kebiasaan anak jaman sekarang: nyontek saat ujian!!


Krisis, krisis, dan krisis. Lagi-lagi hal yang sering dihadapi oleh bangsa ini tidak jauh-jauh dari kata krisis. Tidak untuk krisis dalam segi ekonomi, politik, moral social kemasyarakatan, percaya diri, bahkan lebih parah lagi kriris iman. Krisis iman di setiap lini kehidupan, termasuk salah satu di antaranya adalah krisis iman pada saat ujian. Krisis iman pada saat ujian terjadi manakala pada diri seseorang terjadi “ke-blank-an” atau kekosongan pikiran yang berujung pada mentok dan tak menemukan jawaban yang diharapkan. Masih mending ngawur jawaban dengan mengharap keberuntungan, tapi kalau sudah pada penghalalan segala cara untuk menemukan jawaban yang memuaskan, itu baru namanya ada ketidakberesan.


Disadari atau tidak, penghalalan segala cara untuk meraih nilai bagus saat ujian sudah hampir menjadi adat kebiasaan dalam dunia pendidikan. Pokoknya yang instan-instan, yang cepet-cepet, dan yang gampang-gampang. Kalau tidak contekan ya pake’ cara pemalakan jawaban. Kalau tidak celingukan ya pake’ kode buatan(haha, apa bedanya??). Kalau tidak lihat contekan ya nunggu jawaban dari teman. Itulah yang sangat menyedihkan(tapi herannya kebanyakan orang menganggap ini merupakan sebuah kebiasaan yang patut dilestarikan sebagai manifestasi adanya kesolidan—-keliahatan banget lagi mencari dukungan untuk berbuat kemaksiatan. Heheh..). Parahnya, hal ini tidak berakhir pada penghalalan segala cara saja, tapi juga berujung pada pelegalan dan pemberlakuan beberapa alasan yang terkesan dipaksakan ataupun diada-adakan. Mencontek dengan mempersiapkan separagraf alasan bisa jadi hal yang diandalkan. Contoh: “Hmmm..ini adalah bagian dari mekanisme membahagiakan orang tua. Anaknya dapat nilai bagus kan seneng, bangga, bahagia. Jadi kalau pas ujian g bisa, ya mau tidak mau harus pake trik jitu biar dapat jawabannya. Jaman sekarang harus serba cepat, Bro!!”. Ckckckck….kalau dipikir lagi, mana ada orang tua bangga kalau anaknya dapat nilai bagus dari hasil contekan???

Fenomena seperti itu akhir-akhir ini(atau memang udah dari dulu kacau begini??) memang sering terjadi. Diakui atau tidak, pada faktanya memang demikian. Fenomina tips dan intrik ini makin hari makin digandrungi dan diminati hampir semua kalangan, ya anak-anak SD, SMP, SMA, maupun mahasiswa. adalah kebiasaan mencontek, cheating, menjiplak, bertanya jawaban saat ujian, celingak-celinguk ketika ujian, dan semua yang termasuk derivatnya sudah mendarah daging pada sebagian besar orang. Tidak bisa dipungkiri, cara-cara tersebut merupakan cara yang cukup ampuh untuk mendapatkan nilai bagus, meski tak jarang banyak yang tergelincir dan akhirnya dapat nilai serba minus(minus 10,20, 60, 70..dst). Emang wataknya manusia, sukanya yang enak-enak, sukanya yang gampang-gampang, yang g bikin kepala kliyengan. Membaca segan, hafalan pun enggan, yang ada ujung-ujungnya pada fotocopy perkecil materi ujian. Berikut beberapa kebiasaan “menyedihkan” yang ada di sekitar kita ketika ujian tengah datang:

1. Mencari ilham lewat fotocopian materi ujian(bahasa gaulnya: REPEKAN)
Saya tidak seberapa tau persisnya bagaimana cara mereka mengeluarkan aji-aji terjitunya di tengah pengawasan guru/dosen yang ada. Yang jelas, ada beberapa anak yang masih memakai cara konvensional seperti ini. Katanya, “ini adalah bagian dari usaha. Daripada bertanya!!???”. Ang ing eng,,,…itu mah sama aja!!

