Positive thinking pada OBAMA??


Di dunia ini siapa lah yang tidak mengenal Obama. Sosok paling fenomenal sepanjang sejarah kepresidenan Amerika Serikat ini banyak digandrungi oleh masyarakat dunia, termasuk di dunia Islam sekalipun. Pasalnya Presiden kulit hitam pertama AS ini sangat semangat menawarkan perubahan pada masyarakat dunia. Dari pidato-pidatonya pada saat kampanye ataupun pada saat pasca kampanye nampak jelas bahwa keinginannya untuk melakukan satu perubaan amatlah besar. Dan siapa yang mengira bahwa dari pidato-pidatonya tersebut masyarakat dunia ramai-ramai mendukungnya. Tak terkecuali masyarakat Indonesia yang sangat bangga karena ternyata Sang Pemimpin Negera Adidaya itu dulunya pernah tinggal selama 4 tahun di Indonesia. That’s great!! Absolutely great to Indonesian!(what a hell!!>>lol)

Salah satu agenda penting yang dilakukan oleh seorang pemimpin seperti Obama adalah berkunjung ke luar negeri. Kunjungan luar negeri itu biasanya dilakukan dengan agenda khusus, bisa sekedar membahas isu-isu penting yang sedang berkembang ataukah untuk menjalin kerja sama antara negara-negara yang bersangkutan. Pada umumnya, negara yang akan mendapat kunjungan dari seorang Presiden AS sudah pasti merasakan bangga, seolah-olah bagaikan kejatuhan buah durian, seolah-olah itu merupakan satu penghargaan dan kehormatan yang tak ternilai harganya, termasuk bagi Indonesia yang notabene dari dulu sangat mengidolakan profil negara tersebut bahkan sampe “berkiblat” padanya. Tidak disangka dan tidak diduga, Obama pun berniat mau mengunjungi negara sejuta budaya ini. Kunjungan Obama ke Indonesia yang pada awalnya direncanakan tanggal 18 Maret 2010 itu kemudian akan diundur hingga bulan Juni mendatang. Terlihat wajah kekecewaan pada beberapa masyarakat Indonesia, khususnya penduduk sekitar daerah Menteng(daerah yang pernah ditinggali Obama). Lalu, apa pentingnya kita mengkritisi kedatangan Obama ke Indonesia?

Pertama dan yang paling utama, perlu dipahami bahwa kunjungan seorang pemimpin negara(apalagi pemimpin negara adikuasa macam AS) bukanlah sekedar kunjungan layaknya kita berkunjung ke luar negeri yang niatnya hanya sekedar berwisata atau menuntut ilmu. Kunjungan tersebut merupakan salah satu manifestasi dari kebijakan luar negeri yang diambilnya/dianutnya sebagai satu bentuk interaksi politik dengan negara lain. Berdasarkan beberapa teori yang ada, interaksi (dalam ruang lingkup apapun) selalu didasari atas satu atau beberapa kepentingan. Jika posisinya satu negara sebagai negara adikuasa, maka salah satu kepentingannya tidak lain untuk menancapkan dominasinya di negara yang dikunjunginya dengan berbagai deal-deal politik. Dominasinya dalam hal apa, tidak lain hanya untuk “menjejalkan” ide democracy dan meraih simpati masyarakat dunia. Dalam Wikipedia disebutkan tujuan dari “Foreign Policy” atau kebijakan luar negeri Amerika Serikat(AS) sebagai berikut :

“The officially stated goals of the foreign policy of the United States, as mentioned in the Foreign Policy Agenda of the U.S. Department of State, are “to create a more secure, democratic, and prosperous world for the benefit of the American people and the international community”

Terjemahan bebas versi saya (dengan mengambil garis besarnya, tanpa mengurangi rasa sopan terhadap budhe wiki ^_^) , yaitu bahwasanya Amerika ingin menciptakan suatu kondisi yang lebih aman, demokratis, dan menyejahterakan dunia demi keuntungan warga Amerika serta masyarakat dunia.

