Sinetron dan Hikmah yang Bisa Dipetik


Ada sebuah cerita unik dari pengalaman saya menonton sinetron(hehe, akhirnya ngaku juga. Normal bukan?? Saya toh akhwat biasa yang kadang suka bosen kalau lagi g ada pekerjaan yang berarti. Jadi dari pada menyendiri dan nglamun sendiri, mending nonton tipi…hihihi…yang ini g usah ditiru!!).

Begini ceritanya…..
Dalam sebuah sinetron BCL(Bayu Cinta Luna-red)-ada yang pernah nonton g ya??-, salah satu tokoh yang bernama Krisna yang dulunya jahat bin bejat, memutuskan untuk bertobat(dalam ceritanya sih gitu, bejatnya seberapa parah, saya g seberapa tahu. Yang jelas ceritanya seperti itu). Ketika dia jatuh cinta pada seorang cewe’(cewe’ ini dulunya pernah disakitinya), cewe’ ini menolak habis-habisan. Kenapa?? Karena tuh cewe’ udah pernah trauma dengan si Krisna. Singkat cerita(biar g ngantuk), Krisna berupaya keras untuk mendapatkan cewe’ itu(whatever it takes dah. Soalnya saya liat dia sampai berani mukul orang lain yang juga mencoba mendekati tuh cewe’). Nah, karena upayanya itu tidak kunjung berhasil, dia sangat kesal dan berkata,” Susah banget sih mau jadi baik. Kenapa semua orang tidak percaya dengan aku!? Tahu begitu, mending aku jadi orang jahat aja!”(ya jahat aja sana, gitu aja koq repot..)

Hmm…saya cekikikan mendengar celetukan tokoh itu. Secara, dari dulu itu kalau mau jadi orang baik emang selalu susah. Nih orang hidup di abad ke berapa ya?? Xixixi….=), lagi-lagi, hidup ini serba pilihan!

Life is always series of choices.

Hidup itu pilihan!! Mau jadi jahat, bejat, atau baik hati itu juga merupakan pilihan tersendiri bagi tiap orang. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam KalamNya,

“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)”. (TQS. Al-Balad: 10).

“….lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang taqwa”. (TQS. Asy- Syams[91]: 8)

Manusia selalu dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang ada dihadapannya?? Iya, memang. Akan selalu ada pilihan untuk manusia, dan harus ada salah satu pilihan yang ditetapkan. Karena tidak mungkin orang menetapkan dua pilihan dalam sekali waktu, tidak akan bisa! Justru yang ada dia tidak akan bisa focus dan optimal dalam pilihannya(bayangin aja kalau kita memutuskan mau makan sambil belajar, belajar g masuk otak. Bisa-bisa malah, makanan yang awalnya mau masuk mulut, malah masuk hidung).

Sampai kapan kita akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan itu?? Sampai kapan pun, selama nyawa masih bersatu dengan raga, selama akal dan naluri masih ada dalam diri, dan selama Allah masih menghendaki. Wallahu ‘alam bi ash shawab.

Pilihan tidak hanya dihadapkan pada tokoh yang bernama Krisna tadi, tapi juga kita seluruh manusia yang notabene sering dijuluki, diunggul-unggulkan, dielu-elukan, dibangga-banggakan karena satu potensi unik yang dimilikinya, yang tidak setiap makhluk ciptaanNya dianugerahi dengannya, yaitu potensi yang berupa akal. Dengan akal ini manusia bisa memilih dan memilah, entah yang baik atau yang buruk, menimbang sesuatu apakah pantas dilakukan atau tidak, dsb. Dengan potensi ini pula, manusia bisa menemukan jalan kebenaran yang berupa Islam, yang tidak ada jalan yang paling lurus selainnya
Dari sini, sebenarnya kita patut berbangga diri dengan apa yang sudah Allah anugerahkan pada kita manusia. Bukan berarti bangga lantas berlagak dan menuhankan akalnya, tapi bangga dengan mengekspresikannya melalui serangkaian ibadah kepadaNya.

Hidup itu pilihan(termasuk mau menjadikan sebuah aktivitas mubah layaknya FB sebagi rutinitas yang g bermanfaat ataukah sebaliknya. Penting g penting itu mungkin masih bisa dikatakan relatif, tapi mau menjadikan FB sebagai sebuah aktivitas yang bermanfaat atau tidak, itu merupakan pilihan secara mutlak!). Itu sebuah konsekuensi yang harus kita jalani ketika kita dilahirkan sebagi manusia yang berakal. Sebuah potensi yang tak terkira dahsyatnya…

Make Islam as the Best Standart for Everything, nothing else!!!

Allah telah memberikan sebuah potensi pada manusia untuk memilih melalui akal yang dimilikinya. Tapi….patut diingat, Allah itu tidak sekedar menciptakan akal terus dibiarkan saja penggunaan dan pemanfaatannya sesuka perutnya manusia. Allah, Al-Khaliq wal Mudabbir (Pencipta sekaligus Pengatur) segala kehidupan, jelas menurunkan standar sendiri sebagai syarat dan criteria terhadap apa yang akan dipilihnya. Singkat kata, Allah sudah menentukan mana yang seharusnya dipilih, mana yang seharusnya tidak dipilih berdasarkan standar tertentu yang berupa Islam. Kita hanya diwajibkan untuk mengikuti peraturan dalam “permainanNya”…
Allah SWT sudah beretorika dalam Qur’an,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”(TQS. Al-Maidah[5] : 49).

Ayat tersebut secara tersirat telah menunjukkan dengan apa seharusnya kita berhukum, memutuskan sebuah pilihan ataupun manjatuhi hukum pada hal-hal tertentu. Allah juga mewajibkan manusia menjadikan Islam sebagai poros hidupnya, sebagai jalan hidupnya, sebagai “the way of life”nya.
Rasulullah bersabda,” Ingatlah, sesungguhnya poros Islam selau berputar, maka berputarlah sebagaimana ia berputar” (HR. Thabrani).

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (TQS. Al- Jaatsiyah[45]:18)

Sebenarnya telah jelas apa yang seharusnya diikuti dan apa yang seharusnya tidak diikuti, tapi kebanyakan dari manusia selalu mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang hendak dilakukannya ataupun apa yang sudah dilakukannya. Mereka lebih suka memilih apa-apa yang menurutnya mudah dan diterima oleh kebanyakan orang, lebih memilih yang enak, yang sesuai dengan keinginannya. Astaghfirullah

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (TQS. Al-Maidah[5]:49).
Bukanlah kebenaran didasarkan pada standar keinginan dan pemikiran manusia yang selalu berbeda pada tiap individunya, sehingga apa yang menurut orang ini benar, bisa jadi salah menurut orang lain. Standar kebenaran yang saat ini tengah mengalami bias/kerancuan tersendiri bagi bangsa ini hingga menyebabkan kerusakan di mana-mana . Mulai dari kasus ekstasi sampai kasus Century. Mulai dari kasus amoral hingga kasus global dst. Lagi-lagi ironi untuk negeri ini. Sungguh, kapan bangsa ini mau berbenah diri??
Maka tidak heran kalau bangsa ini sering ditimpa musibah. Sebagaimana firman Allah dalam Quran,

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaanitu”.(al-mu’minun[40]:71

“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab[776]. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”.(Ar-Ra’d[13] : 37)
…semoga bisa diambil pelajaran bagi semua. Manusia bisa mulia karena akalnya, tapi juga bisa terhina karena akalnya yang tidak terstandarkan pada SyariatNya..

Wallahu alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s