafahim bagi seseorang, melainkan hanya sekedar informasi (al-ma’lumat).

Contoh :

1. 2 orang sedang berdiskusi tentang politik. Hanya satu kata yang dibahas, yaitu tentang POLITIK. Tapi apa yang terjadi, ujung-ujungnya mereka hampir berkelahi karena yang satu berkeyakinan bahwa politik itu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan seorang Muslim, dan yang satunya berkeyakinan bahwa politik itu bisa melalaikan seorang Muslim dari tujuan hidupnya di dunia, bahwa politik itu kotor, bla bla bla dan bla bla bla…di mana sebenarnya permasalahan utama dari kedua orang tersebut?? Jawabannya pasti pada persepsi!! Pasti!! Keduanya mempunyai persepsi berbeda mengenai politik, dan akhirnya….respon mereka pun ketika mendengar tentang politik akan berbeda.
2. Seseorang tidak pernah mau diajak mengikuti kajian keIslaman. Katanya kalau ikut itu nanti akan disuruh begini, akan disuruh begitu, keras, memaksa, bla bla bla #@@%%^&**^..padahal itu hanya katanya, dia belum pernah tahu dengan mata kepalanya sendiri. Wal akhir, tidak heran jika dia tidak pernah ikut ke kajian keislaman tadi, bahkan lucunya sampai menghindar dari orang yang biasanya mengajak dia. Haha…apa permasalahannya?? Sama!!! Tidak lain terletak pada persepsi. Persepsi orang tadi terhadap kajiannya, bahkan sampai pada tataran penyelenggara kajian tersebut.
3. Seseorang selalu mengatakan pada dirinya sendiri ketika dia sedang menghadapi suatu masalah dengan kata-kata “ aal iz well 2x” siapa dia??…dialah Ranchhodas Shamaldas Chanchad, si jenius yang ternyata namanya adalah Mr. Phunsuk Wangdu(ah, g penting banget!!). tapi luar biasanya dia akan selalu berhasil melewati setiap masalahnya dengan baik hanya berbekal keyakinan dan pemahaman bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan (yeaaah, terlepas dari apakah itu fiktif atau nonfiktif yang ada di film three idiots, tapi minimal bisa saya jadikan contoh. Haha..).sebenarnya saya masih mengkaji ulang apakah contoh ini sesuai dengan pembahasan saya atau sebaliknya. Harap maklum, saya hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Ceile…=)

Hm…diakui atau tidak, persepsi akan memberikan tendensi seseorang pada suatu perkara. Dia bisa berpotensi positif dan negative, bergantung pada tepat dan tidaknya apa yang dia lihat dengan informasi yang didapat. Wal akhir, samakan persepsi ketika mau berdiskusi, cari informasi untuk kuatkan kebenaran persepsi, dan gunakan persepsi sesuai porsi. Jangan jadikan persepsi sebagai sesuatu yang menghalangi untuk saling berbagi, men-judge orang dengan seenak perutnya sendiri, membanggakan diri, bahkan sombong dan mengindahkan kebenaran dari orang lain. Naudzubillah tsumma naudzubillah…

“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. “ (TQS. Az- Zumar [39]: 18)

Think what you see and what you hear, then seek first to understand..

‘Allahu alam bi ash shawab..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s