Pertanyaannya, keamanan yang bagaimana yang ingin diwujudkan oleh Amerika kalau dia saja selalu menggembar-gemborkan isu terorisme di dunia internasional?? Demokratis yang seperti apa yang hendak diwujudkan oleh Negeri Paman Sam itu jika untuknya harus dibayar dengan ribuan nyawa warga Muslim di negeri-negeri seperti Iraq, Afghanistan, dan Pakistan?? Sejahtera ?? ****** (maaf, harus disensor)dengan semua omongannya…sejahtera tapi dengan menghisap darah Negara-negara lainnya(sebut saja Indonesia yang sudah menjadi “cecunguk” sejatinya). Freeport dikuasai, blok cepu dirajai, dan semua kekayaan vital Negara kita dikeruk olehnya. Yang kaya gitu mau kita percaya??

Dari sini, jika ada yang berkomentar demikian(atau yang semisal demikian), “udahlah g usah negat(negative thinking) ma Obama!!”. Bisa diberi komentar, “Sorry ye, gue g negat. Tapi tu fakta yang udah jelas-jelas dipake untuk membodohi kita!”. =)

Kedua, Obama tidak bekerja sendiri, sama sekali tidak. Semua kebijakan luar negerinya tidak bisa diputuskan secara sepihak oleh Obama, namun harus dengan persetujuan dari sebagian anggota Senat (Parlemennya Amerika) yang ada. Jadi, kalau mau berharap pada Obama tak semudah yang kita bayangkan. Tapi konyolnya, masyarakat dunia terlanjur tersihir dengan pesonanya…karena dia pernah tinggal di Indonesia lah, karena namanya Islami lah, karena ini lah itu lah…itu hanya imbas dari hiperbolanya media.

Miris sekali melihat umat Islam jaman sekarang lebih mempercayai omongan orang dari pada mempercayai firman Allah dan sabda Rasul, lebih mempercayai omongan musuh-musuh Islam daripada Firman Allah Swt. Inikah potret umat Islam sekarang? Mau jadi golongan siapa jika pembodohan lewat janji-janji palsu manusia ini terus-menerus diyakini??
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?”(TQS. An-nisaa’ [4]:122).
Dan ancaman Allah semakin nyata dengan ayat ini:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu(Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.(TQS. An- nisaa’ [4]: 65)
Dengan kata lain, jika terjadi sesuatu yang diperselisihkan (misal masalah ekonomi, pun masalah Palestina) dan tidak menjadikan Al-Qur’an dan As sunnah sebagai rujukan untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut, maka bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang dalam tulisan tebal tersebut(wallahu alam,naudzubillah tsumma naudzubillah) , lebih jauh lagi, solusi-solusi yang ada tidak malah menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah, parahnya juga g berbarakah(karena ga sesuai sama syariat Islam)..Dan inilah yang menjadi titik tolak poin ketiga, Obama bertindak bukan karena dia tahu Islam menyebutkan untuk berbuat demikian, tapi dia bertindak berdasar nilai-nilai yang dianggapnya benar. Dengan kata lain, Obama tidak memerintah, memberikan komando, berbicara, dan bertindak atas dasar syariat Islam. Obama bukanlah siapa-siapa bagi umat Islam yang setiap apa yang keluar dari mulutnya(maaf) bisa langsung bisa dipercaya. Semua ucapan, perjanjian, dan kebijakannya tidak bisa dan tidak boleh diambil begitu saja, terlebih melihat status negaranya jika menurut Islam termasuk kafir muharriban fi’lan(jelas-jelas memusuhi Islam).

Wal akhir,dan tidak perlu berpanjang-panjang, silakan dipikirkan dengan seksama, dicermati dengan benar, dan disikapi secara bijaksana atas kedatangan Obama ataupun rencana kedatangannya. Karena bisa dipastikan, jika Obama jadi berkunjung ke Negara Indonesia, maka akan ada kerugian besar-besaran yang hanya akan menambah keterpurukan dan penderitaan masyarakat secara berkesinambungan bahkan bisa sampe 10 turunan. PASTI!! Just believe it or not!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s