2. Mencari jawaban(bertanya-tanya-red) dengan teknik pemalakan ataupun asas kemanfaatan. Kalau anak yang sedang buru-buru biasanya bertanyanya juga dengan nada agak-agak memaksa. Contoh: “Sst, sstt, no 10!!!??????!! Cepet!!”. (udah tanya, maksa-maksa!!). Ada juga yang agak elegan , sedikit mengutamakan kesopanan, dan mereduksi kesan ketololan ataupun keragu-raguan. Contoh : “Eh, no 2 jawabannya A apa C ya??!! Aq bingung nieh!” (ada dua kemungkinan dengan gaya bertanya seperti ini; pertama, dia memang sedang bingung antara 2 pilihan jawaban, kedua dia sekedar ngawur. Seolah-olah bingung dengan 2 pilihan, padahal sebenarnya dia bingung antara semua jawaban. Ke laut aja mas,mbak…!!! ). Kalau yang seperti ini emang susah untuk dianalisis.

3. Lempar-lemparan kertas ataupun membuat pasar komunikasi bebas aktif dengan telepon seluler. Kalau jaman sekarang tidak memungkinkan lempar-lemparan kertas, maka trik canggihnya sms bebas aktif. Bebas ngirim ke siapa saja, aktif ngirim ke siapa saja. Seperti apa caranya, tanyakan saja pada pakarnya…=)

Ada banyak cara menuju Roma (katanya), jadi kalau sudah “blank”, maka itu alternative terakhirnya. Konsep salah dan persepsi salah pun dijadikan acuan perbuatan. “Aq tuh kalo g kerja sama rasanya g enak. G yakin…jangan-jangan jawabanq beda sama jawaban yang lain..entar nilaiq gimana…”. Nilai adalah rizki dari Allah SWT. Satu hal yang harus kita pahami adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk hasil yang akan kita dapatkan, mempersiapkan hati untuk mengikhlaskan semua yang akan kita dapatkan, bukan lantas malah sibuk dengan ketakutan-ketakutan. Untuk yang biasa seperti ini, maka cukup perhatikan hadist berikut:

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Jika pada saat contek-contekan, kemudian ajal datang….apa yang akan kita jadikan jaminan??? Amal perbuatan yang full dengan kemaksiatan?? Naudubillahi min dzalik…

Allah SWT berfirman dalam KalamNya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(TQS Al-Maidah [5] : 2).

Ayat ini ditujukan untuk semua yang masih suka berdalih, “Kan tolong menolong itu baik. Lagian g tega. Masa sama teman aja pake’ perhitungan segala??!!”

Masih mau kompromi dengan bekerjasama dalam kemaksiatan demi mendapat nilai lebih di mata manusia??? Nanti rasakan sendiri akibatnya,=D

Hidup, mati, jodoh, dan nilai merupakan suatu hal yang sudah menjadi ketentuanNya. Jadi kenapa kita berpusing-pusing ria menakutkannya dan menghabiskan waktu untuk memprediksi/mengira-ngiranya?? Mau jadi gila dan gelisah karenanya??
Seorang muslim, harusnya selalu focus dengan tujuannya melakukan sesuatu dan focus pada keoptimalannya dalam mewujudkan tujuannya, tidak untuk menyibukkan diri dengan apa yang sudah jadi ketetapanNya.

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (TQS. At-Taubah [9] : 51).

Kita sudah mengikrarkan diri untuk menjadikanNya satu-satunya Zat yang patut disembah. Pun menjadikanNya sebagai satu-satunya Zat yang maha memberi, lalu kenapa kita masih meragukan ke-pemurahanNYa?? Kenapa kita masih suka krisis kepercayaan padaNya?? Lalu di mana iman kita kepadaNya?? Kenapa kita lebih suka minta bantuan dan pertolongan dari selaiNYa??

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal”. (TQS. Ali Imran[3] :160).

Selanjutnya, hidup adalah pilihan. Penetapan pada satu pilihan meniscayakan adanya keberanian. Keberanian memilih satu pilihan menuntut seseorang untuk berani dengan semua konsekuensi dan risikonya. Mau jadi pemenang dengan cara contekan(selanjutnya sebut pecundang), atau mau jadi penakluk ujian dengan mental pemenang—apapun hasilnya!??

Tulisan ini bukan bermaksdu menyindir atau tertuju pada pihak-pihak tertentu,,,jika ada kesamaan pernyataan mohon dimaafkan..
Semoga bisa bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s