Confusing the Indonesian Law : Benarkah tak Ada Kebenaran Mutlak??


Saya tidak bisa membayangkan bakal jadi apa saya kalau berada di tengah-tengah orang hukum dalam waktu yang relatif lama. Betapa tidak, pasalnya orang hukum kerjaannya hanya melototi Undang-undang yang hampir tiap jaman mengalami perubahan. Dalam perkuliahan yang hanya memakan waktu 100menit saja kepala saya sudah cukup kliyengan, apalagi kalau dalam waktu lama…bisa pingsan di tempat g ada yang nolongin. Hehehe…yang ada malah ditinggal kabur. Ckckck..

Saya mencoba mengira-ngira kenapa saya suka pusing jika mendapat mata kuliah tentang hukum(padahal ujiannya juga open book. Jadi apanya yang dipusingin? ^_^). Ternyata,saya menemukan jawabannya!! Aha, ternyata teman, HUKUM DAN ATURAN DI INDONESIA INI MEMANG SANGAT MEMBINGUNGKAN!! Mulai dari yang tertinggi yaitu apa yang disebut konstitusi, lalu Undang-undang, Keputusan Presiden(Kepres), Keputusan Menteri(Kepmen), Peraturan Pemerintah(PP), Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang(Perpu), dan Peraturan Daerah(Perda). Subhanallah, sampai sini saja sudah cukup mbulet. Belum lagi kalau antara satu peraturan dengan peraturan yang lain saling bertentangan, maka akan ada yang dinomor duakan bahkan juga bisa tidak diberlakukan. Contohnya apa ya?? Mm…nanti kalau saya contohkan jadi pusing kaya saya. Jadi mending g usah!! Okeh??!

Selanjutnya apa yang saya pikirkan adalah, bagaimana masyarakat tidak bingung kalau aturannya sering diubah, sedikit-sedikit amandemen, revisi dan di-judivial review(uji cobakan)?? Yang ada masyarakat malah jenuh dan bosan karena makin hari aturannya makin tidak jelas. Kalau kata dosen saya, “tidak ada kebenaran mutlak”, nah makanya kalau hari ini dianggap aturan tersebut sudah g berlaku, maka yang ada para anggota dewan langsung semangat membuat aturan/undang-undang baru(g selalu baru sich-minimal dimodifikasi sedikitlah) . Ini sebenarnya dewan kurang kerjaan atau gimana sih?? Tapi katanya orang-orang hukum, sekali buat undang-undang, mereka bisa meraup kentungan sekitar 50 juta. Huah, bisa dipake untuk jalan-jalan keluar Jawa itu…

Benarkah tidak ada kebenaran mutlak? Lalu apa artinya kita bersyahadat dengan menyebut “lailahailallah muhammad Rasulullah” jika selanjutnya kita beraggapan bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak??

Just Allah proper to be A decision maker.

Makin banyak yang membuat, makin bingung orang dibuatnya “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”(TQS. Al-An’aam[6]:57)

Menetapkan hukum itu sepenuhnya hak Allah. Jika manusia diberi kewenangan untuk membuat hukum atau undang-undang(apalagi tidak didasari dengan Alqur’an, as sunah, ijma’ dan qiyash), maka ini berarti manusia sudah menantang Sang Pembuat hukum sejati. Manusia jaman sekarang sudah tidak takut dengan azabNya. Manusia jaman sekarang lebih takut dengan sesamanya…sungguh menyedihkan.
Enaknya, hukum buatan Allah itu tidak hanya berlaku di jaman Rasulullah saja, tapi juga berlaku untuk umat manusia sepanjang masa. Hukum Allah berlaku sepanjang masa, tak lekang oleh waktu.

Jadi, udah dech, g usah cari-cari alasan sebagai pembenaran tindakan dengan berbicara bahwa tidak ada kebenaran mutlak…just believe what we have to believe. We believe Allah, so we have to follow His guidance. It’s not a kind of force, but it’s our consequences of being Moslem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s